PADEK.JAWAPOS.COM-Bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh ampunan dan keberkahan. Pada bulan suci ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amalan kebaikan.
Salah satu ibadah utama yang dijalankan adalah puasa. Orang yang berpuasa dengan penuh keimanan serta diiringi berbagai amal saleh diyakini akan memperoleh ampunan atas dosa-dosanya.
Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183 yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Menurut tafsir Kementerian Agama Republik Indonesia, kewajiban puasa bertujuan untuk mendidik jiwa, mengendalikan syahwat, serta menyadarkan manusia akan hakikat dirinya sebagai makhluk yang dimuliakan.
Puasa juga menjadi sarana untuk melatih manusia agar senantiasa bertakwa dengan menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya.
Puasa di bulan Ramadhan memiliki banyak hikmah. Selain memberikan dampak positif bagi kesehatan, puasa juga melatih kemampuan mengendalikan hawa nafsu serta menumbuhkan empati dan kepedulian sosial terhadap sesama.
Dalam menyambut dan mengisi Ramadhan 1447 Hijriah, sesuai edaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tanah Datar, kegiatan pembelajaran di sekolah dibagi menjadi dua bagian, yakni proses belajar mengajar dan kegiatan Pesantren Ramadhan.
Pesantren Ramadhan menjadi sarana penting dalam pembentukan karakter peserta didik.
Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya memperoleh tambahan pengetahuan keagamaan, tetapi juga memperkuat nilai-nilai keislaman yang menjadi landasan dalam kehidupan mereka.
Kegiatan Pesantren Ramadhan dimulai pukul 10.00 WIB dengan diawali salat Dhuha berjamaah, dilanjutkan dengan penyampaian materi, dan diakhiri dengan salat Zuhur berjamaah.
Materi yang diberikan cukup beragam. Mulai dari bahaya syirik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat, termasuk bahaya syirik di media sosial.
Peserta didik juga dibekali pemahaman tentang bagaimana membumikan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari, keutamaan serta hikmah salat fardu, serta kajian Surah Ad-Dhuha dan penerapannya dalam kehidupan.
Selain itu, siswa juga diajak meneladani perjuangan tokoh-tokoh besar seperti Haji Agus Salim dan Umar bin Abdul Aziz.
Materi lainnya meliputi nilai-nilai nasionalisme dan anti korupsi, bela negara, sejarah Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang dipimpin Syafruddin Prawiranegara, serta bahaya rokok dan penyalahgunaan napza terhadap kesehatan dan masa depan generasi muda.
Tidak hanya itu, peserta didik juga mendapatkan pembekalan tentang bahaya perilaku menyimpang dan cara penanggulangannya, pemahaman mengenai sumbang duo baleh dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, praktik penyelenggaraan jenazah, serta kegiatan zikir dan doa bersama.
Berbagai materi tersebut diberikan tidak hanya untuk meningkatkan pengetahuan peserta didik, tetapi juga untuk membentuk karakter, sikap, serta keterampilan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk mengukur pemahaman siswa terhadap materi yang telah diberikan, dilaksanakan berbagai perlombaan antar kelas yang dikemas dalam kegiatan bertajuk Ramadhan Ceria.
Kegiatan ini bertujuan mempererat silaturahmi antar siswa sekaligus menumbuhkan sikap kompetitif yang sehat, tanggung jawab, serta kerja sama dalam kelompok.
Salah satu nilai utama yang ingin ditanamkan melalui kegiatan ini adalah empati. Empati merupakan kesadaran mental yang membuat seseorang mampu memahami dan merasakan keadaan orang lain.
Dari empati inilah lahir dorongan hati untuk membantu dan berbagi dengan sesama.
Sebagai bentuk nyata menumbuhkan empati tersebut, peserta didik diajak mengumpulkan infak dan sedekah yang nantinya disalurkan kepada siswa yang kurang mampu serta mereka yang telah kehilangan orang tua (yatim dan piatu).
Selain itu, UPT SMPN 2 Sungai Tarab juga melaksanakan kegiatan berbagi takjil kepada masyarakat. Kegiatan ini dapat terlaksana berkat dukungan dan partisipasi seluruh warga sekolah.
Melalui kegiatan berbagi tersebut, peserta didik diharapkan semakin peka terhadap kondisi sosial di lingkungan sekitarnya.
Rasa empati yang tumbuh dalam diri seseorang akan membawa banyak manfaat, di antaranya hidup menjadi lebih bahagia, lebih sehat secara mental, serta terhindar dari sikap sombong dan egois.
Empati juga menjadi sarana untuk melakukan evaluasi diri serta mendorong seseorang untuk terus berbuat kebajikan dalam kehidupannya.
Semoga berbagai kebaikan yang dilakukan selama bulan Ramadhan ini tidak berhenti ketika Ramadhan berlalu, tetapi terus menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga pula Ramadhan tahun ini menjadi titik awal bagi kita semua untuk menjadi pribadi yang lebih baik. (Yeva Endrita, KEPALA UPT SMPN 2 SUNGAI TARAB)
Editor : Novitri Selvia