Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

PPIM Desak PM Anwar Fasilitasi Bantuan ke Aceh, 500 Ton Donasi Tertahan

Novitri Selvia • Selasa, 23 Desember 2025 | 10:38 WIB

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, yang juga Ketua ASEAN. (Foto: Instagram @anwaribrahim_may)
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, yang juga Ketua ASEAN. (Foto: Instagram @anwaribrahim_may)

PADEK.JAWAPOS.COM-PERSATUAN Konsumen Muslim Malaysia (PPIM) mendesak Perdana Menteri (PM) Anwar Ibrahim memfasilitasi pengiriman bantuan ke Aceh melalui jalur diplomatik.

Tujuannya, agar tidak ada kendala dalam penyaluran serta pendistribuannya tepat sasaran. Permintaan PPIM itu menyusul adanya laporan adanya 500 ton donasi yang masih tertahan.

Salah satu penyebabnya karena banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar) belum ditetapkan sebagai bencana nasional.

Ketua Ketua PPIM Datuk Nadzim Johan mengatakan, dukungan pemerintah dibutuhkan untuk mengatasi kendala administratif yang menghambat distribusi bantuan.

Terutama yang melibatkan lembaga swadaya masyarakat (LSM) dari dalam dan luar negeri.

“Karena itu, kami berharap kantor PM dapat membantu memudahkan dan menyelaraskan semua proses yang diperlukan,” ucapnya.

Menurut dia, sejumlah organisasi kemanusiaan telah bertemu dengan PM guna membahas mekanisme penyaluran bantuan yang lebih sistematis. PPIM tidak dapat menjalankan misi kemanusiaan tersebut secara mandiri. “Tanpa kerja sama semua pihak, bantuan berisiko tidak tersalurkan dengan baik,” kata Nadzim.

PPIM juga mengkhawatirkan adanya laporan sekitar 500 ton bantuan yang masih tertahan.

Menurut Nadzim, pengiriman bantuan tanpa prosedur yang jelas menyebabkan distribusi tidak tepat sasaran dan berdampak buruk terhadap kredibilitas.

Majelis Agama Islam dan Adat Melayu Perlis (MAIPs) memutuskan, seluruh dana infak Salat Jumat dari Masjid di Perlis disalurkan untuk membantu korban banjir di Aceh.

Raja Muda Perlis Tuanku Syed Faizuddin Putra Jamalullail menyatakan, keputusan itu dilandasi semangat persaudaraan dan nilai kemanusiaan yang kuat antara masyarakat Perlis dan Aceh.

“Semoga setiap bantuan yang diberikan dengan ikhlas mendapat keberkahan dan menjadi kekuatan bagi mereka yang sedang diuji,” ujarnya.

Menteri Luar Negeri Malaysia Datuk Seri Mohamad Hasan memastikan, Malaysia terus memantau kondisi bencana melalui Kementerian Luar Negeri dan Konsulat Jenderal Malaysia di Medan.

Dia menyampaikan bahwa dari total 49 mahasiswa Malaysia di Aceh, 25 orang telah kembali ke Malaysia. Sementara, 24 lainnya masih berada di Aceh dalam kondisi aman.

Selain itu, Kementerian Pendidikan Tinggi Malaysia juga telah menyalurkan bantuan tunai sebesar RM500 kepada setiap mahasiswa yang terdampak bencana di Indonesia.

BNPB mencatat, korban bencana hidrometeorologi mencapai 1.071 orang meninggal, 185 orang dinyatakan hilang, dan lebih dari 525 ribu warga mengungsi.

Pemerintah memperkirakan kebutuhan anggaran pemulihan dan rekonstruksi di wilayah terdampak lebih dari Rp 51,82 triliun.

Buruh Panggul

Bencana longsor yang terjadi pada akhir November lalu memutus Jalan Bireuen Bener Meriah. Kerusakan infrastruktur itu memicu munculnya profesi buruh pikul barang.

Fahri, pria 19 tahun asal Lampahan, memilih jalan itu. “Hampir semua barang kami langsir (angkut). Cabai, gas, minyak, apa saja yang bisa dibawa,” ujarnya.

Sudah hampir dua pekan Fahri bekerja sebagai buruh pikul. Setiap pagi, pukul enam tepat, dia mulai memanggul barang. Dia sengaja datang lebih awal, sebab jika terlambat sedikit saja, kesempatan bisa hilang.

“Saya harus pergi pagi-pagi, karena rebutan dengan warga lain. Di sana banyak yang kerja seperti saya,” katanya.

Dalam sehari, Fahri mampu membawa sekitar 25 kilogram (Kg) barang dalam tiga kali perjalanan. Artinya, setiap perjalanan dia memikul beban sekitar 8 -9 Kg.

“Pinggang dan bahu sering sakit. Kadang kaki juga lecet karena jalannya berlumpur dan basah,” ungkapnya.

Pendapatan Fahri tidak menentu. Semua bergantung pada banyaknya barang yang harus diangkut hari itu. Jika sepi, dia pulang dengan tangan kosong.

Namun ketika ramai, dia bersyukur bisa membawa rezeki untuk keluarga. “Jadi tergantung rezeki kita. Kalau dapat, ya alhamdulillah,” katanya.

Tinjau Lokasi

Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming dan Gubernur Sumut Muhammad Bobby Afif Nasution meninjau lokasi pengungsian Desa Sibalanga, Kecamatan Adian Koting, Tapanuli Utara, Sumut kemarin (22/12).

Keduanya memastikan ketersediaan logistik, kesehatan, serta pembangunan hunian tetap untuk korban bencana banjir dan longsor Sumut.

Menurut Gibran, pemerintah akan segera memperbaiki infrastruktur dan rumah warga.

“Rumah yang rusak akan dibangunkan kembali oleh Pak Presiden, Pak Gubernur, Pak Bupati, tadi sudah memastikan lokasinya masih satu kecamatan, termasuk juga infrastruktur, lahan pertanian dan perkebunan akan kita bangun lagi,” kata Gibran.

Ia juga meminta agar anak-anak, lansia, ibu hamil dan ibu menyusui, mendapat prioritas penanganan.

“Pak Bupati, Pak Gubernur, karena di sini banyak anak-anak dan lansia, ibu hamil, ibu menyusui tolong diprioritaskan, makanannya, kesehatannya, obat-obatannya, tidak boleh sampai kurang,” jelas Gibran. (rif/fir/san/aph/jpg)

Editor : Novitri Selvia
#PPIM Malaysia #bantuan #anwar ibrahim