PADEK.JAWAPOS.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan produksi beras nasional untuk konsumsi pangan masyarakat sepanjang Januari hingga September 2026 mencapai 28,71 juta ton.
Angka tersebut meningkat 0,01 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025, dan mencerminkan tren positif sektor pertanian nasional di tengah dinamika musim tanam.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan proyeksi tersebut menunjukkan produksi beras nasional masih berada dalam tren yang positif.
"Produksi beras sepanjang Januari sampai dengan September 2026 diperkirakan mencapai 28,71 juta ton, meningkat sebesar 0,01 persen dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2025," ujar Ateng dalam Berita Resmi Statistik (BRS) BPS, Senin (3/8).
Secara bulanan, produksi beras pada Juni 2026 juga menunjukkan peningkatan. BPS memperkirakan produksi beras pada bulan tersebut mencapai 2,47 juta ton, naik 6,9 persen dibandingkan Juni 2025 yang sebesar 2,31 juta ton.
"Produksi beras untuk konsumsi pangan masyarakat pada bulan Juni tahun 2026 diperkirakan sebesar 2,47 juta ton atau mengalami peningkatan 6,9 persen dibandingkan dengan Juni 2025 yang sebesar 2,31 juta ton," kata Ateng.
Sementara itu, potensi produksi beras pada periode Juli hingga September 2026 diperkirakan mencapai 9,36 juta ton, yang diharapkan menjadi penopang utama ketersediaan beras nasional pada triwulan ketiga tahun ini.
Peningkatan proyeksi produksi beras tersebut didukung oleh tren positif produksi padi dan bertambahnya luas panen sepanjang Januari–September 2026. Luas panen menjadi dasar perhitungan produksi gabah kering giling (GKG) sebelum dikonversi menjadi produksi beras untuk konsumsi pangan masyarakat.
BPS memperkirakan produksi padi sepanjang Januari hingga September 2026 mencapai 49,84 juta ton GKG, atau meningkat sekitar 0,01 juta ton GKG dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
"Produksi padi sepanjang Januari sampai dengan September tahun 2026 diperkirakan mencapai 49,84 juta ton GKG atau mengalami peningkatan sebesar 0,01 juta ton GKG dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025," ujar Ateng.
Produksi padi pada Juni 2026 juga diperkirakan meningkat menjadi 4,29 juta ton GKG, naik 7,02 persen dibandingkan Juni 2025 yang sebesar 4,01 juta ton GKG.
Adapun potensi produksi padi pada Juli hingga September 2026 diperkirakan mencapai 16,25 juta ton GKG, seiring masih luasnya tanaman padi yang memasuki fase produktif dan siap dipanen.
Dari sisi luas panen, BPS memperkirakan luas panen padi sepanjang Januari hingga September 2026 mencapai 9,46 juta hektare, meningkat sekitar 0,01 juta hektare atau 0,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pada Juni 2026, luas panen tercatat 0,84 juta hektare, naik 6,93 persen dibandingkan Juni 2025 yang sebesar 0,79 juta hektare. Sementara itu, potensi luas panen selama Juli hingga September 2026 diperkirakan mencapai 3,15 juta hektare.
Ateng menjelaskan hasil pengamatan Kerangka Sampel Area (KSA) pada Juni 2026 menunjukkan aktivitas budidaya padi nasional masih berlangsung dengan baik. Sebanyak 40,27 persen lahan pertanian berada pada fase standing crop atau sedang ditanami padi, 28,89 persen ditanami komoditas selain padi, 11,78 persen berada dalam kondisi bera, 10,66 persen telah dipanen, dan 8,16 persen sedang dalam tahap persiapan lahan.
Dari total lahan yang berada pada fase standing crop tersebut, mayoritas tanaman padi telah memasuki fase generatif sebesar 13,34 persen. Tanaman pada fase ini diperkirakan memasuki masa panen pada Juli 2026 sehingga berpotensi menopang produksi padi dan beras nasional pada triwulan ketiga tahun ini.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan peningkatan produksi beras nasional menunjukkan berbagai program percepatan produksi yang dijalankan pemerintah mulai memberikan hasil.
Menurutnya, capaian tersebut menjadi modal penting untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus mempercepat terwujudnya swasembada pangan berkelanjutan.
"Di tengah tantangan iklim, produksi pangan tidak boleh turun. Justru seluruh jajaran pertanian harus bergerak lebih cepat memastikan petani tetap berproduksi dengan optimal," ujar Amran.
Ia menambahkan Kementerian Pertanian telah mengantisipasi potensi kekeringan melalui berbagai langkah mitigasi, di antaranya percepatan luas tambah tanam, optimasi lahan, pompanisasi, penyediaan alat dan mesin pertanian, serta pendampingan intensif kepada petani di sentra-sentra produksi.
Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga ketersediaan air dan memastikan aktivitas budidaya tetap berjalan selama musim kemarau.(*)
Editor : Heri Sugiarto