PADEK.JAWAPOS.COM — Krisis ekologis akibat eksploitasi alam dan ulah manusia diangkat ke panggung teater kontemporer melalui pertunjukan Bala Bhumi karya Komunitas Seni Hitam-Putih Sumatera Barat. Pementasan berlangsung di Taman Budaya Sumatera Barat, Rabu (2/9/2026).
Karya yang disutradarai sekaligus ditulis Afrizal Harun itu mengangkat persoalan eksploitasi alam, kerusakan ekologis, dan keserakahan manusia sebagai gagasan utama pertunjukan.
Afrizal mengatakan, gagasan Bala Bhumi berangkat dari kegelisahannya melihat krisis lingkungan yang semakin kompleks. Menurut dia, kerusakan alam tidak lagi hanya menjadi persoalan fisik ekosistem, tetapi telah berkembang menjadi krisis kemanusiaan.
“Kondisi ini menggambarkan ancaman lingkungan menjadi risiko yang sangat besar karena efeknya sangat luas dan langsung terasa di seluruh lapisan masyarakat,” ujar Afrizal saat menjelaskan konsep penciptaan karya tersebut, Senin (31/8/2026).
Dalam penciptaannya, Bala Bhumi memadukan tradisi Minangkabau dengan teater modern. Afrizal menggunakan filosofi pamenan, yakni pamenan kato atau permainan kata, pamenan mato atau permainan visual, dan pamenan talingo atau permainan pendengaran.
Konsep tersebut dipadukan dengan dramaturgi teater pascadramatik. Teks tidak ditempatkan sebagai partitur kaku, tetapi menjadi panduan eksploratif bagi para aktor.
Eksplorasi ketubuhan dalam pertunjukan juga menggunakan konsep animal movement atau gerak satwa. Para aktor mengadopsi karakteristik gerak orang utan, gorila, simpanse, harimau hingga burung.
Pendekatan tersebut digunakan untuk merekonstruksi kembali hubungan manusia dengan dunia non-manusia. Koreografi teatrikalnya juga memadukan spirit tari tradisional Minangkabau Ulu Ambek dan Haka dari suku Maori, Selandia Baru, sebagai simbol perlawanan terhadap perusakan alam.
Setelah pementasan, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan diskusi seni dan ekologis bertajuk “Kerusakan Lingkungan dan Bencana Ekologis”. Diskusi menghadirkan Khalid Saifullah, aktivis lingkungan hidup dan tokoh penanggulangan bencana dari Forum Penanggulangan Risiko Bencana Sumatera Barat.
Khalid membawa perspektif tentang keterkaitan kerusakan lingkungan dengan risiko bencana di Sumatera Barat. Ia menilai banjir dan tanah longsor tidak hanya dapat dilihat sebagai fenomena alam, tetapi juga berkaitan dengan pembalakan liar, alih fungsi lahan perkebunan, dan aktivitas pertambangan yang merusak.
Pertemuan antara pertunjukan dan diskusi tersebut mempertemukan bahasa artistik dengan persoalan ekologis yang dihadapi masyarakat. Pencemaran sungai, penggundulan hutan, dan alih fungsi lahan menjadi bagian dari refleksi yang dibawa melalui panggung dan forum diskusi.
Bala Bhumi merupakan salah satu karya yang lolos seleksi Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (FPK) 2026 yang diselenggarakan Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Barat.
Pementasan tersebut juga mendapat dukungan Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat melalui UPTD Taman Budaya Sumatera Barat, Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang Panjang, serta Rumah Kreatif Affan.
Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat Syaiful Bahri menyatakan pemerintah terbuka terhadap kolaborasi dengan komunitas seni. Sementara itu, Kepala Taman Budaya Sumatera Barat M. Devid menegaskan ruang kebudayaan dapat menjadi tempat pertemuan berbagai gagasan kritis masyarakat, termasuk isu lingkungan.(*)
Editor : Hendra Efison