Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Wamentan Minta HKTI Perkuat Pengawalan Program Pertanian hingga ke Petani

Heri Sugiarto • Senin, 27 April 2026 | 22:22 WIB
Wamentan Sudaryono saat menghadiri HUT ke-53 HKTI di Kementerian Pertanian, menegaskan pengawalan program pertanian hingga ke petani..(Foto: Humas)
Wamentan Sudaryono saat menghadiri HUT ke-53 HKTI di Kementerian Pertanian, menegaskan pengawalan program pertanian hingga ke petani..(Foto: Humas)

PADEK.JAWAPOS.COM-Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono meminta Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) memperkuat peran pengawalan program pertanian agar berbagai capaian positif sektor pangan benar-benar dirasakan petani di lapangan.

Pernyataan itu disampaikan pada peringatan HUT ke-53 HKTI di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (27/4).

Sudaryono menegaskan HKTI merupakan garda depan pemerintah dalam memastikan setiap kebijakan pertanian dapat diimplementasikan dengan efektif.

Ia menyebut sejumlah indikator kinerja pertanian menunjukkan perkembangan signifikan dalam setahun terakhir.

Wamentan menyampaikan bahwa Cadangan Beras Pemerintah (CBP) untuk pertama kalinya menembus lebih dari 5 juta ton, sebuah capaian historis yang menunjukkan meningkatnya ketahanan pangan nasional.

Produksi beras nasional pada 2025 juga mengalami kenaikan 4,07 juta ton atau 13,29 persen, didukung iklim produksi yang lebih baik, ketersediaan sarana prasarana, dan program intensifikasi yang terus diperluas.

Indikator kesejahteraan petani pun menunjukkan perkembangan positif. Nilai Tukar Petani (NTP) naik menjadi 125,35, tertinggi dalam 34 tahun terakhir, sementara sektor pertanian tumbuh 5,74 persen, yang merupakan rekor tertinggi dalam 25 tahun.

“Ini bukti kerja bersama. Pemerintah hadir, petani bekerja, dan HKTI ikut mengawal. Hasilnya nyata, stok pangan kita kuat,” ujar Wamentan Sudaryono, yang juga menjabat Ketua Umum DPN HKTI.

Sudaryono menegaskan bahwa HKTI bukan hanya organisasi berbasis keanggotaan, melainkan mitra strategis pemerintah yang memiliki kedekatan langsung dengan petani.

Karena itu, ia meminta HKTI memastikan tidak ada kebijakan yang berhenti pada tataran konsep.

“HKTI harus jadi mata, telinga, dan corong pemerintah. Program tidak boleh berhenti di atas kertas, harus dirasakan langsung oleh petani,” tegasnya.

Menurutnya, konsolidasi internal HKTI yang kini sudah solid tanpa dualisme membuat organisasi tersebut memiliki posisi strategis dalam menggerakkan petani dari pusat hingga daerah.

“Hari ini HKTI sudah bersatu. Ini kekuatan besar untuk menggerakkan sektor pertanian dari pusat sampai daerah,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Sudaryono menjelaskan bahwa pemerintah terus melakukan pembenahan menyeluruh mulai dari perbaikan irigasi, penyederhanaan distribusi pupuk, hingga menjaga harga gabah dan jagung tetap menguntungkan petani.

“Kita pastikan pupuk tersedia, distribusi dipermudah, dan harga tetap berpihak pada petani,” jelas Sudaryono.

Pemerintah juga mendorong peningkatan produksi dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor pangan. Ia mencontohkan beberapa komoditas seperti telur dan daging ayam yang kini telah mencapai swasembada.

“Kita optimistis produksi dalam negeri terus meningkat dan ketergantungan impor makin ditekan,” katanya.

Di akhir sambutannya, Sudaryono menegaskan bahwa seluruh upaya pemerintah dan HKTI berfokus pada penguatan posisi petani sebagai pilar utama ketahanan pangan nasional.

“Tidak ada petani yang kita tinggalkan. Ini kerja bersama untuk memastikan pertanian Indonesia semakin kuat dan berdaulat,” pungkasnya.(*)

Editor : Heri Sugiarto
#hkti #nilai tukar petani #wamentan sudaryono #cadangan beras pemerintah #Program Pertanian