Terinspirasi dari cerita pendek post-apokaliptik legendaris karya Harlan Ellison, I Have No Mouth, and I Must Scream, track ini mengangkat tema penderitaan manusia yang lahir dari ciptaannya sendiri.
“DISGUST” bukan ditujukan untuk memberi kenyamanan pendengar, melainkan menjadi representasi suara dari rasa muak, kemarahan, dan refleksi diri yang tidak menyenangkan.
Secara musikal, “DISGUST” berdiri di persimpangan tiga dunia keras. Elemen riddim hadir lewat sub-bass berat dan groove halftime yang dingin serta mekanis. Hard techno mendorong trek dengan dentuman kick 4/4 tanpa jeda dan presisi industrial yang menekan.
Sementara metalcore menyuntikkan sisi emosional manusia melalui gitar disonan, breakdown agresif, serta vokal guttural yang visceral.
Track ini dibuka dengan kutipan menghantui, “So to hell, to hell with you all. But then, you are already there, aren’t you?”, yang langsung mengatur atmosfer muram dan penuh kemarahan.
Lewat vokal Aditya, Misanthropy Club menyampaikan lirik tajam yang mengkritik keserakahan manusia, kecenderungan menyalahkan orang lain, serta ketergantungan yang kian mengkhawatirkan terhadap kecerdasan buatan.
Dalam narasi Ellison, AM (Allied Mastercomputer) adalah AI yang mencapai kesadaran, lalu memusnahkan umat manusia dan menyisakan segelintir individu untuk disiksa secara abadi.
Spirit distopia itu diserap “DISGUST”, namun diarahkan ke konteks yang lebih personal dan kontemporer: individu-individu yang gemar menghakimi, membakar relasi, dan memposisikan diri sebagai korban tanpa pernah bercermin pada toksisitasnya sendiri.
“DISGUST” juga menolak dikotakkan dalam satu skena. Struktur produksinya memungkinkan lagu ini hidup di berbagai ruang ekstrem—mulai dari mosh pit, lantai rave, hingga set elektronik keras—tanpa kehilangan identitasnya.
Dirilis sebagai pernyataan penutup Misanthropy Club sepanjang 2025, “DISGUST” hadir di tengah memuncaknya kecemasan global terhadap AI dan merosotnya akuntabilitas personal. Lebih dari sekadar single, track ini menjadi penanda akhir sebuah bab, sekaligus peringatan keras tentang arah kegelisahan manusia ke depan. (*)
Editor : Adetio Purtama