Laporan ADETIO PURTAMA, Padang—
Souffrance terbentuk dari lingkar pertemanan personel band eksperimental elektronik/metal Misanthropy Club asal Padangpanjang dan proyek one-man black metal Soulless dari Padang. Ide awalnya muncul secara mengalir saat para personel kerap berkumpul dan berbagi referensi musik skramz/emotive hardcore pada 2020.
Dari sesi nongkrong tersebut, muncul keinginan untuk mencoba memainkan lagu-lagu bergenre serupa dalam sesi jamming di studio. Merasa cocok dengan nuansa (vibe) serta pesan emosional yang dibawa, mereka sepakat melanjutkan Souffrance sebagai proyek musik yang lebih serius.
Pada awal pembentukan, Souffrance digawangi tiga personel, yakni Adit (Misanthropy Club, Digital Parasite) sebagai vokalis, Rivan (Soulless) gitaris dan vokalis latar, serta Dewa (Misanthropy Club) di posisi drummer.
Seiring waktu dan kebutuhan tampil secara lebih matang di panggung, formasi diperluas dengan masuknya Avin (Misanthropy Club) sebagai bassis, Raka (Misanthropy Club) kibordis, dan Jorgie (Left Behind) di posisi gitaris.
Formasi enam personel ini bertahan hingga saat ini dan memperkaya aransemen musik Souffrance yang semakin kompleks dan emosional.
Nama Souffrance berasal dari bahasa Prancis yang berarti “penderitaan”. Ide tersebut datang dari Adit. Sebelumnya sempat muncul opsi nama “Itami” dari bahasa Jepang yang memiliki arti serupa, namun dianggap kurang relevan dan tidak cukup kuat sebagai identitas.
Pemilihan nama Souffrance mencerminkan pesan utama band, yaitu sisi melankolis kehidupan manusia—tentang luka, kehancuran diri, dan proses merana yang disajikan secara jujur dan mentah (raw). Presentasi musik mereka memang terasa “menyakitkan”, dengan scream intens dan dinamika emosional yang kuat.
Vokalis Souffrance, Adit kepada Padang Ekspres, bercerita sejak awal, Souffrance konsisten mengusung benang merah skramz/emotive hardcore. Genre ini dinilai sudah jarang dimainkan di Sumatera Barat, meskipun sebelumnya sempat hadir pergerakan serupa lewat band seperti Emmahaven dan When I Despair.
Souffrance ingin memperkenalkan kembali warna tersebut kepada audiens lokal. Bagi mereka, skramz adalah medium paling jujur untuk mengekspresikan kegelisahan dan kesedihan.
Dalam bermusik, mereka terinspirasi oleh band-band seperti Life, Ostraca, dan Letters to Catalonia. Namun pengaruh mereka tidak berhenti di sana. Seiring bertambahnya personel, referensi musik turut meluas ke ranah blackgaze, melodic hardcore, post-rock, ambient, hingga old school metalcore.
Diskografi: Tiga Single dan Album Perdana
Sejak berdiri, Souffrance telah merilis tiga single. Di antaranya Embrace (2021), As Our Stars Collide (2022), dan Invisible Wounds feat Tomo eks-Rekah (2024). Pada 2026, mereka merilis album penuh pertama bertajuk To Grieve Deeply, is to Have Loved Fully. Album ini menjadi tonggak penting perjalanan mereka setelah enam tahun berkarya.
Seluruh komposisi lagu dikerjakan secara kolektif oleh para personel, sementara konsep cerita dan lirik banyak berasal dari pengalaman pribadi Adit sebagai vokalis dan penulis. Lirik Souffrance sarat metafora dan referensi kultur pop, dengan pendekatan yang emosional dan ekspresif.
Tantangan: Edukasi Audiens Lokal
Tantangan terbesar Souffrance adalah membangkitkan minat audiens Sumatera Barat terhadap skramz yang belum begitu familiar. Mereka menyadari bahwa genre ini tergolong niche dan membutuhkan proses edukasi serta konsistensi.
Meski demikian, mereka tetap aktif tampil di berbagai kota di Sumatera Barat, seperti Padang, Bukittinggi, dan Lubukaalung. Salah satu momen paling berkesan adalah saat tampil di acara November Rain di Menace Space pada 2022. Ketika itu, mereka baru merilis single Embrace, namun penonton ikut menyanyikan bagian sing along secara massal hingga naik ke panggung—momen yang mereka sebut terasa “sureal”.
Souffrance juga sempat mendapat undangan tampil saat band luar negeri seperti Nuvolascura (AS) dan Blind Girls (Australia) menjalani tur di Pulau Jawa. Namun keterbatasan dana membuat mereka belum bisa bergabung dalam kesempatan tersebut.
Sikap terhadap Platform Digital dan Rilisan Fisik
Souffrance mengakui platform digital sangat membantu promosi karya musisi. Namun mereka menekankan pentingnya kehadiran nyata di panggung, attitude, dan jejaring pertemanan di dunia nyata.
Mengenai rilisan fisik seperti kaset dan piringan hitam, mereka menilai format tersebut masih relevan. Selain margin keuntungan yang lebih baik dibanding pembagian royalti streaming, kualitas audio rilisan fisik juga dianggap lebih optimal dibanding versi digital yang telah terkompresi.
Skena Musik Sumbar dan Harapan ke Depan
Menurut Souffrance, skena musik Sumatera Barat kini jauh lebih terbuka dibanding masa lalu yang identik dengan elitisme dan pengkotak-kotakan genre. Meski begitu, panggung berskala besar dinilai masih cenderung selektif dan kurang berani mengangkat musik niche.
Mereka menilai musisi Sumbar memiliki kualitas materi dan performa yang baik, namun masih perlu menemukan identitas unik agar mampu menembus pasar nasional. Menurut mereka, meniru formula band yang sudah sukses bukanlah strategi jangka panjang.
Ke depan, Souffrance akan fokus mempromosikan album perdana mereka. Namun mereka juga telah menyiapkan materi baru, termasuk rencana kolaborasi dengan seorang vokalis perempuan dari Pulau Jawa yang memiliki warna musik sejalan dengan Souffrance. (*)
Editor : Adetio Purtama