Unjuk rasa ini adalah yang pertama setelah Prayuth mengabaikan batas waktu ultimatum mundur dari jabatan, selama tiga hari. Tepatnya pada Sabtu (24/10) pukul 22.00.
”Tidak akan mundur,” katanya kepada wartawan setelah sembahyang Buddha di kuil bersejarah, Wat Chetuphon Wimon Mangkhalaram, Sabtu (24/10). Ibadah ini untuk memohon pemulihan nasional setelah berbulan-bulan unjuk rasa menuntut reformasi pemerintahan dan monarki. ”Semua masalah bisa diselesaikan secara bersama-sama, pemerintah memiliki niat nyata untuk menyelesaikan masalah selama itu sesuai aturan hukum,” sambungya.
Letjen Pol Pakkapong Pongpetra, Biro Kepolisian Metropolitan, mendesak para pengunjuk rasa menggelar aksi secara damai. Ia juga meminta aksi yang digerakkan mahasiswa itu menerapkan jaga jarak dan mengenakan masker untuk mencegah penyebaran Covid-19.
Polisi juga mengingatkan massa yang menyebut diri sebagai pro demokrasi agar menghindari konfrontasi dengan kaum royalis (pro kerajaan) dan orang-orang yang menentang unjuk rasa.
Sekelompok orang berpakaian kuning, pro kerajaan, berkumpul di luar Parlemen. Mereka ingin menekan anggota parlemen agar reformasi monarki tidak masuk dalam agenda sidang dua hari, yang dimulai Senin.
Jajak pendapat Suan Dusit yang dirilis pada Minggu menunjukkan, kebanyakan orang berpikir pemerintah mengadakan pembicaraan dengan pengunjuk rasa. Sementara survei Institut Administrasi Pembangunan Nasional mengatakan responden khawatir dengan demonstrasi yang berlanjut. (mel/jpg) Editor : Novitri Selvia