Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebutkan, pemerintah bersama otoritas terkait terus menjaga stabilitas dan mengantisipasi berbagai potensi risiko eksternal.
”Stabilitas sistem keuangan pada kuartal III-2025 tetap terjaga dan mendukung pencapaian pertumbuhan ekonomi dengan terus mewaspadai berbagai risiko global,” ujarnya di Jakarta kemarin (3/11).
Dari sisi domestik, penggerak utama ekonomi melalui kinerja konsumsi yang tetap kuat. Kepercayaan konsumen terhadap pemerintah juga meningkat seiring perbaikan ekonomi nasional.
Salah satu faktor penopang adalah penempatan kas pemerintah sebesar Rp 200 triliun di himpunan bank milik negara (Himbara).
”Langkah itu memperkuat likuiditas perekonomian yang tercermin dari pertumbuhan uang primer (M0) 13,2 persen secara tahunan (YoY) dan uang beredar (M2) 8 persen (YoY) per September 2025.
Dari sisi global, ketidakpastian masih membayangi akibat kebijakan tarif impor Amerika Serikat (AS) yang menekan perdagangan dunia. Namun, ekspektasi terhadap pemulihan ekonomi global mulai membaik.
Apalagi, aktivitas ekonomi AS yang melemah memicu penurunan Fed Fund Rate (FFR) sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75–4 persen. Sehingga aliran dana ke emerging market, termasuk Indonesia,makin banyak.
Di sisi lain, perekonomian Uni Eropa, Jepang, Tiongkok, dan India masih melemah karena konsumsi rumah tangga yang belum pulih. Meskipun demikian, Dana Moneter Internasional (IMF) menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global dari 3 persen menjadi 3,2 persen pada Oktober 2025.
Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menilai, penguatan kewaspadaan terhadap risiko global tetap menjadi prioritas. ”Respons kebijakan yang efektif dan terkoordinasi harus terus dilakukan untuk menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi,” kata Purbaya. (jpg)
Editor : Eri Mardinal