Penghargaan kepada Maria Corina Machado dipandang sebagai simbol kuat perjuangan rakyat Venezuela untuk kebebasan politik dan pemilu yang transparan di tengah tekanan rezim.
Tokoh oposisi Venezuela itu saat ini hidup dalam persembunyian setelah dilarang mencalonkan diri dalam pemilu tahun lalu.
Machado mengaku “terkejut” atas penghargaan bersejarah tersebut.
Dalam video yang dikirim oleh tim medianya kepada kantor berita AFP, Machado terdengar berbicara melalui telepon dengan Edmundo González Urrutia, kandidat pengganti dirinya dalam pemilihan presiden lalu. “Aku terkejut!” kata Machado dalam rekaman itu.
“Kami juga terkejut sekaligus bahagia,” jawab González, yang telah hidup dalam pengasingan hampir satu tahun.
“Apa ini sungguhan? Aku tak percaya,” ujar Machado, 58 tahun, yang hingga kini bersembunyi di Venezuela.
Kantor Hak Asasi Manusia PBB menyatakan bahwa penghargaan ini mencerminkan “aspirasi jelas rakyat Venezuela untuk pemilu yang bebas dan adil, serta penegakan hukum dan hak sipil.”
Profil Singkat Maria Corina Machado
Maria Corina Machado lahir di Caracas, Venezuela, pada 7 Oktober 1967. Ia merupakan insinyur industri dan berasal dari keluarga pengusaha terkemuka di sektor baja.
Pada pemilihan pendahuluan oposisi 2023, Machado meraih kemenangan telak dan meraih dukungan besar masyarakat. Namun, larangan memegang jabatan publik membuatnya tidak dapat mencalonkan diri melawan Presiden Nicolas Maduro dalam pemilu 2024. Setelah itu, ia memilih bersembunyi.
Meski otoritas pemilu dan Mahkamah Agung Venezuela mengklaim Maduro menang, hasil resmi tidak pernah dipublikasikan secara rinci.
Machado sempat muncul sebentar dalam aksi protes sebelum pelantikan Maduro pada Januari 2025. Dia ditangkap, lalu dibebaskan.
Dukungan dan Tanggapan Dunia
Machado dikenal mendukung reformasi ekonomi liberal, termasuk privatisasi perusahaan minyak negara PDVSA, serta pembentukan program kesejahteraan bagi masyarakat miskin.
Tapi, sebagian besar penasihat seniornya kini ditahan atau diasingkan. Ia menuduh pemerintahan Maduro beroperasi layaknya “mafia kriminal.”
Dari Eropa, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen memuji penghargaan tersebut. “Ini bukan hanya untuk keberanian Maria, tapi juga bagi setiap suara yang menolak dibungkam. Semangat kebebasan tidak bisa dipenjara,” tulisnya di platform X.
Sementara itu, Gedung Putih justru menyayangkan keputusan Komite Nobel yang tidak memilih Presiden AS Donald Trump. Juru bicara Steven Cheung menyebut keputusan itu menempatkan politik di atas perdamaian.
“(Trump) memiliki hati seorang humanis, dan tidak akan pernah ada sosok seperti dirinya yang mampu menggerakkan dunia dengan kekuatan tekadnya,” tulis Cheung di platform X.
Machado Penuhi Tiga Kriteria Utama
Dalam pengumumannya, Komite Nobel Norwegia menegaskan bahwa Maria Corina Machado memenuhi tiga kriteria utama sebagaimana tercantum dalam wasiat pendiri penghargaan, Alfred Nobel, untuk penerima Hadiah Perdamaian.
“Komite Nobel selalu menghormati perempuan dan laki-laki pemberani yang berdiri melawan penindasan, yang membawa harapan kebebasan di dalam sel penjara, di jalanan, dan di ruang publik, serta yang menunjukkan bahwa perlawanan damai dapat mengubah dunia,” tulis pernyataan resmi komite, dilansir Al Jazeera.
Baca Juga: Fauzi Bahar Datuak Sati Dikukuhkan sebagai Penghulu Suku Koto di Koto Tangah
Komite menambahkan, selama setahun terakhir, Machado terpaksa hidup dalam persembunyian di tengah ancaman serius terhadap keselamatannya, namun tetap memilih untuk bertahan di Venezuela, langkah yang disebut telah menginspirasi jutaan warga.
“Maria Corina Machado telah menyatukan oposisi di negaranya. Ia tidak pernah goyah dalam menolak militerisasi masyarakat Venezuela dan tetap teguh mendukung transisi damai menuju demokrasi,” lanjut pernyataan itu.
Pengumuman pemenang Nobel Perdamaian 2025 berlangsung pada Jumat (10/10/2025) pukul 16:00 WIB, di Institut Nobel Norwegia, Oslo. Puncak dari rangkaian pengumuman penghargaan Nobel yang digelar pada 6–13 Oktober.(*)
Editor : Heri Sugiarto