PADEK.JAWAPOS.COM-Venezuela bisa jadi bukan korban terakhir kebijakan barbar ala Amerika Serikat (AS). Denmark kini juga mulai khawatir wilayah mereka, Greenland, bakal menjadi sasaran berikutnya.
Apalagi Presiden AS Donald Trump sudah berulang kali menyebut negaranya sangat membutuhkan Greenland yang berada di kawasan di antara antara Samudra Arktik dan Atlantik tersebut.
Seiring invasi ke Venezuela, di mana AS dengan seenak udel memasuki teritori negara lain, sorotan pun mengarah ke Greenland, wilayah otonom di bawah Denmark yang lebih dekat ke Kanada itu.
Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen secara terbuka mendesak Trump untuk berhenti mengancam.
“Sama sekali tidak masuk akal untuk membicarakan tentang perlunya Amerika mengambil alih Greenland,” katanya, seperti dikutip dari The Guardian, kemarin (5/1).
Beberapa jam kemudian, Trump kembali menegaskan betapa pentingnya Greenland, wilayah yang kaya sumber daya mineral.
“Kami butuh Greenland dari sudut pandang keamanan nasional dan Denmark tidak akan mampu melakukannya (memberikan jaminan keamanan, red),” kata Trump.
Di sisi lain, beberapa jam setelah invasi ke Venezuela yang dipuncaki penculikan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya Cilia Flores, Katie Miller, istri Stephen Miller, deputy chief of staff Trump untuk urusan kebijakan, mengunggah peta Greenland yang diselimuti bendera AS di akun X miliknya. “SOON (segera),” tulis Katie.
Mantan Presiden Ekuador Rafael Correa termasuk pihak yang mengutuk tindakan AS.
Selain menyebut agresi ke Venezuela sebagai tindakan barbar yang melanggar hukum internasional, Correa yang berlatar belakang ekonom juga menyebut serangan itu terkait dengan penguasaan minyak mentah Venezuela.
“Motivasi sebenarnya adalah kepentingan terhadap minyak Venezuela, seperti yang secara eksplisit dikatakan Trump,” katanya, seperti dikutip dari teleSUR, media yang berbasis di Caracas, Venezuela.
Presiden Amerika Donald Trump awalnya tidak mau menyatakan secara jelas bahwa negaranya akan menguasai Venezuela.
Dia menyebut akan bekerja sama dengan Penjabat Presiden Venezuela Delcy Rodriguez. Namun, dia akhirnya bicara ketika didesak wartawan. “Artinya kami (Amerika) yang berkuasa,” kata Trump, seperti dikutip dari AFP.
Rodriguez memilih melunak. Dia menawari Trump hubungan internasional yang berimbang dan saling menghormati.
“Presiden Donald Trump, rakyat dan kawasan kami berhak atas perdamaian dan dialog, bukan perang. Itu sikap Presiden Nicolas Maduro dan begitu pula yang diinginkan seluruh warga Venezuela saat ini,” kata Rodriguez dalam pernyataan resminya.
Dampak Geopolitik
Correa memperingatkan dampak geopolitik berbahaya dari contoh buruk yang diperlihatkan Trump. Sebelumnya, Trump juga menyebut akan menjatuhkan Presiden Kolombia Gustavo Petro.
“Dua kejadian itu menyiratkan bahwa penguasa mana pun yang tidak tunduk kepada Washington dapat bernasib serupa Nicolas Maduro,” kata Correa.
Maduro saat ini telah ditahan di New York dan akan diadili di kota yang berjuluk Si Apel Besar tersebut.
Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez pun memperingatkan Amerika Latin dan Karibia akan menghadapi tantangan serta ancaman nyata menyusul serangan militer AS ke Venezuela.
Dia menganggap tindakan Amerika tersebut sebagai ancaman eksistensial yang bersifat historis dan lintas sektoral terhadap semua garis politik dan ideologis.
“Semua negara harus mengesampingkan perbedaan mereka untuk bersama-sama membela kemerdekaan dan kedaulatan negara-negara di kawasan dalam menghadapi ancaman ini,” ujarnya.
Terpisah, Kementerian Luar Negeri RI (Kemenlu) bersama KBRI Caracas menegaskan telah menyiapkan contingency plan atau rencana darurat terkait situasi keamanan di Venezuela.
Mitigasi risiko ini mencakup evakuasi hingga langkah-langkah strategis lainnya. Langkah tersebut akan diterapkan apabila eskalasi terus meningkat.
“Contingency plan akan diberlakukan sekiranya dibutuhkan sesuai dengan perkembangan situasi terkini serta mengimbau WNI (warga negara Indonesia) untuk terus siaga,” ujar Juru Bicara Kemenlu Yvonne Mewengkang di Jakarta, kemarin (5/1).
Saat ini terdapat 37 WNI di Venezuela. KBRI Caracas memastikan mereka dalam keadaan aman dan tetap dapat berkomunikasi dengan tim perwakilan di sana.
Sementara itu, berdasarkan pantauan langsung KBRI Caracas per 5 Januari 2026, situasi keamanan dan aktivitas sosial di sana mulai kondusif serta menunjukkan peningkatan. Pasar swalayan telah beroperasi kembali dan tidak ada fenomena panic buying di tengah warga.
Stasiun pengisian bahan bakar juga telah dibuka. “Mobilitas kendaraan di jalan-jalan utama mulai terlihat normal,” ungkapnya.
Kendati begitu, masih terdapat gangguan jaringan komunikasi oleh penyedia layanan nasional di wilayah Caracas, termasuk pemadaman listrik di salah satu kawasan ibu kota Venezuela tersebut. (mia/lyn/ttg/jpg)
Editor : Novitri Selvia