KRNT merupakan program rutin Komunitas Seni Nan Tumpah yang telah berlangsung sejak 2017. Program ini dirancang sebagai ruang dialogis antara seni dan masyarakat, dengan harapan seni dapat hadir dan tumbuh bersama konteks sosial serta lingkungan tempat ia berpijak.
Edisi ke-10 kali ini hadir dalam suasana yang berbeda, ketika bencana masih membekas dan pertanyaan tentang relasi manusia dengan alam kembali mengemuka.
Pada KRNT #10, publik diajak menyimak pameran bertajuk ”Rukun Paksa/Berakit-rakit ke Hulu, Tinggal di Genangan”, sebuah presentasi tunggal pertama dari kolektif Silotigo yang beranggotakan Imam Teguh Sy, Olimsyaf Putra Asmara, dan Boy Nistil.
Ketiganya merupakan seniman asal Sumatera Barat yang pertama kali bertemu dalam kerja artistik pada program Kaba Rupa Galanggang Arang, sebelum kemudian melanjutkan kolaborasi hingga hari ini.
Menurut Mahatma Muhammad, kurator pameran, tema yang diusung Silotigo berangkat dari respons terhadap kondisi ekologis Sumatera Barat. Air yang menggenangi kawasan tidak semata dimaknai sebagai kekuatan yang menghanyutkan material, tetapi juga sebagai penanda dan pencatat dampak alih fungsi lahan, penggundulan hutan, pengerukan, serta tata ruang yang mengabaikan pertimbangan ekologis.
“Banjir mengingat dan mencatat. Ia menyimpan jejak dari keputusan-keputusan manusia terhadap alam,” ujar Mahatma.
Sekretariat Komunitas Seni Nan Tumpah sendiri berada di tengah lanskap tersebut. Terletak di Perumahan Bumi Kasai Permai, kawasan yang dibangun sejak 1996 dan mulai ramai dihuni pada 1998, wilayah ini sejak awal tidak pernah benar-benar bebas dari banjir.
Genangan telah menjadi bagian dari pengalaman kolektif warga, menyertai sejarah pemukiman dan membentuk ingatan bersama.
Selama satu bulan, kolektif Silotigo menjalani masa residensi di lokasi tersebut. Ruang kerja mereka menyatu dengan ruang hidup warga, dengan fasilitas terbatas dan kondisi yang kerap berubah.
Dalam situasi ini, seni tidak diposisikan sebagai aktivitas terpisah, melainkan sebagai medium perjumpaan. Karya-karya yang dihasilkan lahir dari material sisa dan limbah yang ditemukan di sekitar lokasi, serta merespons langsung ruang-ruang warga, mulai dari dinding rumah hingga gudang penyimpanan.
Mahatma menegaskan bahwa kehadiran Silotigo tidak dimaksudkan sebagai pembawa solusi atau pemberi nilai. “Mereka hadir sebagai tamu yang perlu membaca situasi sosial, memahami batas, dan menyesuaikan diri dengan ritme kehidupan warga,” katanya.
Bagi Mahatma, krisis lingkungan hari ini berakar dari cara pandang yang memisahkan alam menjadi bagian-bagian yang bisa dieksploitasi, memutus relasi hulu dan hilir, serta mengabaikan pengetahuan lokal yang selama ini hidup di tengah masyarakat.
Dukungan terhadap kegiatan ini datang dari warga sekitar. Anton, Ketua RT 4 di lokasi sekretariat Nan Tumpah, menyampaikan bahwa masyarakat menyambut baik kehadiran kegiatan seni di lingkungannya.
Rumah Anton sendiri menjadi salah satu ruang yang dimural oleh ketiga seniman residensi. “Kami dan seluruh tokoh masyarakat mendukung kegiatan ini. Harapannya, kegiatan seni bisa memperkuat kekompakan dan rasa peduli antar warga,” ujarnya.
Bagi Boy Nistil, perupa asal Solok dan anggota Silotigo, penggunaan material limbah merupakan pilihan sadar dalam proses berkarya. Seni, menurutnya, memiliki kemampuan untuk mengubah benda-benda yang sebelumnya dianggap tak bernilai menjadi sesuatu yang bermakna.
Pengalaman bekerja secara kolektif dan berbaur dengan warga bukan hal baru baginya, mengingat ia juga mendirikan kolektif seni rupa Kaday Loket di Solok. Tantangan terbesar selama residensi di Padang Pariaman justru datang dari kondisi cuaca, dengan suhu harian yang berkisar antara 30 hingga 32 derajat Celsius.
Pengalaman serupa dirasakan Imam Teguh Sy, seniman Silotigo yang berdomisili di Padang Panjang. Ia menyebut suhu sebagai salah satu tantangan fisik selama residensi.
Namun, interaksi dengan warga telah menjadi bagian dari praktik artistiknya. Proses berkarya berlangsung di ruang hidup masyarakat, di tengah kehadiran anak-anak Kelana yang mengikuti kelas seni, serta percakapan dengan warga lanjut usia yang kerap mempertanyakan aktivitas mereka dan makna di balik nama Silotigo.
Sementara itu, Olimsyaf Putra Asmara menjelaskan bahwa pameran ini akan menampilkan karya individual masing-masing perupa, sekaligus karya kolaboratif yang lahir selama masa residensi.
Selama tujuh hari pelaksanaan pameran, ketiga perupa Silotigo juga akan melakukan live painting di atas kanvas berukuran besar yang dipasang di halaman Ruang Temu Nan Tumpah.
Selain pameran, Silotigo juga diminta untuk merespons lagu Kelana dalam bentuk visual. “Nan Tumpah secara khusus meminta kami bertiga membuat sampul visual lagu Kelana. Setiap hari lagu itu kami putar berulang-ulang saat bekerja untuk meresapi semangatnya,” tutur Olim.
Rangkaian Ke Rumah Nan Tumpah #10 turut menghadirkan Zona (Ny)Aman Seni, sebuah presentasi hasil belajar semester kedua Kelana Akhir Pekan yang berlangsung sejak Oktober 2025 hingga Februari 2026.
Sebanyak 56 anak dari sekitar sekretariat Komunitas Seni Nan Tumpah terlibat dalam gelar karya ini. Selama satu semester, mereka mengikuti kelas silek, seni rupa, musik, tari, teater, hingga menulis kreatif. Kegiatan ini akan menampilkan pertunjukan siswa, pameran karya, serta peluncuran buku fiksi karya siswa Kelana.
Selama tujuh hari pelaksanaan, KRNT #10 juga menghadirkan berbagai penampil dan komunitas, di antaranya Bandar Kertas Buram, Sanggar Museum Parang Sintuak, Komunitas Kiraiku Nan Jombang, Obe jo Gogo, dan Komunitas Laguna Nusantara. Selain itu, digelar pula tur dan diskusi pameran Silotigo, pelatihan kriya berbahan limbah, peluncuran lagu Kelana, serta pemutaran film.
Rangkaian kegiatan dimulai pada 7 Februari 2026 dengan pembukaan KRNT #10, pertunjukan Sanggar Museum Parang Sintuak dan Bandar Kertas Buram, serta pembukaan tur pameran Silotigo.
Pada 8–12 Februari, kegiatan diisi dengan live painting, tur pameran, pelatihan kriya limbah, dan pemutaran film. 13 Februari menjadi momentum pembukaan gelar karya Kelana Akhir Pekan, disertai pertunjukan kelas musik, tari anak, dan silek. Sementara 14 Februari 2026 menandai penutupan KRNT #10 dengan rangkaian pertunjukan seni dari berbagai komunitas dan kelas.
Di tengah genangan yang tak pernah benar-benar pergi, Ke Rumah Nan Tumpah #10 menghadirkan seni sebagai ruang tinggal—tempat ingatan, keresahan, dan harapan dirawat bersama. (*)
Editor : Adetio Purtama