Hegseth yang masih berusia 44 tahun telah menjalin hubungan dekat dengan Trump, yang sebelumnya juga mempertimbangkannya untuk posisi di pemerintahan pertamanya.
Hegseth telah mendukung Trump untuk membebaskan anggota militer yang dituduh melakukan kejahatan perang.
Lantas, siapakah Pete Hegseth itu? Berikut ulasannya, seperti yang dilansir dari laman AP News pada Jumat (15/11/2024).
Menyerukan perihal Pembersihan di Pentagon
Dalam bukunya terbaru, Hegseth mengeluhkan bahwa para jenderal dan pemimpin akademi militer yang mendukung ”woke” telah melemahkan militer dengan mempromosikan keberagaman, kesetaraan, dan inklusi.
Hegseth menulis bahwa tentara sering dilemahkan oleh pemimpin sipil yang tidak bertanggung jawab dan pejabat tinggi yang ceroboh. Dia juga menyatakan bahwa komandan tertinggi berikutnya perlu melakukan pembersihan.
Layaknya Trump, Hegseth juga mendukung pandangan tradisional tentang maskulinitas yang menuliskan bahwa pria secara alami akan tertarik untuk bertarung, bersaing, dan menunjukkan kekuatan mereka.
Dalam tulisannya, Hegseth juga mengkritik kebijakan, hukum, dan perjanjian yang membatasi tindakan tentara di medan perang, termasuk aturan ketat dalam Konvensi Jenewa, yang menurutnya sudah ketinggalan zaman dalam menghadapi musuh yang tidak menaati aturan tersebut.
Hegseth juga menyerukan penggantian nama Departemen Pertahan kembali menjadi Departemen Perang serta memberlakukan larangan selama 10 tahun bagi jenderal yang ingin bekerja di kontraktor pertahanan setelah pensiun.
Viral karena Insiden Lempar Kapak
Hegseth menjadi viral dan sempat digugat setelah melukai lengan seorang master sersan Angkatan Darat AS dengan kapak yang meleset saat segmen Fox & Friends pada tahun 2015.
Rekaman insiden tersebut menunjukkan kapak terbang di atas target dan mengenai Jeffrey Prosperie, seorang drummer di band Hellcats dari West Point, yang diundang ke acara tersebut untuk memperingati ulang tahun ke-240 Angkatan Darat.
Fox News menyebutkan bahwa insiden tersebut merupakan insiden yang tidak disengaja. Hegseth juga sudah meminta maaf dan menawarkan bantuan media, yang pada saat itu ditolak Prosperie.
Mempertanyakan Peran Wanita dalam Pertempuran
Hegseth mendukung adanya upaya militer yang menganggap bahwa mengizinkan wanita bertugas di medan tempur akan menghambat tujuan perang itu sendiri.
Dia menyatakan bahwa keberagaman dalam militer adalah kekuatan karena pria minoritas dan kulit putih memiliki kemampuan serupa, tetapi menurutnya hal ini tidak berlaku untuk wanita.
Membela Anggota Militer yang Dituduh Melakukan Kejahatan Perang
Pada 2019, Hegseth mendesak Trump untuk memberikan pengampunan kepada anggota militer AS yang dituduh melakukan kejahatan perang.
Hegseth membagikan di media sosial bahwa pengampunan dari Trump akan luar biasa dan menambahkan tagar dengan nama-nama terdakwa dalam kampanye advokasi pribadinya terhadap presiden saat itu.
Usahanya berhasil, Trump memberikan pengampunan kepada mantan komando Angkatan Darat AS yang dijadwalkan untuk diadili karena membunuh tersangka pembuat bom Afghanistan, serta mantan letnan Angkatan Darat yang dihukum pembunuhan karena memerintahkan anak buahnya untuk menembak tiga warga Afghanistan.
Seorang Veteran Militer
Hegseth telah mengabdi di militer, meskipun tidak memiliki pengalaman senior di bidang militer atau keamanan nasional.
Setelah lulus dari Universitas Princeton pada 2003, Hegseth ditugaskan sebagai perwira infanteri di Garda Nasional Angkatan Darat, bertugas di luar negeri di Afghanistan dan Irak, serta di Teluk Guantanamo.
Hegseth merupakan mantan kepada Concerned Veterans for America, sebuah kelompok yang didukung oleh miliarder konservatif Charles dan David Koch, dan juga pernah mencalonkan diri untuk Senat di Minnesota pada 2012.
Ketika Trump membentuk kabinet pertamanya setelah memenangkan pemilu 2016, Trump dilaporkan mempertimbangkan Hegseth untuk menjalankan Departemen Urusan Veteran.
Kemudian, Trump kembali mempertimbangkan Hegseth saat Sekretaris David Shulkin mendapat kritik sebelum akhirnya diberhentikan pada 2018.
Tokoh Fox News dan Penulis
Sebagai pembawa acara Fox & Friends Weekend di Fox News Channel, Hegseth telah menjadi kontributor jaringan tersebut selama satu dekade.
Tidak hanya itu, Hegseth juga telah menulis beberapa buku, beberapa diterbitkan oleh jaringan tersebut, termasuk The War on Warriors. Dalam mengumumkan pencalonan Hegseth, Trump memuji buku tersebut, mencatat keberadaannya selama 9 minggu di daftar buku terlaris New York Times. (*)
Editor : Adetio Purtama