Keputusan drastis ini terjadi di tengah pengurangan besar volume pengiriman dari Amazon.com serta tekanan ekonomi akibat kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Dalam pernyataan resminya, juru bicara UPS menyebut bahwa langkah ini dipicu oleh pengurangan sekitar 50% volume pengiriman dari Amazon, pelanggan terbesar perusahaan tersebut.
Pengurangan pekerja ini bagian dari restrukturisasi besar-besaran yang tengah dilakukan UPS demi efisiensi dan pemangkasan biaya operasional.
“Karena kebutuhan operasional mereka, UPS meminta pengurangan volume, dan kami tentu menghormati keputusan tersebut,” kata juru bicara Amazon dalam tanggapannya.
Langkah UPS ini terjadi di tengah kekhawatiran meluas atas perlambatan pertumbuhan ekonomi global, terutama setelah Presiden Trump meningkatkan ketegangan dagang dengan menaikkan tarif impor terhadap berbagai produk asal Tiongkok hingga 145% awal bulan ini.
“Dunia belum pernah menghadapi dampak potensial terhadap perdagangan sebesar ini dalam lebih dari 100 tahun,” ujar CEO UPS, Carol Tome, dalam panggilan laporan keuangan perusahaan seperti dilansir Reuters.
Sebagai perusahaan pengiriman paket terbesar di dunia, UPS dianggap sebagai indikator vital kondisi ekonomi global. Saingannya, FedEx, bahkan telah mengisyaratkan perlambatan sejak Maret lalu.
UPS menargetkan penghematan sebesar US$3,5 miliar tahun 2025 melalui pemangkasan biaya ini.
Volume pengiriman dari Amazon yang dikurangi sebagian besar berasal dari layanan bernilai rendah, seperti pengangkutan barang dari pusat pemenuhan (fulfillment centers), yang dinilai tidak menguntungkan secara finansial.
Untuk kuartal kedua, UPS memperkirakan margin operasional perusahaan berada di kisaran 9,3%, turun dari margin dua digit yang biasanya diharapkan para investor.
Bisnis domestik UPS di AS, yang merupakan pasar terbesarnya, juga diprediksi mengalami penurunan sekitar 9% dalam rata-rata paket harian yang ditangani, serta penurunan pendapatan dalam kisaran satu digit rendah.
Baca Juga: Jalan Payakumbuh-Mungka Rusak Parah, Warga Pertanyakan Komitmen Pemda dan DPRD
Saham UPS pun turun tipis 0,3% dalam perdagangan pagi, sementara saham FedEx turun 1,1%.
Ketegangan Perdagangan Picu Ketidakpastian
Tarif baru Trump terhadap produk asal Tiongkok makin memperkeruh suasana perdagangan dunia.
Meski volume impor AS di UPS hanya sekitar 400.000 unit per hari atau kurang dari 2% dari total volume global harian, rute Tiongkok-AS merupakan yang paling menguntungkan, menyumbang sekitar 11% pendapatan internasional UPS pada tahun lalu.
UPS mulai mencatat peningkatan volume dari Eropa dan negara Asia lain seperti Vietnam dan Thailand. Namun, Carol Tome menegaskan bahwa Tiongkok tetap merupakan “pabrik dunia”, dan sepenuhnya menggantikan perdagangan dengan negara itu akan memakan waktu bertahun-tahun.
Tarif tinggi yang diberlakukan Trump berpotensi semakin memperlambat pengiriman antarperusahaan.
Hal ini menjadi pukulan keras terutama bagi usaha kecil dan menengah (UKM), yang menjadi target pasar baru UPS untuk menutup kekurangan. Banyak dari UKM ini sangat bergantung pada barang impor dari Tiongkok.(*)
Editor : Heri Sugiarto