Sebelum dan sesudah siklon melanda, hujan lebat mengguyur wilayah Sri Lanka. Curah hujan dilaporkan melebihi 300 mm dalam periode Kamis hingga Jumat, memicu banjir dan longsor di berbagai daerah.
“Lebih dari 25 orang tewas di kawasan pegunungan Badulla dan Nuwara Eliya,” kata Pusat Manajemen Bencana (DMC) setempat, dilansir dari Al Jazeera.
Selain korban meninggal, 21 orang masih dinyatakan hilang dan 14 lainnya mengalami luka-luka di wilayah Badulla dan Nuwara Eliya.
Secara nasional, 23 orang tercatat hilang. Hujan deras juga merusak lebih dari 600 rumah dan menghancurkan empat bangunan.
Dampak bencana juga dirasakan di sektor transportasi. Jalan dan jalur kereta tertutup akibat longsor dan pohon tumbang, sementara 15 penerbangan dari Bandaranaike International Airport (BIA) dialihkan ke bandara lain, termasuk Mattala dan beberapa kota di India. Layanan kereta ditangguhkan, dan Bursa Efek Colombo mengumumkan penutupan dini perdagangan.
Pemerintah mengevakuasi 43.991 orang dari 12.313 keluarga ke sekolah dan fasilitas umum. Helikopter militer, kapal polisi dan kapal angkatan laut digunakan untuk menolong warga yang terjebak, termasuk tiga orang yang diselamatkan dari atap rumah di Hanwella, distrik Colombo.
Semua sekolah dan kantor pemerintah ditutup pada Jumat.
Otoritas juga memperingatkan warga di daerah dataran rendah sepanjang lembah Sungai Kelani, termasuk ibu kota Colombo, untuk waspada banjir dalam 48 jam ke depan. Red-level flood warning dikeluarkan oleh Departemen Irigasi.
Siklon Ditwah sendiri berkembang dari badai tropis, yang terbentuk karena udara hangat di atas laut meningkat dan menimbulkan tekanan rendah, sehingga menghasilkan angin kencang dan hujan lebat.
Saat ini kecepatan angin mencapai 65 km/jam, menempatkan sistem ini pada kategori badai tropis.
Pemerintah Sri Lanka memastikan respons darurat terus berlangsung, sementara kondisi cuaca dipantau secara intensif.(*)
Editor : Heri Sugiarto