Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Jordansson: Usung Dirty Reggae, Hadirkan Sound Keras dan Satir

Adetio Purtama • Sabtu, 21 Februari 2026 | 10:51 WIB

Personel band dirty reggae asal Sumbar, Jordansson (belakang ki-ka) Sendy, Bojher, Cikal. (depan ki-ka) Abid, Pii, Komeng.
Personel band dirty reggae asal Sumbar, Jordansson (belakang ki-ka) Sendy, Bojher, Cikal. (depan ki-ka) Abid, Pii, Komeng.
Satu lagi warna baru lahir dari skena musik Jamaika di Sumatera Barat. Jordansson, supergrup yang dihuni sejumlah musisi reggae lintas band di Ranah Minang, kini tengah mempersiapkan album perdana dalam format fisik setelah lebih dari dua tahun bergerak sejak awal 2023. Seperti apa perjalanan bermusiknya?

Laporan ADETIO PURTAMA, Padang—

Jordansson, yang merupakan singkatan dari “jorok dan satire sound”, dibentuk sebagai wadah kolektif bagi para pemain musik Jamaika yang ingin menghadirkan pendekatan berbeda dari arus utama reggae.

Formasi awalnya terdiri dari Bojher (eks Lado Merah) pada vokal, Sendi Seni (Free Sound) pada gitar, Remond (Hototo) pada bass, Aqil (Rostery), serta Awe (Ready Steady).

Sejak terbentuk, mereka langsung bergerak produktif dengan merilis tiga single, yakni ACAB, Monkey G, dan Not Soldier. Dalam proses penggarapan karya-karya tersebut, Jordansson turut dibantu sejumlah musisi reggae Sumbar lainnya seperti Ray (Free Sound), Albani (Rules Eighteen), Cacing dan Hakim (Guava Jelly) untuk mengisi beberapa instrumen.

Kini, menjelang pengerjaan album, komposisi personel mengalami penyegaran. Formasi terbaru diperkuat oleh Bojher (vokal), Sendi Seni (gitar), Ray yang resmi bergabung di gitar, Remond (bass), Abid (keyboard), serta Komeng (drum). Formasi ini disebut sebagai komposisi paling solid dalam proses kreatif menuju rilisan penuh pertama mereka.

Salah seorang personel Jordansson, Bojher kepada Padang Ekspres bercerita, berbeda dari kebanyakan band reggae yang mengedepankan pesan damai dengan balutan musik santai, Jordansson justru mengusung konsep yang mereka sebut sebagai dirty reggae.

Menurutnya, istilah tersebut menjadi identitas musikal mereka, lirik lugas tanpa basa-basi, satir, bahkan vulgar, dengan karakter sound yang kasar, keras, dan berat.

Nama Jordansson sendiri dipilih karena dianggap merepresentasikan sikap bermusik mereka yang menolak stereotip. Mereka ingin menghadirkan attitude baru dalam skena Jamaican music di Sumatera Barat, baik dari sisi musikalitas maupun pesan yang dibawa.

Ketika ditanya soal pengaruh musik, Bojher menyebut para personel sepakat tidak menyebutkan satu atau dua nama tertentu sebagai referensi utama. Menurut mereka, setiap anggota membawa pengaruh dan preferensi musik masing-masing yang kemudian melebur menjadi identitas kolektif Jordansson.

Tantangan Berkarya di Sumatera Barat

Berjalan sebagai band independen di Sumatera Barat bukan perkara mudah. Jordansson mengakui keterbatasan ekosistem, jaringan, hingga infrastruktur musik menjadi tantangan tersendiri dalam mewujudkan karya, terlebih dalam format fisik.

“Merilis karya fisik bukan hal mudah di sini. Mudah diucapkan, tapi sulit diwujudkan dengan segala keterbatasan yang ada,” ungkap Bojher.

Meski belum memiliki banyak panggung, setiap penampilan Jordansson disebut selalu berkesan. Mereka memaknai setiap gigs sebagai ruang perayaan karya sendiri, sekaligus ajang mempererat jejaring dengan sesama pelaku musik lokal.

Bagi Jordansson, perhatian dari komunitas dan pelaku musik di Sumbar menjadi energi positif. Dukungan volunteer dan komunitas dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan ekosistem musik independen di daerah.

Sikap terhadap Era Digital

Di tengah derasnya arus digitalisasi, Jordansson tidak menutup diri terhadap perkembangan zaman. Mereka memandang modernisasi sebagai kemajuan yang memudahkan distribusi dan promosi karya. Namun demikian, mereka tetap meyakini bahwa rilisan fisik memiliki nilai lebih.

“Bentuk fisik adalah mahkota karya,” demikian prinsip yang mereka pegang. Album fisik, menurut mereka, bukan sekadar produk, melainkan warisan yang meninggalkan jejak nyata bagi pendengar yang benar-benar mengapresiasi karya tersebut.

Karena itu, fokus utama Jordansson saat ini adalah menyelesaikan proses rekaman album hingga benar-benar terwujud dalam bentuk fisik, lengkap dengan merchandise dan atribut pendukung lainnya. Mereka juga merencanakan showcase sederhana sebagai perayaan rilisan, serta tur komunitas skala kecil di sejumlah kota di Sumatera Barat.

Mimpi untuk tampil di luar daerah, menjelajahi panggung lintas provinsi bahkan nasional, tetap tersimpan dalam catatan perjalanan mereka. Namun untuk saat ini, Jordansson memilih fokus menyelesaikan “amunisi” karya sebelum melangkah lebih jauh.

Dengan semangat kolektif dan identitas dirty reggae yang kuat, Jordansson menjadi salah satu wajah baru yang memberi warna berbeda dalam dinamika musik reggae Sumatera Barat. (*)

Editor : Adetio Purtama
#satir #musisi #Dirty Reggae #keras #Jordansson #sumbar