Hamas dalam sebuah pernyataannya mengatakan bahwa Haniyeh dibunuh dalam serangan yang mereka sebut sebagai "serangan berbahaya Zionis".
"Haniyeh dan salah satu pengawalnya tewas setelah gedung tempat mereka menginap diserang," kata pernyataan Hamas seperti dilansir dari Al Jazeera.
Haniyeh berada di Teheran untuk menghadiri upacara pelantikan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Selasa (30/7/2024).
Garda Revolusi Iran (IRGC) mengeluarkan pernyataan yang mengatakan pihaknya sedang menyelidiki pembunuhan pemimpin politik Hamas tersebut.
"Kediaman Ismail Haniyeh, kepala kantor politik Perlawanan Islam Hamas, diserang di Teheran, dan akibat insiden ini, dia dan salah satu pengawalnya tewas," kata IRGC.
Haniyeh meninggalkan Jalur Gaza tahun 2019 dan tinggal di Qatar. Pemimpin tertinggi Hamas di Gaza adalah Yahya Sinwar.
Dia adalah pemimpin negosiasi yang diharapkan rakyat Gaza bisa menghasilkan gencatan senjata.
Jurnalis Al Jazeera Hani Mahmoud, yang berada di Deir el-Balah Gaza, mengatakan bahwa warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat memandang Ismail Haniyeh sebagai pemimpin moderat yang jauh lebih pragmatis dibandingkan pemimpin lain yang memimpin gerakan Hamas.
“Dia sangat populer di sini (Gaza). Dia tumbuh di kamp pengungsian. Dia mewakili sebagian besar orang yang merupakan keturunan keluarga pengungsi yang mengungsi dari wilayah Palestina pada tahun 1948," kata Mahmoud.
Profil Ismail Haniyeh
Ismail Haniyeh diangkat sebagai kepala biro politik Hamas pada 6 Mei 2017 menggantikan Khaled Meshaal.
Ia lahir di kamp pengungsi Shati di Gaza dari orang tua yang melarikan diri dari kota Asqalan setelah Negara Israel didirikan tahun 1948.
Haniyeh belajar di Institut al-Azhar di Gaza dan kemudian di Universitas Islam Gaza, di mana ia lulus dengan gelar sastra Arab.
Saat kuliah tahun 1983, ia bergabung dengan sebuah blok mahasiswa yang menjadi cikal bakal Hamas.
Ia naik pangkat sebagai pembantu dekat dan asisten salah satu pendiri Hamas, Sheikh Ahmed Yassin.
Haniyeh pernah dipenjara beberapa kali oleh otoritas Israel dan tinggal di dalam dan luar Jalur Gaza setelah menghadapi deportasi dan upaya pembunuhan.
Awal tahun ini, serangan Israel menewaskan tiga putranya di Gaza utara.(*)
Editor : Heri Sugiarto