PADEK.JAWAPOS.COM - PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA), anggota Holding BUMN Pertambangan MIND ID, meresmikan NUSA (Nursery Mangrove Unggul Semai Adaptif) di Dusun Pulau Waru, Desa Purworejo, Kecamatan Pasir Sakti, Kabupaten Lampung Timur, Senin (29/6/2026).
Peresmian NUSA merupakan bagian dari komitmen PTBA dalam membangun ekosistem rehabilitasi mangrove yang berkelanjutan melalui pemberdayaan masyarakat.
Sustainable Community Development Section Head PTBA, Ajis Purnomo, mengatakan NUSA menjadi pusat persemaian mangrove adaptif yang dikelola bersama masyarakat untuk mendukung keberlanjutan rehabilitasi mangrove.
"NUSA adalah pusat persemaian mangrove adaptif berbasis pemberdayaan masyarakat yang menghasilkan bibit mangrove berkualitas melalui metode SAM-SAKTI yang dalam prosesnya ini dipimpin oleh Pak Samsudin. Melalui peresmian ini, kami ingin menjamin keberlanjutan rehabilitasi mangrove melalui penyediaan bibit adaptif yang dikelola bersama masyarakat," jelas Ajis.
Pasir Sakti dipilih sebagai lokasi peresmian karena telah menjadi contoh praktik rehabilitasi mangrove hasil kolaborasi PTBA bersama Kelompok Tani Hutan (KTH) Mutiara Hijau I serta berbagai pemangku kepentingan.
Ia mengatakan kawasan tersebut berhasil memulihkan wilayah yang terdampak abrasi menjadi ekosistem mangrove yang kembali produktif sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
"Pasir Sakti merupakan kawasan yang berhasil mengubah wilayah terdampak abrasi menjadi ekosistem mangrove yang pulih, produktif, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Kehadiran NUSA semakin memperkuat Pasir Sakti sebagai pusat pembibitan dan pengembangan mangrove dalam ekosistem BA-MAXI (Bukit Asam Mangrove Nexus Initiative)," tuturnya.
Ketua KTH Mutiara Hijau I, Samsudin, menjelaskan pengembangan persemaian mangrove dimulai sejak awal tahun 2000-an melalui proses belajar secara mandiri dan berbagi pengetahuan dengan berbagai pihak.
Berbekal pengalaman tersebut, kelompoknya mengembangkan teknik pembibitan yang semakin adaptif terhadap kondisi pesisir.
Saat ini, kata Samsudin, persemaian tersebut mampu memproduksi sekitar 500.000 bibit mangrove per tahun, dengan kapasitas tertinggi yang pernah dicapai sekitar 650.000 bibit per tahun.
Ia menjelaskan, sebanyak 11 jenis mangrove dibudidayakan di lokasi tersebut, di antaranya Rhizophora apiculata, Rhizophora stylosa, Rhizophora mucronata, mangrove jenis api-api (Avicennia), serta Bruguiera atau yang dikenal masyarakat setempat sebagai lacang.
Samsudin mengatakan salah satu inovasi dalam metode SAM-SAKTI adalah sistem persemaian yang memanfaatkan mekanisme pasang surut air laut.
Menurutnya, metode tersebut memungkinkan bibit memperoleh suplai air secara alami tanpa penyiraman manual sehingga lebih adaptif terhadap kondisi lapangan, lebih efisien dalam pemeliharaan, serta menghasilkan bibit yang lebih tangguh saat ditanam di kawasan rehabilitasi.
Meski demikian, ia mengakui tantangan utama yang dihadapi adalah pemasaran bibit mangrove. Karena itu, kelompoknya terus membangun kemitraan dengan pemerintah, dunia usaha, dan berbagai program rehabilitasi lingkungan agar produksi bibit dapat terserap secara optimal.
PTBA berharap peresmian NUSA dapat meningkatkan kapasitas pembibitan mangrove berbasis masyarakat sekaligus mendukung berbagai program rehabilitasi pesisir yang dijalankan perusahaan di Indonesia.
"Kami berharap NUSA menjadi pusat pembelajaran, inovasi, sekaligus inspirasi bagi kelompok masyarakat lainnya untuk bersama-sama menjaga ekosistem pesisir Indonesia," tutup Ajis.(*)
Editor : Heri Sugiarto