PADEK.JAWAPOS.COM-Bisa jadi ini bentuk provokasi saja dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang memang dikenal provokatif.
Tapi, bisa jadi juga merupakan peringatan kepada Iran bahwa gempuran Israel yang didukung penuh AS masih akan terus berlanjut. Atau bahkan AS sendiri yang akan turun tangan ikut melakukan serangan.
Dikutip dari AFP kemarin (17/6), Trump lewat media sosialnya, Truth Social, meminta warga Teheran, ibu kota Iran, untuk mengungsi.
“Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Saya sudah mengatakan berulang kali! Semua orang harus segera meninggalkan Teheran!” kata Trump lewat Truth Social.
Pernyataan itu berbarengan dengan meningkatnya serangan Israel ke kota-kota di Iran. Pada Senin (16/6) waktu Teheran, negeri Yahudi itu kembali menyerang sasaran sipil, kali ini rumah sakit dan stasiun televisi.
“Corong propaganda dan hasutan Iran hampir menghilang,” kata Menteri Pertahanan Israel Israel Katz, sebelum penyerangan ke stasiun televisi.
Stasiun televisi yang diserang adalah IRINN, stasiun televisi berita milik pemerintah Iran. Serangan terjadi ketika sedang ada tayangan langsung terkait konflik Iran versus Israel. Siaran langsung terputus. Tiga orang dilaporkan tewas. Serangan itu pun dikecam kanal-kanal televisi di Timur Tengah.
Untuk rumah sakit, kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei, yang disasar adalah Rumah Sakit Farabi di Kermanshah. Sebanyak 45 perempuan dan anak-anak dilaporkan meninggal akibat kebiadaban Israel itu.
“Menyerang rumah sakit bersamaan dengan serangan terhadap wilayah permukiman merupakan pelanggaran berat terhadap hukum internasional dan kejahatan perang,” ucap Baqaei.
Iran tak tinggal diam. Mereka juga terus melakukan serangan balik. Pesawat tak berawak dan rudal diluncurkan ke arah Tel Aviv dan Haifa di Israel. Tel Aviv ibu kota Israel, sedangkan di Haifa terdapat kilang minyak.
Trump juga meninggalkan pertemuan G7 di Kanada lebih awal. Padahal, para koleganya di forum tersebut sedang membahas rencana gencatan senjata antara Israel dan Iran. Namun, Trump menampik jika keputusannya itu berkaitan dengan situasi antara kedua negara tersebut.
Di dalam Air Force One, Trump mengatakan, dia kemungkinan mengirim Wakil Presiden JD Vance dan utusan khusus Timur Tengah Steve Witkoff untuk bertemu pejabat Iran guna bernegosiasi.
“Itu tergantung pada apa yang terjadi saat saya kembali ke Washington DC,” tambahnya. Pada kesempatan itu, Trump juga mengancam akan membalas jika Iran sampai menyerang AS atau warganya.
Dia juga memperingatkan negeri yang dulu dikenal bernama Persia tersebut untuk tidak menyentuh pasukan Negeri Paman Sam yang tengah berjaga di perbatasan Israel. (lyn/ttg/jpg)
Editor : Novitri Selvia