PADEK.JAWAPOS.COM – Indonesia dan Amerika Serikat memperkuat kerja sama kesiapsiagaan bencana melalui program Pacific Partnership 2026 (PP26) yang berlangsung selama dua pekan di Kota Sibolga, Sumatera Utara.
Sebanyak 13 personel Amerika Serikat mengikuti rangkaian pelatihan bersama Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan responder nasional Indonesia dalam kegiatan manajemen bencana. Program ini difokuskan pada peningkatan kapasitas respons bencana, pertukaran keahlian, serta penyempurnaan prosedur penanganan bencana.
Sejak 20 Juli, peserta dari Hawaii Army National Guard 7th Engineer Battalion dan Center for Excellence–Disaster Management berlatih bersama personel TNI dalam perencanaan respons bencana, penyelamatan di perairan, serta pelatihan Urban Search and Rescue (USAR). Seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan latihan lapangan selama dua hari.
Komandan Misi Pacific Partnership 2026, Kapten Angkatan Laut Amerika Serikat Robert Reyes, mengatakan kegiatan tersebut menegaskan komitmen jangka panjang kedua negara dalam memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana.
"Ini merupakan kali ketujuh Pacific Partnership dilaksanakan di Indonesia. Hubungan kerja sama yang telah terjalin semakin memperkuat kemampuan kolaboratif dan kesiapsiagaan bencana kedua negara," ujarnya.
Menurut Reyes, seluruh pelatihan dirancang untuk meningkatkan koordinasi sebelum bencana terjadi melalui perpaduan sesi perencanaan bersama, simulasi lapangan, dan pertukaran pengalaman antarpeserta.
Selain pelatihan teknis, peserta juga mempraktikkan teknik evakuasi korban di kawasan pesisir, penyelamatan di perairan, hingga operasi penyelamatan vertikal menggunakan sistem tali dan peralatan teknis untuk mengevakuasi korban dari bangunan bertingkat.
Di sisi lain, para spesialis manajemen bencana menggelar seminar bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) guna memperkuat koordinasi antara unsur militer, pemerintah, dan organisasi kemanusiaan dalam sistem komando terpadu.
Ketua Tim Manajemen Bencana PP26 di Indonesia, Kapten Angkatan Darat Amerika Serikat Nathanael Wrye, mengatakan latihan bersama tersebut menjadi kesempatan untuk saling memahami kemampuan masing-masing personel dalam menghadapi berbagai skenario bencana.
"Latihan ini meningkatkan kemampuan bersama dalam menyusun rencana dan strategi penanganan bencana," katanya.
Komandan Satgas TNI pada Pacific Partnership 2026, Kapten TNI Hisnindarsyah, menilai kerja sama tersebut memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kapasitas penanggulangan bencana di Indonesia.
Menurutnya, Pacific Partnership tidak hanya menjadi misi kemanusiaan, tetapi juga sarana memperkuat koordinasi antarinstansi, meningkatkan kemampuan sumber daya manusia, menguji prosedur tanggap darurat, serta memperkuat interoperabilitas antara TNI, pemerintah daerah, dan mitra internasional.
Pacific Partnership merupakan misi tahunan multinasional yang telah memasuki penyelenggaraan ke-22 dan menjadi salah satu program terbesar di kawasan Indo-Pasifik dalam bidang bantuan kemanusiaan dan kesiapsiagaan bencana.
Program ini bertujuan meningkatkan interoperabilitas regional, memperkuat kemampuan respons bencana, serta mempererat hubungan kerja sama antarnegara di kawasan. (rel)