PADEK.JAWAPOS.COM-YouTube, sebagai platform video terbesar di dunia, telah mengumumkan upaya globalnya dalam menghadapi masalah pemblokir iklan.
Christopher Lawton, manajer komunikasi YouTube, menjelaskan bahwa mereka mendorong pengguna untuk mengizinkan iklan atau mencoba YouTube Premium.
Pengguna yang melakukan pemblokiran iklan akan melihat pemberitahuan yang menginformasikan bahwa "pemutaran video diblokir kecuali YouTube diizinkan atau pemblokir iklan dinonaktifkan." Upaya ini juga mencakup permintaan untuk mengizinkan iklan atau mencoba YouTube Premium.
Terkait dengan pengguna yang masih menggunakan pemblokir iklan, YouTube telah meningkatkan tindakan penonaktifan video secara signifikan.
YouTube mengklaim bahwa tindakan ini diperkenalkan sebagai "eksperimen kecil secara global" pada bulan Juni, tetapi saat ini telah diperluas.
Lawton menjelaskan bahwa "penggunaan pemblokir iklan" melanggar persyaratan layanan platform ini. "Iklan mendukung beragam ekosistem pembuat konten secara global serta memungkinkan miliaran orang mengakses konten favorit di YouTube," katanya kepada The Verge.
Tahun ini, YouTube telah membuat beberapa perubahan pada cara iklan beroperasi di platformnya. Perusahaan ini memperkenalkan iklan berdurasi 30 detik yang tidak dapat dilewati atau skip ke aplikasi TV-nya pada Mei dan kemudian mulai bereksperimen dengan jeda iklan yang lebih lama namun lebih jarang di TV.
YouTube mungkin berharap jeda iklan yang panjang akan mendorong lebih banyak pengguna untuk berlangganan YouTube Premium bebas iklan. Tapi, kenaikan harga sebesar $2 dan penghentian paket Premium Lite yang lebih murah mungkin membuat opsi ini menjadi kurang menarik.
Hasil Survei
Sementara itu, menurut penelitian Tinuiti seperti dilansir Social Media Today, sekitar 31% konsumen dewasa AS saat ini menggunakan pemblokir iklan, sebuah segmen yang terus berkembang dari waktu ke waktu.
Menurut Tinuiti, mereka menggunakan pemblokir iklan untuk melindungi privasi, dengan generasi baby boomer (31%) lebih cenderung menggunakan teknologi tersebut dibandingkan Generasi Z (27%).
Elemen itulah yang menyebabkan regulator Eropa menambahkan klausul penyisihan penggunaan data baru dalam Undang-Undang Layanan Digital (DSA), yang berarti bahwa semua platform online yang beroperasi di Eropa kini perlu menyediakan cara bagi pengguna untuk menghentikan penggunaan data mereka untuk penargetan iklan.
Kondisi itu, tampaknya akan membuat banyak orang sekarang menerapkan opsi berbayar dan bebas iklan, seperti yang diluncurkan Meta minggu ini.
Namun berdasarkan fakta, hanya sedikit orang yang bersedia membayar. Misalnya, dalam survei Tinuiti pada Maret 2023, sebanyak 82% konsumen AS mengatakan mereka akan terus menggunakan platform seperti Google, Facebook, Instagram, Pinterest, dan outlet berita dan media lainnya secara gratis dengan iklan daripada membayar untuk menggunakannya.
Konsumen yang lebih muda lebih cenderung menggunakan pemblokir iklan, dengan kelompok usia 25 hingga 34 tahun menempati posisi teratas.
Di AS, lebih dari 50% orang dewasa menggunakan pemblokir iklan di desktop mereka, berdasarkan data CivicScience Maret 2021.
Saat pengguna menggunakan pemblokir iklan, teknologi ini mempersulit pengiklan untuk melacak dan mengukur kampanye iklan mereka, yang dapat berdampak negatif terhadap pendapatan iklan.(vge/ini) Editor : Admin Padek