Erdogan menyebut serangan tersebut sebagai provokasi terang-terangan yang mengabaikan hukum internasional dan mengancam stabilitas kawasan serta dunia.
“Pemerintah Netanyahu telah melakukan tindakan sembarangan, tanpa hukum, dan agresif yang berisiko menyeret Timur Tengah dan dunia ke dalam bencana,” ujar Erdogan dalam pernyataan di platform X, Sabtu (14/6/2025).
Israel meluncurkan serangan besar-besaran terhadap Iran pada Jumat dini hari.
Sekitar 200 pesawat tempur dikerahkan untuk menyerang fasilitas program nuklir dan kemampuan rudal jarak jauh Iran.
Serangan tersebut menewaskan sejumlah pejabat militer senior dan ilmuwan nuklir Iran.
Erdogan menegaskan bahwa pemerintahannya tidak ingin melihat pertumpahan darah, kehancuran, atau konflik lebih lanjut di kawasan.
“Kami tidak ingin melihat lebih banyak darah tertumpah, lebih banyak kehancuran, atau konflik yang semakin meluas di Timur Tengah,” katanya.
Dalam percakapan telepon dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, Erdogan mengatakan bahwa Israel di bawah pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu merupakan ancaman terbesar terhadap stabilitas regional.
Ia juga menyampaikan bahwa untuk meredakan ketegangan dan menyelesaikan sengketa nuklir, satu-satunya jalan adalah melalui negosiasi.
Erdogan memperingatkan bahwa perang yang berpotensi meluas dapat menyebabkan gelombang migrasi tidak teratur ke seluruh negara di kawasan.
Erdogan juga melakukan pembicaraan terpisah dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
Baca Juga: Striker Inter Milan Mehdi Taremi Terjebak di Teheran Akibat Konflik Israel-Iran
Dalam pembicaraan itu, Erdogan menyebut Netanyahu tengah berupaya menyulut konflik regional dan menggagalkan pembicaraan nuklir melalui serangan terhadap Iran.
Menurut pernyataan resmi kantor kepresidenan Turki, Erdogan mengatakan bahwa serangan Israel bertujuan mengalihkan perhatian dunia dari tindakan yang ia sebut sebagai genosida di Gaza.
Sementara itu, Iran menyatakan akan memberikan hukuman berat kepada Israel, dan telah menyerukan pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB untuk mempertanggungjawabkan tindakan Israel.
Iran membantah bahwa program pengayaan uraniumnya ditujukan untuk tujuan selain tujuan sipil, dan menolak tuduhan Israel bahwa Iran secara diam-diam mengembangkan senjata nuklir.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan bahwa empat bangunan penting di situs nuklir Isfahan, Iran, terkena dampak serangan. Bangunan yang rusak termasuk fasilitas konversi uranium dan pabrik fabrikasi pelat bahan bakar.
“Meskipun ada kerusakan seperti di Natanz, tidak ada peningkatan radiasi di luar lokasi yang terdeteksi,” kata IAEA dalam pernyataan di platform X.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa serangan militernya telah menghambat program nuklir Iran hingga bertahun-tahun, dan memperingatkan bahwa serangan yang lebih besar akan datang.
“Kami akan menghantam setiap fasilitas dan setiap target milik rezim Ayatollah, dan apa yang mereka rasakan sejauh ini tidak seberapa dibandingkan dengan apa yang akan mereka hadapi dalam beberapa hari ke depan,” ujar Netanyahu dalam sebuah pernyataan video, dilansir Al Jazeera.(*)
Editor : Heri Sugiarto