Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Harga Bitcoin dan Ether Merosot Tajam di Tengah Ketegangan Geopolitik dan Kekhawatiran Resesi Global

Heri Sugiarto • Selasa, 6 Agustus 2024 | 00:57 WIB

 

Bitcoin (BTC) memperpanjang penurunannya selama jam perdagangan di Asia pada hari Senin (5/8/2024). (Foto ilustrasi: bssnews)
Bitcoin (BTC) memperpanjang penurunannya selama jam perdagangan di Asia pada hari Senin (5/8/2024). (Foto ilustrasi: bssnews)
PADEK.JAWAPOS.COM-Bitcoin (BTC) memperpanjang penurunannya selama jam perdagangan di Asia pada hari Senin (5/8/2024).

Cryptocurrency terbesar di dunia ini merosot di bawah $50,000 sebelum kembali naik ke sekitar $51,000. Harga terendah sejak pertengahan Februari.

Kondisi tersebut diduga dipicu meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan kekhawatiran tentang kekuatan ekonomi global menggerogoti kepercayaan investor.

Menurut data TradingView, BTC turun empat berturut-turut, mencapai level serendah $49,112. Sedangkan Ether (ETH), token asli dari blockchain Ethereum, merosot hingga $2,060, terendah sejak 3 Januari.

Indeks CoinDesk 20, yang melacak beberapa token non-stablecoin paling likuid, turun hampir 20%.

Penurunan Ether hampir 25% adalah penurunan satu hari terburuk untuk token tersebut sejak Mei 2021.

Penjualan besar-besaran di Ether dipicu oleh rumor tentang pembuat pasar kripto Jump Trading yang melikuidasi asetnya.

Analisis penaliti on-chain, Spotonchain mengidentifikasi sebuah dompet yang diduga milik Jump Trading yang mentransfer 17,576 ETH, senilai lebih dari $46 juta, ke bursa terpusat, tanda kemungkinan likuidasi.

Hal ini menyebabkan lebih dari $1 miliar likuidasi di pasar berjangka kripto, dengan Ether mencatat lebih dari $350 juta perdagangan yang dilikuidasi. Sebuah kejadian langka.

Penjualan panik di Bitcoin dan pasar kripto secara keseluruhan dipicu oleh jatuhnya pasar keuangan yang lebih luas akibat ketakutan akan resesi global dan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Indeks Nikkei 225 Jepang merosot 12.4%, Indeks Stoxx Europe 600 turun lebih dari 3%, dan micro futures pada Indeks S&P 500 kehilangan 3.3%.

Hal ini menyebabkan indeks sentimen ketakutan dan keserakahan kripto menunjukkan "ketakutan," dan mencapai level terendah sejak awal Juli.

Seolah-olah sudah diperkirakan, investor menarik $237.5 juta dari dana pertukaran bitcoin (ETF) di AS pada hari Jumat, yang terbanyak sejak 1 Mei, menurut data dari SoSoValue. ETF Ether mengalami arus keluar bersih sebesar $54.3 juta.

"Di seluruh pasar kripto yang lebih luas, investasi aset digital mengakhiri empat minggu arus masuk bersih dengan arus keluar sebesar $528 juta minggu lalu, kata CoinShares dalam laporan mingguannya.

Aset Bitcoin kehilangan $400 juta dan Ether $146 juta. CoinShares mengaitkan penarikan ini dengan kekhawatiran akan resesi AS dan lingkungan geopolitik.

Analis kripto memperingatkan bahwa aksi jual Bitcoin saat ini dapat menyebabkan harga mencapai titik terendah. Bahkan, berpotensi menurun hingga di bawah $45.000.

"Tanpa dukungan pembeli yang kuat saat ini, harganya akan semakin turun, dan akan memicu aksi jual yang lebih aktif seperti yang terjadi pada akhir tahun 2021 dan awal tahun 2022. Jika tidak bertahan, ada baiknya bersiap untuk kegagalan menuju $42K," kata Analis Pasar Senior di FXPro, Alex Kuptsikevich kepada Cointelegraph.(*)

Editor : Heri Sugiarto
#cryptocurrency #resesi global #Sentimen kripto #kripto #ETH #bitcoin #BTC #pasar kripto #ketegangan timur tengah #Ethereum