PADEK.JAWAPOS.COM-Satu bulan pascabanjir dan longsor yang melanda Aceh pada akhir November lalu, ratusan warga Mukim Wihni, Dusun Jamat, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, masih bertahan dalam kondisi krisis pangan, air bersih, dan ekonomi.
Terputusnya akses jalan dan jembatan membuat wilayah tersebut terisolasi total dan hanya dapat dijangkau melalui jalur udara atau kendaraan roda dua dengan rute ekstrem.
Rakyat Aceh (Padang Ekspres Group) melaporkan, bencana tersebut menghancurkan sejumlah desa dan memaksa warga direlokasi.
Desa Kute Reje dilaporkan hanyut total dan harus direlokasi, sementara Desa Delung Sekinel, Jamat, dan Reje Payung dinyatakan tidak lagi aman untuk dihuni. Desa Linge di Kecamatan Linge juga terdampak parah.
Saat ini, sekitar 316 warga mengungsi dan membangun hunian sementara secara mandiri di Desa Delung Sekinel yang dipilih karena letak geografisnya lebih tinggi dan relatif aman.
Para pengungsi berasal dari Dusun Sekinel, Dusun Tekur, dan Dusun Delung, terutama dari Desa Delung Sekinel dan Kute Reje. Namun, kondisi di lokasi pengungsian jauh dari kata layak. Air bersih menjadi persoalan paling mendesak.
Salah seorang warga Mukim Wihni, Ilyas Pasa, menyebutkan bahwa sejak bencana terjadi, wilayahnya tidak pernah menerima bantuan air bersih.
“Warga hanya mengandalkan air hujan yang ditampung selama 11 hari. Setelah itu air habis. Lima hari berikutnya benar-benar kosong. Terpaksa warga mencari air ke hutan sejauh lebih dari satu kilometer,” ujar Ilyas saat ditemui di lokasi pengungsian, Desa Delung Sekinel, Kecamatan Linge, kemarin (25/12).
Akses bantuan juga sangat terbatas. Logistik hanya dapat masuk langsung ke desa menggunakan helikopter.
Jika melalui jalur darat, warga harus menggunakan kendaraan roda dua dan menjemput bantuan hingga 70 kilometer ke Isaq, titik terakhir yang dapat dilalui kendaraan roda empat. Perjalanan tersebut memakan waktu hingga tujuh jam karena jembatan dan jalan utama telah putus serta amblas.
Sementara itu, Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menerima kunjungan Kepala Badan Pengelola Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) Dony Oskaria pada Rabu malam (24/12).
Pertemuan yang berlangsung di Kantor Sekretariat Kabinet tersebut membahas percepatan pemulihan pascabencana, khususnya dukungan dan peran BUMN bagi masyarakat terdampak.
Teddy menyampaikan, pembangunan rumah hunian oleh BUMN menjadi salah satu fokus utama.
“Dalam satu minggu pertama, ditargetkan sedikitnya 500 unit rumah selesai dibangun dari total 15.000 unit yang dikerjakan BUMN pada Desember ini, selain pembangunan hunian oleh BNPB dan Kementerian PUPR yang juga sedang berjalan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, kemarin (25/12).
Selain hunian, pertemuan tersebut juga membahas kesiapan infrastruktur telekomunikasi. Base Transceiver Station (BTS) milik BUMN diharapkan segera berfungsi optimal untuk mendukung aktivitas masyarakat di wilayah terdampak.
Agenda strategis lainnya adalah percepatan pemulihan layanan keuangan, dengan target operasional perbankan daerah dapat segera kembali berjalan. (fir/lyn/ttg/jpg)
Editor : Novitri Selvia