Angka tersebut menggambarkan besarnya biaya yang dibutuhkan untuk menjalankan operasi tempur berskala besar yang melibatkan berbagai sistem persenjataan modern di udara, laut, dan darat.
Pengeluaran tersebut bahkan disebut setara dengan biaya pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Indonesia selama 13 hari, sehingga menjadi gambaran nyata tentang skala ekonomi dari operasi militer modern.
Serangan ini melibatkan berbagai alutsista canggih dengan biaya operasional yang sangat tinggi, mulai dari rudal presisi, pesawat pengebom siluman, jet tempur generasi terbaru, hingga armada kapal induk yang ditempatkan di kawasan konflik.
Laporan yang dikutip dari Scary Journal menyebutkan bahwa komponen biaya terbesar berasal dari penggunaan ratusan rudal presisi yang ditembakkan ke sejumlah titik strategis di wilayah Iran.
Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa setidaknya 200 unit rudal Tomahawk dikerahkan dalam serangan awal tersebut. Nilai total dari penggunaan rudal tersebut diperkirakan mencapai 340,4 juta dolar AS atau sekitar Rp5,7 triliun.
Selain penggunaan rudal jarak jauh, Amerika Serikat juga mengerahkan empat unit pesawat pengebom siluman B-2 Spirit yang dikenal memiliki kemampuan menembus sistem pertahanan udara lawan.
Pesawat ini memiliki biaya operasional yang sangat tinggi karena teknologi siluman dan sistem tempur canggih yang dimilikinya.
Biaya operasional satu misi penerbangan pesawat B-2 Spirit dilaporkan mencapai lebih dari 30 juta dolar AS atau sekitar Rp504 miliar untuk satu kali operasi.
Di udara, kekuatan tempur Amerika Serikat juga diperkuat dengan pengerahan jet tempur generasi terbaru seperti F-22 Raptor dan F-35 Lightning II yang terbang bersama pesawat tempur F-16 dan F-18 untuk menjaga dominasi udara di wilayah konflik.
Operasi militer tersebut juga didukung oleh berbagai sistem pendukung seperti pesawat tanker untuk pengisian bahan bakar di udara, pesawat radar untuk pemantauan wilayah, serta drone pengintai yang digunakan untuk mengawasi pergerakan target.
Di darat, sistem artileri roket HIMARS dengan kemampuan serangan presisi jarak jauh turut disiagakan sebagai bagian dari dukungan operasi militer yang berlangsung.
Baca Juga: Pertengahan Ramadan, Penjualan Kue Tradisional di Pasar Pulau Punjung masih Sepi
Selain kekuatan udara dan darat, armada laut juga menjadi bagian penting dalam operasi tersebut dengan pengerahan dua kapal induk besar milik Amerika Serikat.
Dua kapal induk yang dilaporkan berada di posisi tempur adalah USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford, masing-masing dengan gugus tempur kapal pengiring yang mendukung operasi di kawasan tersebut.
Kehadiran dua gugus tempur kapal induk tersebut menambah biaya operasional yang signifikan. Diperkirakan biaya untuk menjaga kesiapan tempur armada tersebut mencapai sekitar 15 juta dolar AS atau sekitar Rp252 miliar per hari.
Scary Journal dalam laporannya pada 6 Maret 2026 menyebutkan bahwa Amerika Serikat diperkirakan menghabiskan sekitar 779 juta dolar AS hanya dalam 24 jam pertama serangan ofensifnya ke Iran.
Hingga berita ini diturunkan, perkembangan operasi militer tersebut masih terus dipantau oleh komunitas internasional yang mencermati dampak ekonomi dan geopolitik dari konflik yang sedang berlangsung.(*)
Editor : Hendra Efison