Erupsi Anak Krakatau Ganggu Penerbangan, 4 Bandara Ditutup, BNPB Siapkan Water Mist

Heri Sugiarto • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 14:32 WIB
Aktivitas penumpang di Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Padang. Jumlah penerbangan yang dibatalkan akibat dampak erupsi Anak Gunung Krakatau bertambah menjadi 21 penerbangan, Minggu (6/9/2026). (Dok. Padek)
Aktivitas penumpang di Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Padang. Jumlah penerbangan yang dibatalkan akibat dampak erupsi Anak Gunung Krakatau bertambah menjadi 21 penerbangan, Minggu (6/9/2026). (Dok. Padek)

PADEK.JAWAPOS.COM — BNPB terus memperkuat penanganan dan pemantauan pascaerupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda. Bersama BMKG, BNPB melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) dan menyiapkan penyebaran water mist untuk membantu mengurai partikel abu vulkanik di udara.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, Ph.D sebelumnya menyampaikan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, masih berlangsung.

Erupsi menerus mulai teramati pada Jumat (4/9) sekitar pukul 23.07 WIB. Aktivitas tersebut disertai suara gemuruh atau dentuman serta fenomena lava fountain.

Perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau juga mulai berdampak terhadap operasional penerbangan. Berdasarkan pemutakhiran status operasional bandara pada Minggu (6/9) pukul 07.41 WIB, empat bandara mengalami penutupan sementara sebagai langkah keselamatan penerbangan.

Keempat bandara tersebut yakni Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Radin Inten II Lampung, dan Bandara Budiarto Curug.

Baca Juga: Erupsi Gunung Anak Krakatau, Ini Daftar 21 Penerbangan di BIM yang Batal

Bandara Soekarno-Hatta (CGK) ditutup pada pukul 02.08–09.30 WIB. Bandara Halim Perdanakusuma (HLP) ditutup pada pukul 07.20–10.00 WIB. Sementara Bandara Radin Inten II Lampung (TKG) ditutup pada pukul 04.18–10.00 WIB dan Bandara Budiarto Curug (RTO) pada pukul 06.48–09.30 WIB.

“Penutupan tersebut dilakukan sebagai langkah keselamatan menyusul sebaran abu vulkanik di ruang udara. Status operasional masing-masing bandara dapat berubah mengikuti perkembangan sebaran abu, kondisi ruang udara dan hasil pemantauan keselamatan penerbangan. Masyarakat pengguna jasa penerbangan diharapkan memantau informasi terbaru dari operator bandara dan otoritas penerbangan sebelum melakukan perjalanan,” jelas Berton.

Selain itu, imbasnya 21 penerbangan dari dan ke Bandara Internasional Minangkabau (BIM) di Kabupaten Padangpariaman, Sumatera Barat, juga mengalami pembatalan. 

BNPB Perkuat Pemantauan dan Kesiapsiagaan

Menghadapi perkembangan tersebut, upaya pemantauan dan kesiapsiagaan terus diperkuat. BNPB bersama pemerintah daerah, PVMBG/Badan Geologi, Basarnas dan unsur terkait melakukan pemantauan, koordinasi serta penanganan sesuai perkembangan kondisi di lapangan.

Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto, S.Sos., M.M. menyampaikan bahwa BNPB telah berkomunikasi dengan BPBD kabupaten terdampak untuk memantau perkembangan kondisi di lapangan, dampak yang dirasakan masyarakat, hingga kebutuhan mendesak yang perlu segera dipenuhi.

Sebanyak 10 personel BNPB juga diterjunkan untuk memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau sekaligus berkoordinasi dengan pemerintah daerah.

Kesiapsiagaan daerah diperkuat melalui pengecekan prasarana dan perangkat evakuasi, seperti sirine, rambu evakuasi, serta ketersediaan gudang logistik.

Di Kabupaten Serang, Pusdalops BPBD melakukan pemantauan aktivitas dan sebaran abu vulkanik, inventarisasi dampak serta koordinasi dengan BPBD Provinsi Banten, pemerintah kecamatan, desa/kelurahan dan unsur terkait.

Langkah serupa dilakukan di Lampung Selatan melalui koordinasi BPBD dengan BPBD Provinsi Lampung, Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau dan instansi terkait. Tim Reaksi Cepat juga melakukan patroli di wilayah pesisir selatan Kalianda serta pemantauan sebaran abu melalui satelit.

Dukungan Masker dan Kesiapsiagaan SAR

Kesiapsiagaan masyarakat diperkuat melalui dukungan perlindungan kesehatan. BPBD Kabupaten Lampung Selatan bersama Dinas Kesehatan sebelumnya telah mendistribusikan sekitar 3.000 masker kepada masyarakat di sejumlah desa di Kecamatan Rajabasa pada 18 Agustus 2026.

Baca Juga: Kabut Asap Padang Makin Pekat, PM2.5 Tembus 84 µg/m³

Personel penanggulangan bencana dan unsur terkait juga disiagakan untuk mengantisipasi perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Sementara di Kabupaten Tanggamus, BPBD berkoordinasi dengan TNI, Polri dan organisasi perangkat daerah melalui Pusdalops Penanggulangan Bencana. Dukungan layanan kesehatan dan pembagian masker kepada masyarakat dilakukan, dengan kebutuhan mendesak berupa masker dan obat-obatan.

Untuk mengantisipasi kemungkinan kondisi darurat di wilayah perairan, unsur SAR juga berada dalam kesiapsiagaan.

Basarnas Lampung menyiagakan personel pada tiga pos SAR, masing-masing 12 personel di Pos SAR Bakauheni, Pos SAR Tanggamus dan Pos SAR Tulang Bawang. Satu unit Rigid Inflatable Boat (RIB) berkapasitas sekitar 15 orang juga disiagakan di Bakauheni.

Potensi Tsunami dan Pemantauan Wilayah

Selain potensi dampak erupsi, aspek keselamatan masyarakat pesisir juga menjadi perhatian, termasuk potensi tsunami.

Badan Geologi menyampaikan bahwa pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, aktivitas erupsi saat ini tidak berpotensi menyebabkan runtuhan tubuh gunung api dalam skala besar yang dapat memicu tsunami.

Untuk mendukung pemantauan aktivitas, Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, berada sekitar 47 kilometer dari Gunung Anak Krakatau.

Sementara Pos Pengamatan Kalianda berada di Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, sekitar 40 kilometer dari Gunung Anak Krakatau.

Pemantauan juga mencakup kondisi masyarakat di wilayah kepulauan sekitar Selat Sunda. Jumlah penduduk Pulau Sebesi diperkirakan sekitar 3.000 jiwa, sedangkan kondisi Pulau Sebuku masih dalam pendataan.

Imbauan untuk Masyarakat

BNPB mengimbau masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak abu vulkanik untuk tetap tenang dan tidak panik.

Masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan diminta menggunakan masker dan pelindung mata, terutama ketika terjadi hujan abu atau konsentrasi abu meningkat.

Masyarakat juga diminta mengurangi aktivitas di luar rumah apabila sebaran abu meningkat, menutup sumber air dan makanan agar tidak terkontaminasi abu, serta membersihkan abu vulkanik dengan memperhatikan keselamatan.

Selanjutnya, masyarakat tidak diperkenankan mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif, sesuai rekomendasi PVMBG. Nelayan, wisatawan dan pengguna kapal tradisional juga diminta tidak melakukan aktivitas di sekitar kawasan gunung api yang masuk dalam radius bahaya.

Bagi masyarakat yang merasakan suara dentuman atau getaran, BNPB mengimbau agar tetap tenang dan tidak menyebarluaskan informasi yang belum terverifikasi.

Informasi resmi mengenai perkembangan Gunung Anak Krakatau dapat diperoleh melalui BNPB, PVMBG/Badan Geologi, MAGMA Indonesia dan BPBD setempat.(*)

Editor : Heri Sugiarto
water mist erupsi Gunung Anak Krakatau bnpb abu vulkanik gunung anak krakatau