PADEK.JAWAPOS.COM–Ada cerita yang tidak selesai hanya karena sebuah hubungan berakhir. Ada pula pertemuan yang berlangsung singkat, tetapi meninggalkan kesan jauh lebih lama daripada waktu yang dimiliki bersama.
Nuansa seperti itulah yang coba dirangkum The Midnight Darlings melalui album perdana mereka, It’s Midnight Darling, yang resmi dirilis pada 30 September 2026.
Album berisi 14 lagu tersebut menjadi rangkuman perjalanan musikal sekaligus emosional Jevin Julian, Vanesha Prescilla, dan Aldrienko Pakusadewo sejak membentuk The Midnight Darlings.
Baca Juga: Dharmasraya Gencarkan Gerakan Tanam Serempak PM-AAS, Target 26.750 Hektare
Bukan sekadar kumpulan lagu, It’s Midnight Darling dapat dibaca sebagai sebuah cerita tentang perjalanan seseorang ketika jatuh cinta. Ceritanya bergerak dari perasaan cinta yang begitu dalam, pertemuan singkat yang meninggalkan luka, hingga nostalgia terhadap kenangan yang masih menetap meski waktu terus berjalan.
Empat single yang sebelumnya diperkenalkan menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut. Keempatnya adalah Am I Loving You Alone?, Momentary Pleasure, Semu, dan It’s You.
Keempat lagu itu kemudian disandingkan dengan 10 lagu lainnya untuk membentuk satu kesatuan cerita dalam album perdana The Midnight Darlings.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca Sumbar 1 Oktober: Sejumlah Wilayah Siaga Hujan Lebat
Mendahulukan Rasa
Dalam mengerjakan album tersebut, The Midnight Darlings memilih pendekatan yang tidak semata-mata berangkat dari bagaimana sebuah lagu harus terdengar.
Mereka justru mendahulukan rasa.
Pendekatan tersebut membuat setiap lagu memiliki emosi yang berbeda. Bahkan, proses rekaman tidak hanya menjadi tahapan produksi musik, tetapi juga perjalanan emosional bagi ketiga personel.
Baca Juga: Hong Kong vs Kamboja Bertemu di Final FIFA ASEAN Cup 2026 Divisi 2
Ada lagu yang lahir dari momen begitu emosional hingga membuat mereka menangis. Namun, ada pula lagu yang menghadirkan happy tears karena menghidupkan kembali memori dan nostalgia tertentu.
Dengan demikian, emosi yang muncul selama proses kreatif turut menjadi bagian dari warna album.
Dari sisi produksi, mayoritas lagu ditulis dan diproduseri Jevin Julian yang bertindak sebagai main producer. Meski demikian, seluruh personel turut terlibat dalam proses pengerjaan album.
Baca Juga: Sidang Rida K Liamsi, Mantan Manajer Keuangan Ungkap Pengeluaran Kas Tanpa Dokumen Valid
Vanesha Prescilla mengambil bagian dalam penulisan sejumlah lagu. Sementara itu, Aldrienko Pakusadewo memberikan kontribusi melalui permainan gitar sekaligus eksplorasi sound.
Kolaborasi ketiganya membuat proses penggarapan album tidak hanya berpusat pada satu orang, tetapi menjadi ruang eksplorasi bersama.
What If We Met Sooner? Jadi Focus Track
Dari 14 lagu yang ditawarkan, The Midnight Darlings memilih What If We Met Sooner? sebagai focus track.
Baca Juga: 24 Kota Komwil I Apeksi Teken Kerja Sama Bantu Daerah Terdampak Bencana
Lagu tersebut mengangkat kisah tentang sebuah pertemuan singkat yang justru meninggalkan kesan jauh lebih lama dibandingkan waktu yang tersedia untuk bersama.
What If We Met Sooner? juga membawa konflik antara pikiran dan hati. Di satu sisi, pikiran berusaha meyakinkan bahwa perasaan tersebut seharusnya tidak terjadi. Namun, di sisi lain, hati sudah telanjur jatuh.
Konflik itulah yang menjadi salah satu daya tarik emosional lagu tersebut sekaligus merepresentasikan tema besar yang dibangun dalam It’s Midnight Darling.
Baca Juga: 24 Kota Komwil I Apeksi Teken Kerja Sama Bantu Daerah Terdampak Bencana
Melalui album perdana ini, The Midnight Darlings mengajak pendengar menyusuri berbagai fase perasaan—mulai dari jatuh cinta, kehilangan, pertemuan yang singkat, hingga kenangan yang tidak serta-merta hilang.
Pada akhirnya, It’s Midnight Darling bukan hanya tentang bagaimana seseorang mencintai, tetapi juga tentang bagaimana seseorang berdamai dengan perasaan yang pernah hadir dan belajar membawa kenangan tersebut ke dalam perjalanan berikutnya. (*)
Editor : Adetio Purtama