Tahun ini, sebanyak 338 nominasi diterima oleh Komite Nobel, terdiri atas 244 individu dan 94 organisasi. Nama-nama kandidat akan tetap dirahasiakan selama 50 tahun, sesuai aturan lembaga tersebut.
Di antara nominasi yang terungkap, Presiden Amerika Serikat Donald Trump termasuk dalam daftar. Trump berulang kali menyatakan bahwa ia pantas menerima penghargaan itu karena mengklaim telah menghentikan beberapa konflik bersenjata. Namun, para pengamat menilai peluangnya untuk menang terbilang kecil.
Beberapa kandidat kuat lainnya termasuk Sudan’s Emergency Response Rooms, jaringan relawan yang memberikan bantuan kemanusiaan di tengah konflik, serta Committee to Protect Journalists (CPJ), organisasi internasional yang membela kebebasan pers.
Direktur Peace Research Institute Oslo (PRIO), Nina Graeger, menilai kedua organisasi tersebut memiliki peluang besar untuk meraih penghargaan bergengsi itu.
“Memberikan Nobel Perdamaian kepada inisiatif kemanusiaan seperti Emergency Response Rooms akan menyoroti pentingnya akses bantuan di masa konflik dan kekuatan warga sipil dalam melayani kemanusiaan,” ujarnya, dilansir Al Jazeera.
Graeger juga menegaskan pentingnya peran CPJ dalam melindungi jurnalis di tengah ancaman terhadap kebebasan pers global.
“Pada saat kebebasan pers menghadapi tekanan besar, penghargaan bagi CPJ akan menjadi pesan kuat bahwa perdamaian dan demokrasi terancam jika jurnalis dibungkam,” katanya.
Setiap pemenang Nobel Perdamaian 2025 akan menerima 11 juta krona Swedia (sekitar US$1,2 juta), diploma, dan medali emas yang akan diserahkan pada 10 Desember, bertepatan dengan hari wafat pendiri penghargaan ini, Alfred Nobel.
Pada 2024 lalu, Nobel Perdamaian diberikan kepada Nihon Hidankyo, organisasi penyintas bom atom dari Hiroshima dan Nagasaki yang memperjuangkan pelucutan senjata nuklir.(*)
Editor : Heri Sugiarto