PADEK.JAWAPOS.COM – Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan ketersediaan pangan nasional dalam kondisi aman dan tetap menjadi faktor penting dalam menjaga inflasi tetap terkendali.
Stabilnya pasokan beras dan sejumlah komoditas pangan strategis membuat kontribusi pangan terhadap inflasi semakin rendah.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi Mei 2026 secara tahunan (year on year/yoy) tercatat 3,08 persen, sedangkan inflasi bulanan (month to month/mtm) sebesar 0,28 persen.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan inflasi pada momentum Idul Adha tahun ini relatif lebih rendah dibandingkan saat Idul Fitri.
"Untuk Mei 2026 inflasi month to month sebesar 0,28 persen. Kalau dibandingkan dengan momen Idul Fitri, inflasi pada momen Idul Adha relatif lebih rendah. Untuk komoditas pangan, andilnya terhadap inflasi Mei juga tidak terlalu tinggi," kata Amalia dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, Senin (15/6/2026).
Menurut Amalia, komoditas yang memberi andil terhadap inflasi Mei antara lain cabai merah, minyak goreng, bawang merah, tomat, dan bensin.
Meski demikian, kontribusi komoditas pangan terhadap inflasi secara umum masih terkendali.
Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian menyampaikan bahwa beras kini relatif terjaga dan tidak lagi menjadi penyumbang utama inflasi seperti pada periode sebelumnya.
Ia juga menyebut sejumlah komoditas pangan strategis lainnya, seperti daging ayam ras, daging sapi, gula pasir, dan telur ayam ras, berada dalam kondisi yang baik.
"Beras relatif terjaga dan selama dua tahun terakhir tidak lagi menjadi penyumbang utama inflasi. Daging ayam ras, daging sapi, gula pasir, dan telur ayam ras juga berada dalam kondisi baik," ujar Tito.
Menanggapi kondisi tersebut, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut capaian itu menunjukkan produksi pangan nasional semakin kuat dan mampu menjaga stabilitas harga di tengah kebutuhan masyarakat.
"Kita syukuri beras tidak lagi menjadi penyumbang inflasi utama," kata Amran.
Untuk mempertahankan kondisi tersebut, Kementan terus memperkuat distribusi dan stabilisasi harga bersama pemerintah daerah, Bulog, dan ID Food.
Menurut Amran, kenaikan harga pada sejumlah komoditas seperti bawang merah dan minyak goreng lebih dipengaruhi persoalan distribusi dibandingkan ketersediaan pasokan.
"Bawang merah ini anomali karena kita sudah ekspor. Distribusinya yang akan kita perbaiki ke depan. Untuk minyak goreng, bahan bakunya lebih dari cukup sehingga perlu percepatan distribusi ke daerah," ujarnya.
Amran juga meminta pemerintah daerah bersama Bulog mengaktifkan pasar murah untuk menjaga keseimbangan harga, sekaligus membantu peternak ayam dan telur yang saat ini menghadapi tekanan harga.
"Kami mohon seluruh gubernur dan bupati bersama Bulog mengaktifkan pasar murah beras, ayam, dan telur. Harga ayam dan telur saat ini perlu dukungan agar Bulog dan ID Food menjadi offtaker dan menjaga keseimbangan harga," katanya.
Selain itu, Kementan telah berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) terkait peningkatan konsumsi telur dan daging ayam dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari satu kali menjadi tiga kali dalam sepekan.
"Ini bisa menjadi alat kontrol terhadap turunnya harga pangan sekaligus membantu peternak," tambahnya.
Amran menegaskan ketahanan pangan nasional saat ini semakin kuat. Dari 11 komoditas pangan yang dikendalikan pemerintah, delapan di antaranya telah swasembada, sedangkan tiga komoditas lainnya, yakni bawang putih, kedelai, dan daging, masih dipenuhi sebagian melalui impor.
"Kebutuhan kita sekitar 68 juta ton, produksi mencapai 73 juta ton. Impor hanya sekitar 3,5 juta ton atau sekitar 4 persen. Berdasarkan konsensus FAO, impor di bawah 10 persen sudah termasuk swasembada. Jadi saat ini kita sudah swasembada pangan," tegasnya.
Kementan optimistis penguatan produksi, kelancaran distribusi, dan sinergi dengan pemerintah daerah akan terus menjaga stabilitas harga pangan, mendukung pengendalian inflasi nasional, serta menjaga daya beli masyarakat.(*)
Editor : Heri Sugiarto