Pantauan Padang Ekspres, kawasan rumah bersejarah tersebut cenderung lengang. Dalam sehari, jumlah pengunjung tercatat sangat terbatas, umumnya berasal dari kalangan mahasiswa dan pegiat sejarah.
Bangunan rumah gadang ini menjadi saksi perjalanan hidup Tan Malaka, tokoh pergerakan nasional dan pemikir kemerdekaan yang lahir dari Minangkabau.
Dari kawasan perbukitan Suliki, Tan Malaka menapaki perjalanan panjang hingga dikenal di tingkat nasional dan internasional.
Seorang pengunjung, Abdi (22), mahasiswa asal Pekanbaru, mengaku sengaja datang untuk wisata sejarah.
Ia berkunjung bersama rekan-rekannya saat menelusuri sejumlah situs bersejarah di Suliki.
“Saya ke sini karena lokasinya berdekatan dengan Koto Tinggi dan Museum PDRI di Suliki. Jadi sekalian menelusuri jejak sejarah,” ujarnya, Sabtu (27/12/2025).
Menurut Abdi, rumah Tan Malaka menjadi pelengkap kunjungan sejarah di kawasan Suliki. Ia menilai wilayah tersebut menyimpan banyak catatan penting perjalanan republik.
Di sekitar rumah gadang, terdapat petilasan kuburan Tan Malaka. Petilasan ini bersifat simbolis, menandai pemindahan makam Tan Malaka dari Kediri ke Pandam Gadang.
Tak jauh dari lokasi petilasan, berdiri patung Tan Malaka di halaman depan rumah. Patung tersebut menjadi penanda visual sekaligus pengingat akan peran besar tokoh tersebut dalam sejarah bangsa.
Bagian dalam rumah gadang masih mempertahankan arsitektur Minangkabau. Pengunjung dapat melihat foto, arsip, dan sejumlah peninggalan yang merekam perjalanan hidup Tan Malaka.
Warga setempat, Yon (53), mengatakan rumah ini lebih sering dikunjungi oleh mahasiswa, peneliti, dan pegiat literasi.
“Yang datang biasanya memang punya ketertarikan khusus pada sejarah,” katanya.
Ia berharap pengelolaan rumah Tan Malaka dapat ditingkatkan agar lebih dikenal sebagai destinasi wisata sejarah dan edukasi.
“Rumah ini bukan hanya milik Pandam Gadang, tapi bagian dari sejarah bangsa,” ujarnya.
Bagi masyarakat sekitar, keberadaan rumah Tan Malaka menjadi identitas nagari. Meski kawasan terbilang sunyi, nilai historisnya tetap kuat sebagai pengingat kontribusi Minangkabau dalam perjalanan Republik Indonesia. (CR7)
Editor : Hendra Efison