Lagu Kelana ditulis dan diciptakan oleh Mahatma Muhammad. Karya ini merekam semangat kebersamaan, kebebasan berekspresi, serta imajinasi anak-anak yang tumbuh melalui kegiatan seni yang berlangsung di Ruang Temu Nan Tumpah.
Melalui lagu tersebut, Komunitas Seni Nan Tumpah menggambarkan bagaimana seni dapat menjadi ruang bermain, belajar, sekaligus menjelajahi pengalaman baru bagi generasi muda di Nagari Kasang, Batang Anai.
Sebagian lirik lagu tersebut menggambarkan semangat eksplorasi dan kebebasan berekspresi yang dirasakan para peserta program Kelana Akhir Pekan.
“kita kelana nyanyikan bumi
di kanvas langit
di tubuh gerak
kita kelana bebas berlari
tak ada batas
seni untuk semua"
Menurut Mahatma Muhammad, lagu Kelana lahir dari pengamatan terhadap aktivitas anak-anak yang rutin berkumpul setiap pekan untuk berkarya, belajar, serta berbagi cerita dalam kegiatan seni.
“Kelana bukan hanya tentang berjalan atau menjelajah, tetapi juga tentang bagaimana anak-anak menemukan suara dan keberanian mereka melalui seni,” ujarnya.
Proses produksi musik lagu ini melibatkan sejumlah musisi. Aransemen serta gitar digarap oleh Tenku Raja Ganesha. Vokal lagu dibawakan oleh Desi Vitriana bersama Mahatma Muhammad.
Sementara itu, Ossi Darma mengisi bagian keyboard dan bass. Instrumen drum dimainkan oleh Meiza Pratama (Cimay) yang juga menangani proses mixing dan mastering. Proses rekaman vokal dan drum dilakukan di 3AM Studio.
Tenku Raja Ganesha menjelaskan bahwa proses aransemen lagu dilakukan dengan mengembangkan komposisi dasar yang telah ditulis oleh Mahatma Muhammad.
“Saya lebih banyak menyesuaikan mood dari lagu yang telah dibuat oleh Mahatma. Struktur irama dan melodinya sudah ada, kemudian saya menuliskannya kembali di DAW atau Digital Audio Work Station untuk mengembangkan aransemen musiknya,” kata Tenku.
Selain kolaborasi musikal, lagu Kelana juga menghadirkan kolaborasi visual. Sampul lagu diolah dari lukisan kolaboratif Silotigo yang dikerjakan oleh para perupa, yakni Olimsyaf Putra Asmara, Boy Nistil, dan Imam Teguh.
Imam Teguh menjelaskan bahwa proses pembuatan artwork dimulai dari tawaran Mahatma Muhammad kepada para perupa Silotigo untuk merespons lagu “Kelana” melalui pendekatan visual. Masing-masing perupa kemudian mengembangkan karya dengan karakter visual mereka masing-masing.
Lagu Kelana diproduksi oleh Komunitas Seni Nan Tumpah pada 2026 sebagai bagian dari upaya memperluas dokumentasi sekaligus ekspresi kreatif yang lahir dari proses pembelajaran anak-anak dalam program Kelana Akhir Pekan.
Program Kelana Akhir Pekan atau Kelas Nan Tumpah Akhir Pekan merupakan program pendidikan seni yang diinisiasi Komunitas Seni Nan Tumpah untuk menjadi ruang tumbuh kreatif bagi anak-anak dan remaja di Nagari Kasang, Batang Anai.
Program tersebut telah aktif sejak Februari 2025 dan berlangsung setiap Kamis hingga Minggu di Ruang Temu Nan Tumpah.
Dalam kegiatan tersebut, para peserta mempelajari berbagai disiplin seni, mulai dari menggambar, menari, bermain musik, teater, menulis, hingga berlatih silek.
Program ini berada di bawah pendampingan wali kelas Desvy Sagita R. dan Srikandi Putri bersama para mentor dari berbagai bidang seni yang berperan sebagai kawan belajar dalam proses kreatif anak-anak.
Melalui perilisan lagu Kelana, Komunitas Seni Nan Tumpah berharap semangat kreativitas anak-anak dalam program Kelana Akhir Pekan dapat menjangkau lebih banyak orang.
Selain tersedia di berbagai platform musik digital, video lirik lagu tersebut juga telah dirilis melalui kanal YouTube Komunitas Seni Nan Tumpah sehingga masyarakat dapat menyaksikan dan membagikannya sebagai bentuk dukungan terhadap proses kreatif generasi muda. (*)
Editor : Adetio Purtama