Para dokter Palestina terpaksa mengambil langkah-langkah darurat untuk menyelamatkan nyawa pasien, termasuk bayi-bayi prematur yang kini dalam kondisi kritis.
Pembatasan ketat Israel terhadap masuknya bantuan ke Gaza mengakibatkan fasilitas medis kekurangan pasokan bahan bakar.
Direktur Rumah Sakit Al Shifa, Dr. Mohammed Abu Salmiyah, mengungkapkan bahwa tenaga medis kini harus menggunakan metode improvisasi untuk merawat pasien.
Muhammad Abu Salmiyah, mengatakan kepada wartawan bahwa nyawa lebih dari 100 bayi prematur dan sekitar 350 pasien dialisis terancam.
“Kami terpaksa menempatkan empat, lima, atau kadang tiga bayi prematur dalam satu inkubator. Bayi-bayi prematur saat ini berada dalam kondisi yang sangat kritis," ungkap Abu Selmia, dilansir Al Jazeera.
Abu Selmia menambahkan bahwa tanpa pasokan bahan bakar, rumah sakit tidak dapat menjalankan fungsi utama. Departemen dialisis telah ditutup untuk menghemat listrik bagi unit perawatan intensif dan ruang operasi.
“Stasiun oksigen akan berhenti berfungsi. Rumah sakit tanpa oksigen bukan lagi rumah sakit. Laboratorium dan bank darah akan berhenti beroperasi, dan kantong darah di lemari pendingin akan rusak,” jelasnya.
Direktur Kementerian Kesehatan Gaza, Dr. Muneer Alboursh, mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa krisis ini bukan disebabkan oleh serangan udara atau rudal, tapi oleh pengepungan yang mencegah masuknya bahan bakar ke wilayah tersebut.
“Bukan karena serangan udara atau rudal — tetapi pengepungan yang mencekik masuknya bahan bakar,” ujar Alboursh. Ia menyebut kondisi rumah sakit saat ini sebagai “kuburan yang sunyi”.
Layanan Kemanusiaan Terancam Lumpuh
Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, Stephane Dujarric, menyatakan bahwa pada hari sebelumnya PBB berhasil mengirimkan 75.000 liter bahan bakar ke Jalur Gaza. Ini pengiriman pertama dalam 130 hari terakhir.
Namun, menurut Dujarric, volume bahan bakar tersebut belum mencukupi kebutuhan harian.
“PBB dan mitra kemanusiaannya membutuhkan ratusan ribu liter bahan bakar setiap hari untuk menjaga kelangsungan operasi yang penting dan menyelamatkan nyawa,” ujarnya.
“Jumlah yang masuk kemarin bahkan tidak mencukupi untuk kebutuhan energi satu hari. Bahan bakar masih akan segera habis, dan layanan akan berhenti jika pasokan dalam jumlah besar tidak segera diizinkan masuk ke Jalur Gaza,” lanjutnya.
Dia juga menyoroti ancaman terhadap ketersediaan air bersih di wilayah tersebut.
“Satu mitra kami melaporkan bahwa, dalam beberapa hari, kekurangan bahan bakar dapat menghentikan pasokan air minum bersih untuk sekitar 44.000 anak yang bergantung pada sumber air tersebut,” kata Dujarric.
Blokade Israel Terus Berlanjut
Israel masih mempertahankan blokade ketat terhadap Jalur Gaza, dengan membatasi pengiriman bahan bakar, makanan, air bersih, dan suplai penting lainnya ke wilayah tersebut.
Pembatasan ini membuat sektor kesehatan Gaza berada di ambang kehancuran. Rumah sakit-rumah sakit tidak lagi mampu memberikan layanan dasar secara maksimal karena minimnya pasokan energi dan perlengkapan medis.
Tanpa akses bahan bakar dalam jumlah besar, layanan medis vital seperti perawatan intensif, operasi, dialisis, produksi oksigen, dan penyimpanan darah terancam berhenti total.(*)
Editor : Heri Sugiarto