Di sudut sebuah toko, seorang bocah duduk bersandar di bawah atap seadanya. Namanya Andi, 11 tahun. Di tangannya tergenggam wadah kecil yang sesekali ia sodorkan kepada orang yang lewat.
Matanya memandangi anak-anak lain yang digandeng orang tuanya membeli kebutuhan harian.
Ia terdiam, menghela napas panjang. Hawa dingin menembus pakaiannya yang sudah basah, namun ia tetap duduk, masih berharap ada yang melemparkan recehan rupiah.
Di sampingnya tergeletak sebuah kepala badut besar. Kostum itu menjadi identitas barunya sejak beberapa bulan terakhir — badut pengemis kecil yang mencari nafkah di malam hari.
“Saya mulai dari jam empat sore sampai jam sembilan malam. Kalau hujan seperti ini, paling dapat lima puluh ribu,” tutur Andi lirih saat ditemui, Minggu (5/10/2025).
Andi adalah siswa kelas lima SD di Padangpanjang. Anak kelima dari lima bersaudara ini mengaku bekerja bukan karena disuruh, melainkan untuk membantu orang tuanya yang sehari-hari menjadi pengumpul barang bekas.
“Orang tua saya tidak melarang. Mereka tahu saya kerja jadi badut, yang penting tidak berbuat jahat,” ujarnya pelan.
Andi tidak memiliki kostum badut sendiri. Ia hanya meminjamnya dari seseorang dengan sistem bagi hasil. Jika pendapatan hari itu kecil, Andi tetap harus berbagi.
Fenomena anak-anak seperti Andi bukan hal baru. Di berbagai sudut kota di Sumatera Barat, terutama di depan gerai toko atau perempatan jalan, sosok badut kecil dengan kotak donasi di tangan kerap menarik simpati warga.
Ada yang menari, ada pula yang hanya diam menatap orang lewat — berharap belas kasihan.
Menurut Sosiolog Universitas Negeri Padang (UNP), Dr. Erianjoni, fenomena ini merupakan cerminan eksploitasi anak akibat kemiskinan struktural yang menjerat keluarga miskin di perkotaan.
Baca Juga: Pariaman Gelar Kejurnas Sepak Bola U-12, Andre Rosiade akan Buka Turnamen
“Anak-anak seperti Andi adalah korban ketimpangan sosial dan ekonomi. Mereka dipaksa mencari nafkah karena keterbatasan ekonomi keluarga. Akibatnya, hak anak untuk bermain dan belajar terenggut,” ujar Erianjoni, Senin (6/10).
Ia menegaskan, anak yang menjadi badut pengemis termasuk kelompok rentan yang mudah dieksploitasi secara ekonomi — baik secara langsung maupun karena pembiaran dari orang tua.
“Selain badut pengemis, bentuk eksploitasi anak lainnya juga terlihat dari pengamen jalanan, penjual asongan, dan anak pemulung. Mereka banyak ditemui di perempatan jalan atau lampu merah di Kota Padang dan kota lain di Sumbar,” jelasnya.
Menurut Erianjoni, pemerintah seharusnya hadir untuk melindungi anak-anak dari situasi tersebut. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah menghadirkan sekolah rakyat bagi anak putus sekolah agar tetap mendapat pendidikan dasar.
“Data yang saya baca menunjukkan, di Kota Padang saja tercatat 7.178 anak putus sekolah pada September 2025. Sebagian dari mereka kini bekerja di jalanan, menjadi badut pengemis atau terlibat dalam aksi tawuran,” ungkapnya.
Ia menambahkan, tingginya angka putus sekolah berpotensi memperburuk kemiskinan, meningkatkan pengangguran, serta menurunkan kualitas sumber daya manusia di masa depan.
“Pemerintah tidak boleh menutup mata. Jika tidak ditangani sejak dini, fenomena anak seperti Andi akan terus berulang. Mereka kehilangan masa kecilnya, dan masa depan mereka perlahan ikut memudar,” pungkasnya.(edg)
Editor : Hendra Efison