Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Email Epstein Singgung Bill Gates, Dokumen AS Seret Nama Elon Musk hingga Tekanan Politik Inggris

Novitri Selvia • Jumat, 6 Februari 2026 | 10:43 WIB

PETER MANDELSON
PETER MANDELSON

PADEK.JAWAPOS.COM-Dua email itu ditulis pada 18 Juli 2013. Namun, belum jelas apakah email tersebut pernah dikirim oleh Jeffrey Epstein kepada bos Microsoft Bill Gates.

Yang jelas, seperti dikutip dari BBC kemarin (5/2), salah satu email tersebut berisi tentang pengunduran dirinya dari Yayasan Bill dan Melinda Gates.

Dalam email yang sama, Epstein, yang meninggal pada 2019 di sel penjaranya di New York jelang persidangan kasus kejahatan seksual, prostitusi, dan perdagangan manusia, juga mengeluh.

“Saya harus terus mencarikan obat akibat konsekuensi (Bill Gates) berhubungan seksual dengan gadis Rusia,” tulisnya.

Dua email itu adalah bagian dari dokumen yang dimiliki oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat terkait Epstein. Epstein Files berjumlah 6 juta dokumen, dan baru 3,5 juta dokumen saja yang sudah dirilis.

Banyak sekali nama-nama besar lintas bidang yang termaktub dalam dokumen tersebut, termasuk sejumlah nama dari Indonesia.

Rilis dokumen Epstein dilakukan beberapa minggu setelah tenggat Undang-Undang Transparansi Berkas Epstein yang disahkan pada November lalu.

Undang-undang tersebut mewajibkan pemerintah Amerika Serikat untuk membuka seluruh dokumen terkait financier kaya raya tersebut kepada publik.

Salah satu nama yang disebut adalah triliuner teknologi, Elon Musk. Dokumen tersebut memuat email antara Musk dan Epstein yang membahas rencana perjalanan dan pesta.

Namun, Musk membantah kalau dia pernah mengunjungi pulau pribadi Epstein. “Email tersebut bisa dimanfaatkan untuk mencemarkan nama saya,” tulis Musk dalam akun X-nya pada Januari lalu, seperti dikutip BBC.

Yang tercantum di email tersebut tentang upaya menutupi penyakit seksual menular yang dialaminya juga dibantah juru bicara Bill Gates.

Di sisi lain, mantan istri Bill, Melinda French Gates, mengatakan bahwa rilis dokumen itu mengingatkannya pada masa sulit dalam pernikahan mereka.

“Empati saya untuk para korban dan berharap ada keadilan bagi para perempuan yang terdampak,” kata Melinda dalam wawancara dengan NPR.

Tekanan Politik

Sementara itu, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menghadapi tekanan politik pasca komentarnya kepada mantan Duta Besar Inggris di AS, Peter Mandelson, yang namanya tersebut di dalam dokumen Epstein.

The Guardian menyebut ada anggota parlemen dari Partai Buruh yang memperingatkan bahwa posisi Starmer tinggal menghitung hari.

Kemarahan parlemen Inggris terjadi ketika Starmer menunjuk Mandelson sebagai duta besar Inggris untuk AS.

Sejumlah anggota parlemen menilai keputusan politikus Partai Buruh itu mencederai kepercayaan publik karena hubungan Mandelson dengan Epstein.

Ketegangan memuncak di House of Commons pada Rabu (4/2) ketika pemerintah nyaris kalah suara atas mosi yang menuntut pembukaan dokumen penunjukan Mandelson.

Kekalahan berhasil dihindari setelah Meg Hillier dan Angela Rayner mengajukan amandemen yang mewajibkan rilis dokumen tersebut melalui mekanisme komite parlemen.

Situasi politik semakin memburuk setelah Starmer mengakui telah mengetahui hubungan Mandelson dengan Epstein sebelum penunjukan dilakukan.

Pengakuan itu memicu reaksi keras dari sejumlah anggota Partai Buruh yang menyebut kepercayaan terhadap perdana menteri mulai terkikis. (lyn/ttg/jpg)

Editor : Novitri Selvia
#bill gates #dokumen epstein #elon musk #Melinda French Gates #Keir Starmer #prostitusi