PADEK.JAWAPOS.COM–Donald Trump memang pernah berkoar bisa segera menghentikan invasi berdarah Israel di Jalur Gaza jika terpilih sebagai presiden Amerika Serikat (AS). Dan, Hamas langsung mengingatkan tentang janji tersebut begitu Trump dipastikan menang atas Kamala Harris.
Tapi, kecil sekali kemungkinan Trump akan mewujudkan janji tersebut. Hizbullah, kelompok berbasis di Lebanon yang tengah digempur Israel, bahkan sudah menegaskan siapa pun yang memenangi pemilihan presiden AS tak akan membawa perubahan apa-apa.
”Yang akan menghentikan perang ini adalah medan perang,” kata Naim Qassem, pemimpin baru Hizbullah, seperti dikutip dari AFP kemarin (7/11).
Artinya, Hizbullah siap menghadapi gempuran Israel. Dia menyebut kelompok yang dipimpinnya memiliki rudal Fatah 110 buatan Iran. Jangkauan senjata itu mencapai 300 kilometer atau setara Jakarta–Bandung pergi pulang.
Senjata tersebut juga diklaim memiliki akurasi tinggi. ”Kami juga memiliki puluhan ribu pejuang yang terlatih,” kata Qassem.
Sebelumnya, Hizbullah mengatakan bahwa pihaknya menargetkan pangkalan militer di dekat bandara utama Israel yang dekat dengan pusat komersial Tel Aviv. Sejauh ini, klaim Otoritas Bandara Israel, operasi mereka tidak terganggu.
Gaza Harapkan Perdamaian
Di Jalur Gaza, mereka yang terdampak kebrutalan Israel tetap berharap pemerintahan Trump akan membawa perubahan. ”Kami mengungsi, terbunuh. Tidak ada yang tersisa bagi kami. Kami menginginkan perdamaian,” kata salah seorang warga Gaza, Mamdouh Al Jadba, kepada Al Jazeera.
Tapi, Israel juga tak menunjukkan tanda-tanda akan menghentikan aksi militer mereka. Dalam kesempatan pertama menelepon Trump setelah resmi memenangi pilpres AS Rabu (6/11) lalu, Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu malah membahas ancaman Iran.
”Kedua pemimpin sepakat bekerja sama untuk keamanan Israel dari ancaman Iran,” bunyi pernyataan resmi kantor PM Israel.
Di masa kepresidenan pertama Trump, Kedutaan Besar AS di Israel dipindahkan dari Tel Aviv ke Yerusalem. Sementara itu, bantuan untuk Palestina dipotong, khususnya untuk UNWRA (organisasi yang menangani pengungsi Palestina).
Sejak perang di Gaza dimulai pada 7 Oktober tahun lalu, Presiden Joe Biden juga tidak pernah goyah dalam dukungannya terhadap Israel. Bahkan, dia selalu mengirimkan bantuan militer.
Sementara itu, ucapan selamat kepada Trump juga datang dari Arab Saudi melalui Putra Mahkota Mohammed bin Salman. Presiden Mesir Abdel Fattah Al Sisi juga mengatakan kepada Trump dalam sebuah panggilan telepon bahwa pemerintahannya siap bekerja sama.
”Kerja sama untuk berkontribusi pada stabilitas, perdamaian, dan pembangunan di Timur Tengah,” katanya. (lyn/c19/ttg)
Editor : Adetio Purtama