Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Petani di Pusaran Perberasan, Stok Menumpuk, dan Harga Melambung

Novitri Selvia • Rabu, 24 September 2025 | 11:30 WIB

Ilustrasi beras bantuan. (JAWAPOS)
Ilustrasi beras bantuan. (JAWAPOS)

PADEK.JAWAPOS.COM-HARI Tani Nasional seharusnya menjadi momen penghargaan bagi petani. Namun, kondisi saat ini justru membuat mereka berada di titik rentan dalam rantai perberasan nasional.

Stok beras menumpuk di gudang Bulog, harga di pasar melambung, sementara kebijakan pemerintah kerap berubah arah tanpa kepastian.

Pengamat Sosial-Ekonomi Pertanian Khudori menilai ada pelajaran mahal dari kebijakan pengalihan anggaran perberasan tahun ini. Dana Rp 16,6 triliun yang semula disiapkan untuk operasi pasar dan bantuan pangan dialihkan untuk penyerapan gabah di hulu.

Langkah itu membuat Bulog mampu menyerap hampir 3 juta ton beras dari petani dan mencetak stok terbesar dalam sejarah: 3,9 juta ton. Namun stok besar tidak otomatis menenangkan pasar.

“Penyerapan dan penyaluran beras itu satu nafas, tidak bisa diputus. Beras tidak tahan lama. Kalau hanya diserap tanpa disalurkan secara rutin, risiko susut, turun mutu, bahkan rusak tidak terhindarkan,” tegas Khudori yang juga Pengurus Pusat Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia.

Sejak April 2025, harga gabah naik dari Rp 6.000 menjadi Rp 6.500/kg, lalu merangkak hingga Rp 8.000/kg. Kenaikan ini seharusnya menguntungkan petani.

Faktanya, gabah yang terbatas justru diperebutkan Bulog dan penggilingan. Penggilingan kecil -yang jumlahnya 95 persen dari total 169 ribu unit- kalah bersaing. Dampaknya, aliran beras ke pasar tersendat.

Ombudsman RI mencatat, produksi beras dari penggilingan turun drastis pada Agustus lalu karena tidak mampu membeli gabah mahal.

“Migrasi stok yang biasanya ada di masyarakat berpindah ke Bulog. Inilah yang membuat harga beras medium dan premium di pasaran melampaui HET di hampir semua zona,” jelas Khudori.

Data Badan Pangan Nasional per 18 September 2025 menunjukkan harga beras premium menembus Rp 18.305/kg di zona III, sementara beras medium Rp 15.976/kg. Kondisi ini memukul daya beli Masyarakat miskin, sementara petani tetap tak berdaya di hadapan permainan pasar.

Untuk meredam kenaikan harga, pemerintah mengandalkan operasi pasar dengan beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan). Penyaluran memang membaik, rata-rata 5.789 ton per hari, tapi masih jauh dari target.

Agar target 1,5 juta ton tercapai, volume harian harus hampir dua kali lipat. Masalahnya, mekanisme operasi pasar lebih banyak menyasar konsumen akhir lewat ritel modern, koperasi, hingga Gerakan Pangan Murah.

Volume serapannya kecil. “Operasi pasar seharusnya mengguyur pasar grosir, distributor, dan pedagang besar. Indikator keberhasilan operasi pasar Adalah harga turun di pasar, bukan berapa paket beras sampai ke konsumen,” tegas Khudori.

Tumpukan stok Bulog juga berpotensi jadi masalah. Dari 3,9 juta ton Cadangan beras pemerintah, 73 persen sudah berusia lebih dari empat bulan, sebagian besar sisa impor 2024. (agf/ali/jpg)

Editor : Novitri Selvia
#gerakan pangan murah (gpm) #Hari Tani Nasional 2025 #Khudori #bulog