Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Tukar 10 Tawanan Untuk Tambah Gencatan: Hamas-Israel Sepakat Hentikan Sementara Perang

Novitri Selvia • Kamis, 23 November 2023 | 10:18 WIB
Roket ditembakkan dari Gaza menuju Israel. [Foto: Mohammed Salem/
Roket ditembakkan dari Gaza menuju Israel. [Foto: Mohammed Salem/
Bila berjalan sesuai kesepakatan, mulai pagi ini tidak ada ledakan dari rudal-rudal yang ditembakkan di Jalur Gaza. Hamas dan Israel sudah menyepakati gencatan senjata meski belum satu suara terkait penetapan jam berlakunya. Media Israel menyatakan, gencatan senjata akan dimulai pukul 06.30 waktu setempat.

Namun, menurut anggota Biro Politik Hamas Mousa Abu Marzouk, penghentian perang diperkirakan dimulai pukul 10.00. “Tidak akan ada pesawat tempur atau lalu lintas udara di Gaza dari pukul 10 pagi sampai 4 sore,” ujarnya seperti dikutip Al Jazeera.

Dalam kesepakatan yang dimediasi oleh Qatar tersebut, Hamas bakal melepaskan 50 tawanan dari warga sipil. Sebagai gantinya, Israel juga akan membebaskan 150 tahanan perempuan dan anak-anak.

Gencatan senjata bakal berlangsung selama 4 hari. Seandainya Hamas mau membebaskan lebih banyak sandera, penghentian perang akan diperpanjang, yaitu 10 tawanan untuk tambahan 1 hari.

Selama periode gencatan senjata, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) tidak boleh menyerang wilayah selatan Gaza. Itu adalah area yang dekat dengan Mesir dan dipakai penduduk mengungsi. Serangan di wilayah utara dibatasi 6 jam per hari. Selama periode gencatan senjata, IDF juga tidak boleh membawa kendaraan militer ke Gaza dan menangkap siapa pun.

Kementerian Luar Negeri Qatar menyatakan bahwa gencatan senjata akan memungkinkan masuknya konvoi kemanusiaan dan bantuan kemanusiaan dalam jumlah yang lebih besar. Termasuk bahan bakar untuk menghidupkan generator listrik. Penambahan masuknya bantuan kemanusiaan itu juga merupakan bagian dari kesepakatan.

Kemarin (22/11) Israel merilis kepada publik 300 nama tahanan yang berpeluang dibebaskan. Itu dilakukan untuk memberi peluang penduduk apabila mereka keberatan dengan nama-nama tersebut. Rencananya, Palang Merah akan membantu proses penyerahan tawanan.

Daftar pertama nama para tawanan akan diberikan kepada pihak Israel tadi malam. Hamas akan memberikan kepada Israel daftar sekitar 10 nama setiap hari. Rencananya, para tawanan akan diberikan kepada Palang Merah. Mereka akan dibawa ke selatan menuju penyeberangan Rafah menuju Mesir dan kemudian pulang ke Israel.

Bagi Israel, itu seperti menjilat ludah sendiri. Berkali-kali Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menyatakan tidak akan melakukan gencatan senjata, kecuali semua tawanan dibebaskan. Menurut dia, gencatan senjata akan menguntungkan Hamas karena mereka bisa berkumpul dan menyatukan kekuatan kembali. Hal itu juga didukung Amerika Serikat (AS).

Juru Bicara Internasional IDF Letkol Richard Hecht berusaha berdalih bahwa itu bukan gencatan senjata. Melainkan hanya jeda operasional. Itu mengisyaratkan bahwa pengeboman Israel dapat dimulai kembali kapan pun pertukaran sandera selesai. Hecht kemarin siang mengaku belum menerima perintah terkait perincian selama gencatan senjata berlangsung.

Beberapa anggota kabinet perang Netanyahu menolak mentah-mentah gencatan senjata tersebut. Salah satunya Menteri Keamanan Nasional Ben-Gvir. Menurut dia, hal itu menjadi preseden berbahaya dalam kaitannya dengan apa yang bakal terjadi selanjutnya.

Beberapa menteri lainnya yang sempat menentang telah berubah pikiran setelah diyakinkan Netanyahu bahwa setelah gencatan senjata, perang akan berlanjut dan misi mereka menghancurkan Hamas tidak berubah.

Mantan PM Israel Ehud Olmert mengatakan, Israel harus menggunakan gencatan senjata itu untuk menggulingkan Netanyahu. Menurut dia, penduduk Israel sudah marah dan tidak tahan dengan Netanyahu. “Dia harus pergi hari ini. Dia harus hengkang sekarang juga. Dia harus diusir dengan cara apa pun,” tegasnya.

Hasil Diplomasi

Terpisah, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken menyatakan, kesepakatan itu adalah hasil diplomasi yang tak kenal lelah dan upaya tanpa henti di seluruh departemen dan pemerintah AS.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen juga menjelaskan bahwa UE akan berusaha memanfaatkan momen tersebut untuk menyalurkan lebih banyak bantuan kemanusiaan. Sebelum gencatan senjata, serangan Israel justru lebih brutal.

Serangan pada Selasa (21/11) malam dan kemarin di kamp-kamp pengungsian serta dekat rumah sakit (RS) telah menewaskan setidaknya 100 orang. IDF menyerang RS Kamal Adwan di Gaza Utara. Mereka juga terus mengepung RS Indonesia dan secara paksa mengevakuasi semua orang yang mengungsi di dalam RS.

Sembilan warga Palestina tewas dan puluhan lainnya terluka, termasuk anak-anak, dalam serangan udara Israel di kamp pengungsi Nuseirat di Gaza Tengah. Serangan lainnya juga terjadi di Falujah dan Rafah. Direktur RS Kamal Adwan mengungkapkan bahwa pihaknya menerima 60 jenazah. Serangan di Tepi Barat juga menyebabkan enam warga Palestina tewas.

Sejak perang berlangsung, Israel telah membunuh setidaknya 14.100 penduduk Gaza dengan lebih dari 5.600 orang di antaranya adalah anak-anak. Sebanyak 33 ribu orang terluka dan 6.800 orang hilang.

Jumlah itu lebih sedikit daripada perkiraan Euro-Mediterranean Human Rights Monitor yang menyatakan hingga 20 November korban tewas di Gaza mencapai 16.413 orang. Itu berarti satu dari setiap 142 warga sipil Palestina terbunuh dalam 1,5 bulan. Jumlah anak-anak yang tewas dalam perang di Gaza mencapai 42 persen.

Sebagai perbandingan, dalam perang di Syria, korban anak hanya 10 persen. Lalu, perang Iraq 8,6 persen dan pada perang Ukraina 6 persen. “Angka-angka ini memberikan gambaran betapa brutalnya apa yang terjadi di Gaza,” ujar kolumnis The Guardian Owen Jones. (sha/c9/fal/jpg) Editor : Novitri Selvia
#hamas #benjamin netanyahu #Israel #idf #Mousa Abu Marzouk #gencatan senjata #gaza