Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Tupperware Ajukan Kebangkrutan: Sejarah Panjang Inovasi dan Kerugian Finansial

Heri Sugiarto • Kamis, 19 September 2024 | 14:34 WIB

Produk wadah penyimpanan makanan, Tupperware.(Foto: Tupperware)
Produk wadah penyimpanan makanan, Tupperware.(Foto: Tupperware)
PADEK.JAWAPOS.COM-Setelah bertahun-tahun mengalami penurunan permintaan dan kerugian finansial yang terus meningkat, Tupperware Brands Corp. resmi mengajukan perlindungan kebangkrutan Chapter 11 pada Selasa (17/9/2024).

Perusahaan bermerek ikonik ini berencana untuk tetap beroperasi sambil mencari pembeli potensial, tapi harus menghadapi perseteruan antara para pemberi pinjaman mengenai aset-aset penting, termasuk merek Tupperware yang sangat bernilai.

Tupperware, yang dikenal dengan produk wadah penyimpanan makanan, mengalami kesulitan bersaing dengan produk alternatif yang lebih murah dan perubahan budaya belanja konsumen.

Menurut Chief Restructuring Officer Tupperware, Brian J. Fox, perusahaan menghadapi kebutuhan mendesak untuk dana segar serta tekanan operasional yang semakin meningkat.

Meski sempat mengalami lonjakan penjualan selama pandemi ketika orang-orang lebih sering memasak di rumah, Tupperware gagal mempertahankan momentum tersebut.

Model bisnis tradisionalnya, yang mengandalkan penjualan melalui "pesta rumah Tupperware", kini kalah bersaing dengan produk alternatif yang lebih murah dan mudah didapatkan secara online.

Berikut beberapa momen penting dalam sejarah Tupperware, merek yang dulunya menjadi andalan di dapur-dapur rumah tangga di AS:

1940-an: Awal Inovasi
- Tupperware didirikan oleh Earl Tupper, seorang ahli kimia yang menciptakan wadah plastik dari limbah polietilena hasil penyulingan minyak di pabrik DuPont.

- Brownie Wise, seorang penulis kolom saran, berkolaborasi dengan Tupper dan mengubah strategi pemasaran dengan mengadakan “Pesta Patio”, di mana perempuan direkrut untuk menjual produk Tupperware melalui acara sosial di rumah.

- Strategi ini sangat sukses dan membuat popularitas Tupperware meroket.

1950-an: Puncak Kesuksesan
- Wise diangkat menjadi Wakil Presiden Pemasaran Tupperware Parties Inc.

- Earl Tupper mematenkan "Tupper Seal", teknologi tutup wadah kedap udara yang menjadi ciri khas produk Tupperware.

- Pada 1958, setelah mencapai kesuksesan besar, Tupper menjual bisnisnya kepada Rexall Drugs (sekarang Dart Industries) sebesar $16 juta dan memecat Wise.

1960-an: Ekspansi Global
- Di bawah kepemilikan baru, Tupperware memperluas bisnisnya ke Eropa, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan melalui teknik penjualan langsung, seperti pesta Tupperware.

1970-an: Diversifikasi Produk
- Tupperware mulai memproduksi berbagai jenis wadah dan memasuki pasar mainan dengan memperkenalkan Shape-O Toy, mainan berbentuk bola warna-warni yang masih dijual hingga saat ini.

- Pada 1976, penjualan Tupperware melebihi setengah miliar dolar.

1980-an: Persaingan dan Kemunduran
- Pendiri Tupper meninggal pada 1983 dan beberapa paten penting Tupperware mulai kedaluwarsa.

- Saingan seperti Rubbermaid dan Glad masuk ke pasar dengan produk penyimpanan makanan plastik yang lebih murah, membuat penjualan dan keuntungan Tupperware menurun.

- Pada 1986, setelah pemisahan antara Dart Industries dan Kraft Inc., Tupperware menjadi bagian dari Premark International.

1990-an: Upaya Penyelamatan
- Meskipun penjualan di AS menurun, bisnis internasional Tupperware terus berkembang. Pada 1992, Rick Goings, eksekutif dari Avon, mengambil alih sebagai presiden.

- Tupperware memperkenalkan berbagai inovasi produk pada pertengahan 1990-an, yang membantu meningkatkan keuntungan perusahaan.

- Pada Mei 1996, Premark memisahkan Tupperware dan perusahaan tersebut terdaftar di Bursa Efek New York sebagai perusahaan independen.

2000-an: Perjanjian dengan Ritel
- Tupperware mengalami perlambatan bisnis, tetapi membuat kesepakatan dengan Target Corp. pada 2002, yang memungkinkan produk Tupperware dijual di toko-toko ritel di AS.

2020-an: Pandemi dan Krisis Terbaru
- Pandemi COVID-19 memberikan lonjakan sementara pada penjualan Tupperware karena banyaknya orang yang memasak di rumah.

- Namun, seiring pelonggaran pembatasan, margin keuntungan Tupperware terpukul akibat kenaikan biaya bahan baku, tenaga kerja, dan pengiriman.

- Saingan seperti Newell Brands (pembuat Rubbermaid dan Ball) serta GladWare semakin menggerogoti pangsa pasar Tupperware.

- Pada 2023, saham Tupperware jatuh setelah perusahaan memperingatkan tentang keraguan kelangsungan usahanya. Meski sempat terjebak dalam fenomena "meme stock" yang memicu harga saham melonjak, itu tak cukup menyelamatkan perusahaan.

- Pada September 2024, Tupperware secara resmi mengajukan kebangkrutan Chapter 11, dengan janji akan tetap beroperasi sambil mencari solusi terbaik untuk masa depan.

Kini, masa depan Tupperware ada di tangan pengadilan dan pemberi pinjaman yang tengah bersaing untuk mengamankan aset-aset perusahaan.

Kasus ini terdaftar di Pengadilan Kebangkrutan AS, Distrik Delaware, dengan nomor kasus 24-12156.(*)

Editor : Heri Sugiarto
#sejarah perjalanan panjang Tupperware #tupperware #perusahaan bangkrut #pengajuan kebangkrutan ke pengadilan