Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

SMP Negeri 5 Padang, Menumbuhkan Growth Mindset pada Pendidik Anak Bangsa

Novitri Selvia • Senin, 1 Desember 2025 | 15:02 WIB
TIMBA WAWASAN: Training of trainer growth mindset coach yang penulis iikuti.
TIMBA WAWASAN: Training of trainer growth mindset coach yang penulis iikuti.

PADEK.JAWAPOS.COM-Seorang guru harus memunculkan karakter yang kuat dalam mendidik anak bangsa. Membentuk karakter seorang guru penting dalam dunia pendidikan.

Untuk membentuk karakter tersebut, guru perlu memiliki mindset (cara melihat dan memilih), toosel ( apa yang digunakan oleh guru sebagai alat bantu, skillset ( keahlian) dalam memainkan peranannya sebagai pendidik.

Penulis sangat terkesan dengan materi yang disampaikan oleh nara sumber Bapak Prof .Ir. Drs. Djohan Yoga ,M.Sc. NOT,Ph.B, yang berprofesi sebagai Internasional Trainer pada kegiatan “ Training Of Trainers Growth Mindset Coach bagi Dosen dan Guru tertentu Prodi PPG Sekolah Pasca Sarjana Universitas Negeri Padang pada tanggal 24 November 2025, mengatakan bahwa salah satu faktor yang penting dalam membentuk karakter kuat dari pendidik adalah “growth mindset”( pola pikir berkembang).

Seorang guru yang memiliki “growth mindset tentunya dengan mudah mampu mengatasi tantangan dalam mendidik generasi penerus bangsa.

Guru harus yang meyakini bahwa kemampuan dan potensi peserta didik maupun dirinya sendiri dapat berkembang melalui usaha, strategi yang tepat, serta pembelajaran berkelanjutan.

Guru dengan growth mindset tidak melihat kecerdasan sebagai sesuatu yang tetap, tetapi sesuatu yang bisa ditingkatkan. Bagaimana cara menumbuhkan growth mindset pada guru secara sistematis, praktis, dan sesuai konteks pendidikan?.

Pendidik dengan growth mindset percaya bahwa dirinya mampu terus berkembang. Dalam praktiknya, guru yang memiliki pola pikir berkembang tidak berhenti belajar setelah memperoleh sertifikasi atau pengalaman mengajar bertahun-tahun.

Mereka menyadari bahwa pedagogi, teknologi, dan karakter peserta didik selalu berubah sehingga pembelajaran pun harus terus berevolusi.

Pertama, dimulai dari kesadaran diri sendiri. Menumbuhkan growth mindset pada guru harus dimulai dari kesadaran diri (self-awareness), yaitu kemampuan untuk mengenali pola pikir, sikap, dan keyakinan pribadi terkait proses belajar dan mengajar.

Guru perlu jujur melihat dirinya: apakah selama ini lebih sering merasa bahwa kemampuan tertentu tidak dapat berkembang, ataukah masih terbuka untuk belajar hal baru?

Proses ini dapat dimulai dengan refleksi sederhana, misalnya menuliskan pengalaman kelas yang membuat guru merasa “tidak mampu”, kemudian menganalisis apakah keyakinan tersebut muncul dari pola pikir fixed mindset.

Setelah pola pikir yang menghambat teridentifikasi, guru dapat mulai mengubah cara pandangnya dengan membiasakan diri menggunakan kalimat-kalimat yang memberdayakan, seperti “Saya belum bisa, tetapi saya bisa belajar”, atau “Saya menghadapi tantangan, bukan kegagalan”.

Kesadaran diri ini juga dapat diperkuat melalui jurnal refleksi, diskusi profesional dengan rekan guru, atau meminta umpan balik dari sejawat mengenai praktik mengajar.

Kedua, mengubah bahasa menjadil lebih memberdayakan. Setelah guru memiliki kesadaran diri tentang pola pikirnya, langkah berikutnya adalah mengubah bahasa yang digunakan dalam keseharian mengajar.

Bahasa memiliki kekuatan membentuk cara berpikir, baik bagi guru maupun peserta didik. Guru perlu secara sadar meninggalkan kalimat-kalimat yang mencerminkan fixed mindset seperti “Saya memang tidak bisa teknologi” atau “Anak ini memang tidak berbakat matematika”.

Kalimat-kalimat tersebut harus digantikan dengan bahasa yang lebih memberdayakan, misalnya “Saya sedang belajar menggunakan teknologi”, atau “Anak ini membutuhkan strategi berbeda agar bisa memahami matematika”.

Perubahan bahasa secara konsisten akan memengaruhi cara guru melihat dirinya sendiri, murid, dan proses pembelajaran.

Dalam konteks sekolah, guru dapat berlatih bersama rekan sejawat, misalnya dengan membuat daftar kalimat fixed mindset yang sering muncul, lalu mendiskusikan alternatif kalimat growth mindset yang lebih konstruktif.

Ketika bahasa berubah, pola pikir pun ikut berkembang, sehingga guru mampu menciptakan budaya kelas yang lebih positif, suportif, dan berorientasi pada pertumbuhan.

Ketiga, fokus pada Proses Pembelajaran, Bukan Hanya Hasil. Menumbuhkan growth mindset pada guru juga dapat dilakukan dengan membiasakan diri mengapresiasi proses belajar, baik proses guru maupun murid.

Dalam praktiknya, guru perlu mengubah orientasi pembelajaran dari sekadar mengejar nilai atau kelulusan, menjadi menekankan strategi, usaha, dan perkembangan bertahap siswa.

Misalnya, daripada hanya memberi nilai akhir pada tugas, guru dapat memberikan catatan kecil mengenai apa yang sudah baik dan apa yang perlu diperbaiki.

Guru juga dapat memberi kesempatan revisi tugas sebagai bentuk penghargaan terhadap proses belajar. Dengan fokus pada proses, guru tidak hanya mendorong siswa lebih percaya diri, tetapi juga membantu dirinya melihat tantangan mengajar sebagai peluang untuk mencoba pendekatan baru.

Pendekatan ini memperkuat keyakinan bahwa kemampuan—baik kemampuan guru maupun siswa—dapat berkembang melalui latihan dan strategi yang tepat.

Keempat, menjadikan kesalahan sebagai sumber belajar. Guru yang ingin menumbuhkan growth mindset perlu melihat bahwa kesalahan merupakan peluang untuk memperbaiki strategi, bukan alasan untuk menyalahkan diri sendiri atau peserta didik.

Dalam konteks kelas, guru dapat membuka diskusi reflektif setelah kegiatan pembelajaran: apa yang berhasil, apa yang kurang efektif, dan mengapa hal tersebut terjadi.

Kelima, Memberi Tantangan pada Diri Sendiri. Guru dengan growth mindset berani keluar dari zona nyaman dengan menetapkan tantangan yang terukur dan realistis.

Tantangan ini bisa berupa mencoba metode pembelajaran baru, menggunakan teknologi dalam kelas, menyusun asesmen berbasis pemecahan masalah, atau mengembangkan media pembelajaran kreatif.

Ketika guru berhasil menaklukkan tantangan-tantangan kecil, rasa percaya diri akan meningkat dan pola pikir berkembang semakin kuat. (Irma Yenni, M.Pd, GURU SMPN 5 PADANG)

Editor : Novitri Selvia
#growth mindset #SMP Negeri 5 Padang #Irma Yenni