Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai kondisi tersebut menyimpan potensi besar untuk menggerakkan ekonomi jika dapat segera dimobilisasi.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, besarnya komitmen kredit yang belum dicairkan merupakan amunisi penting bagi ekspansi usaha ke depan.
“Ini menunjukkan adanya potensi peningkatan realisasi kredit di masa mendatang,” ujar Dian di Jakarta kemarin (22/12).
Tren undisbursed loan memang terus meningkat sepanjang paruh kedua 2025. Pada Agustus tercatat Rp 2.372 triliun, naik menjadi Rp 2.450 triliun pada September, dan kembali bertambah menjadi Rp2.509,4 triliun per November. “Kondisi ini berkaitan erat dengan sikap menunggu dunia usaha di tengah ketidakpastian ekonomi,” imbuhnya.
OJK memperkirakan pertumbuhan fasilitas kredit yang belum ditarik akan mengalami moderasi seiring penyesuaian strategi bisnis perbankan. Dengan posisi likuiditas yang masih kuat, sektor perbankan dinilai tetap memiliki ruang luas untuk mendukung pembiayaan produktif, selama disertai pengelolaan risiko yang cermat.
Optimisme tersebut ditopang sejumlah indikator ekonomi. PMI Manufaktur Indonesia pada November 2025 naik ke level 53,50 dari 51,20 pada Oktober. Hal itu menandakan ekspansi aktivitas industri. Indeks Keyakinan Konsumen juga bertahan di zona optimistis, mencapai 124,03, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya.
Dian menambahkan, perbaikan transmisi kebijakan moneter, tren penurunan suku bunga pinjaman, serta percepatan belanja pemerintah dan investasi swasta akan memperkuat permintaan kredit.
OJK pun terus berkoordinasi dengan pemerintah dan pemangku kepentingan, termasuk melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), untuk memastikan pembiayaan perbankan benar-benar mengalir ke sektor produktif. (*)
Editor : Adetio Purtama