Gedung Putih dalam pernyataan resminya pada Sabtu (7/6), menyebut pengerahan pasukan dilakukan untuk mengatasi pelanggaran hukum yang telah dibiarkan berkembang di kota terbesar kedua di AS tersebut.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memperingatkan bahwa Pentagon siap mengerahkan pasukan aktif jika kekerasan terus berlangsung.
Ia menyatakan bahwa pasukan Marinir di Pangkalan Camp Pendleton telah berada dalam status siaga tinggi.
Langkah Trump tersebut memicu kritik keras dari Gubernur California Gavin Newsom. Dalam unggahan di platform X, Newsom menyebut keputusan tersebut bersifat provokatif dan dilakukan bukan karena kekurangan penegak hukum, tetapi karena ingin menciptakan tontonan.
"Jangan beri mereka tontonan itu. Jangan gunakan kekerasan. Suarakan secara damai," tulis Newsom seperti dilansir Al Jazeera.
Pada hari yang sama, petugas keamanan anti huru-hara menghadapi ratusan pengunjuk rasa di wilayah Paramount, Los Angeles tenggara.
Polisi menembakkan gas air mata di jalanan yang dipenuhi troli belanja terbalik. Sementara massa meneriakkan agar petugas Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) meninggalkan kota mereka.
Beberapa pengunjuk rasa terlihat mengibarkan bendera Meksiko dan menutupi wajah dengan masker. Mereka melempar batu, botol, dan kembang api ke arah petugas. Sebuah mobil dibakar di lokasi bentrokan.
Bentrok ini dipicu laporan razia imigrasi lanjutan di dekat toko perlengkapan rumah tangga di area tersebut.
Sehari sebelumnya, ICE melakukan penggerebekan di sejumlah lokasi di Los Angeles dan menangkap sedikitnya 44 orang dengan dugaan pelanggaran imigrasi.
Pasca penangkapan, ratusan warga berkumpul di luar pusat tahanan federal tempat para imigran ditahan, sambil meneriakkan, “Bebaskan mereka, biarkan mereka tinggal!”.
Beberapa pengunjuk rasa membawa poster anti-ICE dan mencoret-coret bangunan.
Gedung Putih menyebut para pengunjuk rasa sebagai massa kekerasan yang menyerang petugas ICE dan agen federal saat melaksanakan deportasi.
Dalam pernyataan resminya, pemerintah menyebut operasi ini penting untuk menghentikan invasi kriminal ilegal ke Amerika Serikat.
Pengerahan ini diumumkan tak lama setelah Trump mengeluarkan ancaman melalui media sosial, menyatakan bahwa jika Gubernur Newsom dan Wali Kota Los Angeles Karen Bass tidak melakukan tugas mereka, maka Pemerintah Federal akan turun tangan dan menyelesaikannya.
Belum ada kejelasan waktu pasti kedatangan pasukan, namun penasihat perbatasan Trump, Tom Homan, menyampaikan kepada Fox News bahwa pasukan Garda Nasional akan mulai dikerahkan pada Sabtu.
Reporter Al Jazeera, Rosiland Jordan, melaporkan dari Washington, DC, bahwa langkah Trump ini menimbulkan kekhawatiran dan pertanyaan serius. Ia menyebut bahwa pengerahan Garda Nasional terakhir kali di Los Angeles terjadi pada tahun 1992 saat kerusuhan akibat pemukulan Rodney King oleh polisi.
Menurut kantor Gubernur California, Trump telah memfederalisasi sebagian Garda Nasional California di bawah otoritas Title 10, yang menempatkan presiden, bukan gubernur, sebagai pemegang komando utama.
Newsom menyatakan bahwa otoritas lokal mampu mengakses bantuan penegak hukum kapan pun dibutuhkan, dan saat ini tidak ada kebutuhan yang tidak terpenuhi.
“Ini adalah misi yang salah dan akan mengikis kepercayaan publik,” tegas Newsom.
Penindakan imigrasi ini merupakan bagian dari janji kampanye Trump untuk mendeportasi jutaan imigran tidak berdokumen dan memperketat perbatasan AS-Meksiko.
Gedung Putih menargetkan ICE untuk menangkap setidaknya 3.000 migran per hari.
Namun, warga negara asing yang memiliki dokumen sah, termasuk pemegang izin tinggal tetap, juga terdampak dalam operasi besar-besaran ini, sehingga memunculkan tantangan hukum.(*)
Editor : Heri Sugiarto