Laporan ADETIO PURTAMA, Padang—
Zitirisme lahir dari pertemanan sejumlah mahasiswa baru yang memiliki kesamaan minat terhadap musik. Meski datang dari latar belakang berbeda, mereka menemukan titik temu melalui kecintaan terhadap musik dan keinginan untuk bermain dalam sebuah band.
Kepada Padang Ekspres mereka bercerita, awalnya personel, Raihan dan Shaddiq sudah saling mengenal lebih dahulu. Sementara itu, Prima, Reza, dan Majon juga telah memiliki hubungan pertemanan sebelumnya. Dari pertemuan santai atau nongkrong bersama yang diinisiasi oleh Shaddiq, muncul ide untuk membentuk sebuah band.
Proses pembentukan band dimulai ketika gitaris Raihan mengajak Shaddiq yang menjadi vokalis untuk membuat grup musik. Keduanya kemudian sepakat mencari personel lain hingga terbentuklah formasi lengkap Zitirisme yang terdiri dari Raihan sebagai lead guitar, Prima sebagai rhythm guitar, Shaddiq sebagai vokalis, Reza sebagai drummer, serta Majon sebagai bassist.
Nama Zitirisme sendiri dipilih karena dianggap merepresentasikan sebuah filosofi atau cara pandang baru dalam bermusik. Ide nama tersebut muncul dari Raihan ketika para personel berdiskusi mencari identitas band.
“Menurut kami, Zitirisme seperti sebuah kata baru yang bisa menggambarkan karya-karya yang ingin kami buat,” ujar para personel band tersebut.
Sejak awal berdiri, Zitirisme sepakat mengusung genre rock sebagai identitas musikal mereka. Meski masing-masing personel memiliki selera musik yang berbeda, mereka merasa tetap berada dalam satu lingkup yang sama, yaitu rock dan alternative rock.
Beberapa band internasional yang menjadi pengaruh musikal bagi Zitirisme antara lain Led Zeppelin, Queens of the Stone Age, hingga The Datsuns. Band-band tersebut menjadi referensi penting dalam proses kreatif mereka, baik dalam penciptaan lagu maupun dalam membangun karakter musik.
Pada 2026 ini, Zitirisme resmi merilis album perdana bertajuk Midnight Teenage Noise. Album tersebut berisi 9 lagu, yakni Barfight, The Super Spectrum, Spirit of Us, The Forest, Eternal Vow, Track 06, Asphalt to Valhalla, O’ Glutton Pigs, dan Paper Goes Right to The Pocket.
Dalam proses penciptaan lagu, Zitirisme mengangkat berbagai tema yang beragam. Mulai dari pengalaman pribadi, kritik sosial, hingga isu spiritual. Selain itu, beberapa lagu juga terinspirasi dari cerita yang mereka temui di lingkungan sekitar.
Meski demikian, Zitirisme mengakui bahwa tantangan terbesar bagi band rock di Sumatera Barat adalah masih terbatasnya peminat musik rock, terlebih bagi band yang membawakan lagu berbahasa Inggris.
“Kurangnya peminat rock dan penggunaan bahasa Inggris dalam lagu memang masih cukup jarang ditemukan di Sumbar,” ungkap mereka.
Sejak aktif bermusik, Zitirisme tercatat telah tampil di 9 panggung pertunjukan musik yang semuanya berlangsung di Kota Padang. Dari sejumlah penampilan tersebut, dua panggung yang paling berkesan bagi mereka adalah acara Pekan Raya Visual DKV Universitas Negeri Padang (UNP) dan Night Music Sasing Universitas Andalas (Unand).
Para personel juga menilai perkembangan teknologi digital memiliki dua sisi bagi musisi. Di satu sisi, platform digital memudahkan distribusi karya kepada pendengar yang lebih luas. Namun di sisi lain, kebiasaan pendengar yang hanya memilih beberapa lagu saja membuat konsep album sering tidak dinikmati secara utuh.
Selain itu, mereka menilai tren menikmati musik saat ini lebih banyak dilakukan melalui platform digital di ponsel, sementara media fisik seperti piringan hitam dan kaset cenderung menjadi koleksi bagi penggemar tertentu.
Di tengah perubahan tersebut, Zitirisme melihat perkembangan skena musik di Kota Padang mulai menunjukkan kemajuan. Berbagai genre seperti punk, hardcore, metal, hingga reggae mulai tumbuh dan memberikan banyak pilihan bagi penikmat musik.
“Untuk saat ini gigs di Padang mulai berkembang, baik dari sisi musisi maupun dari jangkauan penontonnya,” kata mereka.
Ke depan, Zitirisme berharap skena musik di Sumatera Barat semakin berkembang dengan meningkatnya minat masyarakat untuk menghadiri konser atau gigs musik. Mereka juga berharap muncul lebih banyak dukungan bagi para musisi lokal yang telah berkarya.
Untuk proyek berikutnya, Zitirisme berencana menghadirkan konsep musik yang lebih personal melalui pendekatan human touch. Mereka ingin menciptakan karya yang lebih mentah, jujur, minimalis, dan terasa lebih hidup dibandingkan album pertama.
Di tengah maraknya penggunaan kecerdasan buatan dalam produksi musik, Zitirisme justru ingin menekankan pentingnya sentuhan manusia dalam berkarya. “Human error itu tidak apa-apa. Justru itu yang membuat karya terasa hidup,” ungkap mereka. (*)
Editor : Adetio Purtama