Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Iran Klaim Tangkap Agen Mossad di Balik Demonstrasi, Muncul Pengakuan Demonstran Bersenjata

Novitri Selvia • Selasa, 13 Januari 2026 | 11:41 WIB

Presiden Donald Trump mengumumkan tersangka penembak Charlie Kirk ditangkap, dan menyerukan hukuman mati bagi pelaku jika terbukti bersalah. (Foto: Fox News)
Presiden Donald Trump mengumumkan tersangka penembak Charlie Kirk ditangkap, dan menyerukan hukuman mati bagi pelaku jika terbukti bersalah. (Foto: Fox News)

PADEK.JAWAPOS.COM-Pria itu mengaku diminta memilih pistol atau senapan Kalashnikov. Setelah pilihan dijatuhkan kepada pistol, dia lantas diminta untuk latihan menembak.

“Saat demonstrasi, kamu harus menembak kepala orang, bukan pintu atau tembok,” kata pria yang diidentifikasi sebagai demonstran bayaran dari kubu Reza Pahlavi anak mendiang Shah Iran yang digulingkan dalam Revolusi Islam 1979, yang kini tinggal di Amerika Serikat (AS).

Pengakuan pria tersebut diunggah akun X Iran Military Monitor. Wajah pria tersebut ditutupi. Belum ada pernyataan resmi dari Teheran terkait pengakuan pria yang tak disebutkan identitas lengkapnya tersebut.

Namun, pengakuannya sejalan dengan tudingan Teheran. Mereka menuding AS dan Israel berada di balik demonstrasi sejak akhir tahun lalu yang dikabarkan telah menewaskan ratusan orang, baik demonstran maupun aparat.

Garda Revolusi Islam, pasukan elite Angkatan Bersenjata Iran, juga mengumumkan telah menangkap dua orang di Provinsi Khorasan Utara.

Keduanya, seperti dilansir kantor berita Rusia TASS yang mengutip kantor berita Tasnim, diduga kuat terkait dengan Mossad badan intelijen Israel.

“Kedua orang itu memainkan peran penting dalam mengorganisasi demonstrasi massal,” kata sebuah sumber di Garda Revolusi Islam kepada Tasnim.

Bersamaan dengan ditangkapnya kedua orang itu, disita pula barang bukti berupa senjata api buatan asing beserta amunisi dan peralatan komunikasi.

Mengutip teleSUR, bukti lain berupa berbagai jejak transfer keuangan yang mengarah ke rekening-rekening bank di negara-negara Barat.

Demonstrasi massal di Iran bermula pada 28 Desember tahun lalu buntut anjloknya mata uang rial Iran.

Hingga kemarin, pemerintah Iran menyebut korban tewas mencapai 38 orang, meskipun Center for Human Rights (CHRI) yang berbasis di AS menyatakan jumlah korban mencapai ratusan.

Dari Washington DC, AS, Presiden Donald Trump mengklaim Teheran mengajaknya bernegosiasi.

“Para pemimpin Iran menelepon,” kata Trump saat akan menaiki Air Force One sebagaimana dilansir AFP. “Pertemuan tengah diatur. Mereka ingin bernegosiasi.”

Namun, lanjut Trump, ajakan itu tak menghilangkan opsi serangan militer. “Tak menutup kemungkinan kami akan mengambil tindakan sebelum pertemuan berlangsung,” tambah Trump.

Sementara itu, jurnalis AFP di Teheran menyatakan, ibu kota Iran tersebut nyaris lumpuh. Harga daging melonjak hampir dua kali lipat sejak awal demonstrasi dan banyak toko tutup. Yang masih buka pun harus tutup sekitar pukul 16.00 atau 17.00.

Namun, di sisi lain, banyak warga Iran mengikuti anjuran Presiden Masoud Pezeshkian turun ke jalan kemarin untuk bergabung dalam “aksi perlawanan nasional.” TeleSUR melaporkan, jutaan warga lintas provinsi mengikuti aksi tersebut.

Mereka memberikan penghormatan kepada para korban, baik demonstran maupun aparat. Dengan pakaian serba hitam, dari Qom ke Shiraz, dari Hamadan ke Mashhad, mereka meneriakkan, “Matilah Amerika!” (ttg/jpg)

Editor : Novitri Selvia
#Teheran #agen Mossad #Reza Pahlavi #iran