JAKARTA, PADEK.JAWAPOS.COM—Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mampu mengoptimalkan waktu peringatan dini tsunami menjadi kurang dari tiga menit setelah data terdeteksi di lapangan melalui revitalisasi Multi-Hazard Early Warning System (MHEWS) yang terintegrasi dengan kecerdasan buatan (AI) dan superkomputer kebencanaan SMONG.
Penguatan sistem tersebut menjadi bagian dari upaya BMKG memastikan informasi bencana tidak berhenti di sisi hulu, tetapi dapat diteruskan dan dimanfaatkan secara cepat oleh pemangku kepentingan hingga ke masyarakat.
Ketua Tim Hubungan Pers dan Media BMKG, Dwi Rini Endra Sari, mengatakan tantangan yang dihadapi saat ini adalah sering terputusnya mata rantai informasi dari hulu ke hilir.
“BMKG berada di posisi upstream (hulu) yang mengamati dan menyampaikan informasi cuaca, iklim, hingga gempa bumi selama 24/7. Agar informasi peringatan dini ini efektif mencegah korban jiwa, peran stakeholders sangat krusial untuk memastikan rantai informasi dari kami bisa tersampaikan dan dimanfaatkan dengan baik di sisi hilir,” tegas Rini di Jakarta, Sabtu (1/8/2026).
SMONG Perkuat Sistem Peringatan Dini
SMONG merupakan singkatan dari Supercomputer for Multi-Hazards Operations and Numerical Modelling. Istilah tersebut terinspirasi dari kearifan lokal masyarakat Simeulue, Aceh, yang menggambarkan tanda akan datangnya tsunami.
Superkomputer ini menjadi bagian dari penguatan sistem informasi BMKG dan memiliki performa komputasi hingga 5 PFlops.
Kemampuan tersebut didukung processing power 3 PFlops yang terdiri dari CPU 1,5 PFlops, GPU 1 PFlops, dan Experimental HPC 0,5 PFlops.
BMKG juga menerapkan teknologi water cooling yang disebut mampu menghemat energi hingga 40 persen dan meningkatkan performa sistem hingga 10 persen.
Selain itu, kecerdasan buatan digunakan untuk membuat informasi BMKG lebih mudah dipahami dan mempercepat penyebarluasan informasi kepada masyarakat.
Empat Sistem Terintegrasi dalam MHEWS
Command Center MHEWS BMKG mengintegrasikan empat sistem peringatan dini, yakni Meteorology Early Warning System (MEWS), Climate Early Warning System (CEWS), Earthquake Early Warning System (EEWS), dan Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS).
InaTEWS tidak hanya melakukan pemodelan skenario tsunami akibat gempa tektonik, tetapi juga mencakup aktivitas gunung api dan longsoran bawah laut.
Sementara MEWS menyediakan prakiraan cuaca lebih spesifik hingga tingkat desa atau kelurahan dengan jangkauan hingga 10 hari ke depan.
BMKG juga telah menyediakan sistem cadangan atau back-up system di Bali untuk memastikan layanan tetap berjalan dalam kondisi darurat.
Data BMKG Dukung Keselamatan Transportasi
Penguatan sistem tersebut turut dibahas dalam kunjungan PT Jasa Raharja ke Command Center MHEWS BMKG untuk melakukan benchmarking pengembangan command center, Kamis, 26 Juni lalu.
Kepala Urusan Manajemen Data dan Analitik PT Jasa Raharja, Arief Prabawa Putra, mengatakan data BMKG dapat menjadi instrumen penting untuk pemetaan risiko dan manajemen keselamatan transportasi.
“Bagi Jasa Raharja, data dan informasi dari BMKG merupakan insight yang sangat berharga. Melalui integrasi data cuaca ekstrem dan potensi bencana dari MHEWS ini, kami dapat melakukan analisis manajemen risiko yang lebih akurat, memetakan rute transportasi yang rawan, serta memberikan peringatan yang lebih cepat kepada ekosistem transportasi,” ungkap Arief.
BMKG terus berupaya meningkatkan kemampuan komputasi SMONG hingga 50 PFlops untuk mendukung pelayanan yang optimal. Sinergi data dan teknologi tersebut diharapkan memperkuat rantai peringatan dini sehingga informasi dapat dimanfaatkan lebih cepat untuk keselamatan publik.(*)
Editor : Hendra Efison