Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Tsunami Setinggi 200 Meter di Greenland dan Bumi Bergetar Sembilan Hari

Heri Sugiarto • Sabtu, 14 September 2024 | 17:51 WIB

Longsoran batu besar di Dickson Fjord, Greenland, mengikis permukaan gletser yang mengalirkan air ke saluran sempit tersebut, seperti  dalam gambar yang diambil setelah kejadian. (Foto: Science)
Longsoran batu besar di Dickson Fjord, Greenland, mengikis permukaan gletser yang mengalirkan air ke saluran sempit tersebut, seperti dalam gambar yang diambil setelah kejadian. (Foto: Science)
PADEK.JAWAPOS.COM-Bencana alam luar biasa di Greenland yang memicu gelombang tsunami setinggi 200 meter dan getaran bumi selama sembilan hari terjadi pada 16 September 2023.

Sebuah penelitian ilmiah terbaru mengungkapkan bahwa tanah longsor dan mega-tsunami yang terjadi di Greenland itu dipicu oleh perubahan iklim.

Fenomena seismik ini dideteksi oleh sensor gempa di berbagai belahan dunia.

Pada awalnya para ilmuwan tidak dapat memastikan penyebabnya karena kejadian ini belum pernah terjadi sebelumnya.

Peneliti akhirnya memecahkan teka-teki tersebut dan menyatakan bahwa kejadian ini menunjukkan dampak pemanasan global yang semakin besar terhadap planet kita.

Tanah longsor besar kini bisa terjadi di lokasi-lokasi yang sebelumnya dianggap stabil, seiring dengan meningkatnya suhu global secara drastis.

Tanah longsor di Greenland timur ini terjadi ketika puncak gunung setinggi 1.200 meter runtuh ke dalam fjord Dickson yang terpencil, setelah gletser yang mencair tak lagi mampu menopang dinding batu.

Longsor ini memicu gelombang tsunami awal setinggi 200 meter, dan air yang terus bergelombang di fjord sempit tersebut memicu gelombang seismik yang bergetar di seluruh dunia selama lebih dari seminggu.

Tanah longsor dan tsunami besar ini menjadi peristiwa pertama yang tercatat di Greenland timur, wilayah yang semakin terdampak oleh pemanasan global.

Peristiwa serupa, meskipun lebih kecil, telah terjadi di wilayah lain seperti Greenland barat, Alaska, Kanada, Norwegia, dan Chile, yang juga mengalami dampak perubahan iklim.

Dr. Kristian Svennevig, dari Badan Geologi Denmark dan Greenland, yang memimpin penelitian tersebut, mengungkapkan bahwa fenomena ini sangat mengejutkan komunitas ilmiah.

“Saat pertama kali kami menyelidiki peristiwa ini, semua orang kebingungan karena sinyal seismik yang muncul jauh lebih panjang dan lebih sederhana dibandingkan sinyal gempa bumi biasa. Peristiwa ini kemudian dikategorikan sebagai USO (Unidentified Seismic Object) atau Objek Seismik Tak Teridentifikasi," kata Svennevig seperti dilansir dari The Guardian.

Menurut Svennevig, ini adalah kejadian luar biasa karena merupakan tanah longsor dan tsunami raksasa pertama yang tercatat di Greenland timur.

Gelombang tsunami menghancurkan situs Inuit kuno yang terletak di tepi laut, yang telah berdiri selama lebih dari 200 tahun.

Hal ini menunjukkan bahwa peristiwa serupa belum pernah terjadi di kawasan itu selama dua abad terakhir.

Tsunami tersebut juga merusak sejumlah gubuk di stasiun penelitian di Pulau Ella, yang berjarak 70 kilometer dari lokasi tanah longsor.

Situs ini didirikan dua abad lalu oleh pemburu bulu dan penjelajah. Saat ini digunakan oleh ilmuwan dan militer Denmark. Beruntung, stasiun ini kosong saat tsunami terjadi.

Fjord Dickson juga merupakan rute yang sering dilalui kapal pesiar wisata.

Pada September 2023, sebuah kapal yang membawa 200 penumpang sempat terjebak di lumpur di fjord Alpe, dekat fjord Dickson.

Kapal tersebut berhasil dibebaskan hanya dua hari sebelum tsunami melanda. Sehingga terhindar dari gelombang yang diperkirakan mencapai empat hingga enam meter.

"Itu adalah keberuntungan besar karena tidak ada korban jiwa. Secara ilmiah, kami memasuki wilayah baru karena kami belum benar-benar memahami bagaimana tsunami berdampak pada kapal pesiar," tambahnya.

Penelitian Ilmiah yang Menantang

Dr. Stephen Hicks dari University College London, yang juga terlibat dalam penelitian ini, mengaku terkejut saat pertama kali melihat sinyal seismik yang terdeteksi.

“Saya benar-benar bingung saat pertama kali melihat sinyal ini. Belum pernah ada gelombang seismik yang berlangsung begitu lama dan menyebar ke seluruh dunia dengan frekuensi tunggal seperti ini,” ujarnya.

Gelombang seismik tersebut berulang setiap 90 detik. Gelombang periode panjang serupa sering kali dihasilkan oleh gunung berapi, seperti yang dihasilkan pada tahun 2018 oleh letusan bawah laut terbesar yang pernah tercatat. Namun, sinyal-sinyal ini biasanya berlangsung selama beberapa menit atau jam, bukan hari.

Butuh 68 ilmuwan dari 40 institusi di 15 negara untuk memecahkan misteri ini. Mereka menggabungkan data seismik, pengukuran lapangan, citra satelit, dan simulasi komputer resolusi tinggi untuk memahami fenomena tersebut.

Analisis yang diterbitkan dalam jurnal Science memperkirakan bahwa sekitar 25 juta meter kubik batu dan es jatuh ke dalam fjord dan bergerak sejauh 2.200 meter.

Gelombang tsunami awal, yang berangsur-angsur berkurang dalam beberapa menit, dan diperkirakan tersisa beberapa sentimeter dalam beberapa hari setelahnya, ketika militer Denmark mengunjungi dan memotret fjord tersebut.

Namun, pergerakan air yang besar ini terus mengirimkan gelombang seismik ke seluruh dunia.

Secara kebetulan, dua minggu sebelum tanah longsor, para ilmuwan telah memasang sensor untuk mengukur kedalaman air di fjord tersebut.

“Ini adalah keberuntungan murni. Mereka tidak tahu bahwa gunung di dekatnya akan runtuh," kata Svennevig.

Bagian penting dari penelitian ini adalah pemodelan tsunami dan perbandingan hasilnya dengan pengukuran lapangan.

"Model kami memprediksi getaran dengan periode 90 detik, hasil yang luar biasa, serta ketinggian tsunami yang cocok dengan sinyal seismik. Itu adalah momen eureka," jelas Svennevig.

Prof. Anne Mangeney, ahli pemodelan tanah longsor dari Institut de Physique du Globe de Paris, Prancis, yang juga terlibat dalam penelitian ini, mengatakan bahwa peristiwa tsunami unik ini menantang model tsunami klasik.

“Kami harus meningkatkan resolusi numerik pemodelan secara drastis untuk memahami propagasi tsunami yang berlangsung lama ini. Ini membuka peluang baru untuk pemodelan tsunami di masa depan," jelasnya.

Mangeney menambahkan bahwa peristiwa seperti ini akan semakin sering terjadi seiring dengan meningkatnya suhu global.

“Untuk pertama kalinya, kami bisa melihat bagaimana perubahan iklim memicu peristiwa yang menyebabkan getaran global dalam waktu kurang dari satu jam. Getaran ini menyebar dari Greenland hingga Antartika,” ujarnya.(*)

Editor : Heri Sugiarto
#tanah longsor #puncak gunung #dampak perubahan iklim #tsunami 200 meter #hasil penelitian terbaru #bumi bergetar #gletser mencair #Greenland #mega tsunami