PADEK.JAWAPOS.COM-Kementerian Kehakiman Amerika Serikat (AS) memiliki enam juta dokumen terkait pelaku kejahatan seksual Jeffrey Epstein. Dari jumlah tersebut, baru 3.500.000 dokumen yang dilepas ke publik.
Itu pun langsung memicu kegemparan seiring terungkapnya begitu banyak nama terkenal dari lintas bidang yang memiliki koneksi dengan Epstein, yang meninggal di selnya pada 2019. Tak ubahnya kotak Pandora.
Tentu tidak semua pihak yang terkoneksi dengan Epstein terkait dengan kejahatan yang ia lakukan. Namun, banyak di antaranya terbukti berbohong.
Howard Lutnick, menteri perdagangan AS di bawah Presiden Donald Trump saat ini, salah satunya. Ia mengaku bahwa dirinya dan sang istri sudah tidak lagi berhubungan dengan Epstein sejak 2005.
Namun, dari dokumen yang dirilis Kementerian Kehakiman, ia pernah mengundang pedofil tersebut ke acara penggalangan dana Hillary Clinton pada 2015.
Mengutip USA Today, Lutnick mengundang Epstein untuk menghadiri “penggalangan dana yang intim dengan Hillary Clinton” yang diadakan oleh firma keuangan Cantor Fitzgerald yang dipimpinnya.
Email tersebut dikirim ke sekretaris Epstein dan diteruskan kepada financier kaya raya itu pada 3 November 2015. Tidak diketahui apakah Epstein menghadiri penggalangan dana tersebut atau tidak.
Yang jelas, ia tidak menyumbang dana kampanye Pemilihan Presiden AS 2016 untuk Hillary Clinton, menurut data Komisi Pemilihan Federal.
Undangan tersebut dikirim Lutnick saat Epstein telah berstatus sebagai terpidana pelaku kejahatan seksual.
Pada 2008, Epstein mengaku bersalah di pengadilan Negara Bagian Florida atas dakwaan memperdagangkan anak di bawah umur untuk prostitusi dan meminta jasa prostitusi.
Juru bicara Departemen Perdagangan AS menyatakan, bahwa Lutnick hanya memiliki interaksi terbatas dengan Epstein. Ia juga selalu mengajak istrinya ketika bertemu Epstein.
Selain Lutnick, dokumen terbaru juga menyoroti hubungan dekat antara Epstein dan Noam Chomsky, akademisi dan linguis ternama sekaligus penulis sejumlah buku berpengaruh.
Rangkaian email menunjukkan bahwa Chomsky dan Epstein menjalin hubungan personal dan profesional selama bertahun-tahun, termasuk perencanaan pertemuan sosial, diskusi keuangan, hingga komunikasi bernada akrab.
Dikutip dari The Guardian, email lain mengungkap, bahwa Epstein menghubungkan penulis buku Who Rules the World itu dengan sejumlah tokoh berpengaruh, termasuk mantan kepala strategi Gedung Putih pada periode pertama Trump, Steve Bannon.
Chomsky juga tercatat beberapa kali meminta saran Epstein terkait urusan keuangan dan sengketa keluarga. Baik Chomsky maupun istrinya, Valeria, belum memberikan tanggapan.
Sementara itu, Kepolisian Metropolitan London menyelidiki tuduhan bahwa mantan duta besar Inggris untuk AS Peter Mandelson membocorkan email dari kantor Perdana Menteri Inggris serta informasi pasar yang sensitif kepada Epstein.
Para detektif akan mewawancarainya dan meminta akses ke seluruh gawai milik Mandelson.
“Setelah dirilisnya jutaan dokumen pengadilan terkait Jeffrey Epstein oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat, Met (Kepolisian Metropolitan London) menerima sejumlah laporan tentang dugaan pelanggaran dalam jabatan publik, termasuk rujukan dari pemerintah Inggris,” kata Komandan Kepolisian Metropolitan London Ella Marriott. (lyn/ttg/jpg)
Editor : Novitri Selvia