PADEK.JAWAPOS.COM-Salah satu “kuncian” Iran adalah Selat Hormuz. Jika Amerika Serikat benar-benar menyerang, mereka akan menutup selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut.
Dan, itu berarti, mengutip Al Jazeera, terhentinya distribusi sekitar 20 juta barel minyak per hari dengan nilai nominal USD 500 miliar (sekitar Rp 8,4 triliun) per tahun.
Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melalui selat yang titik tersempitnya sekitar 33 kilometer tersebut.
Sekitar 84 persen aliran minyak mentah dan 83 persen pengiriman gas alam cair menuju pasar Asia, termasuk Tiongkok, India, Jepang, dan Korea Selatan, melalui selat tersebut. Iran pun sudah berlatih menerapkan penutupan itu.
Pada latihan militer pasukan elite mereka, Garda Revolusi, pada 16–17 Februari lalu, Iran menutup pelayaran dan wilayah udara Selat Hormuz pada hari kedua latihan.
Foto resmi Garda Revolusi menunjukkan bagaimana perahu-perahu bermanuver di sekitar tanker. Araghchi menekankan, latihan itu sebagai upaya pertahanan dan peringatan agar konsekuensi ekonomi dapat dihindari.
Pakar energi Colby Connelly memperingatkan dampak ketegangan di selat sempit sepanjang 50 kilometer tersebut.
“Penutupan penuh atau signifikan Selat Hormuz akan memiliki dampak besar pada harga minyak. Saat ini, tidak ada sumber alternatif yang dapat menggantikan pasokan dari Teluk Persia secara cepat, apalagi 70 persen kapasitas cadangan OPEC+ berada di kawasan itu,” katanya.
Karena pasokan energi terganggu akibat gangguan di Selat Hormuz sebagai dampak eskalasi militer, ekonomi global pasti terdampak.
Samuel Ramani dari Royal United Services Institute mengatakan, kenaikan harga energi akan meningkatkan biaya produksi dan inflasi di seluruh dunia, termasuk Tiongkok hingga kawasan Teluk.
Hampir separuh impor minyak mentah India dan sekitar 60 persen pasokan gas alamnya melewati Selat Hormuz.
Korea Selatan juga memperoleh sekitar 60 persen minyak mentahnya melalui jalur yang sama. Sementara Jepang bergantung pada selat ini untuk hampir tiga perempat impor minyaknya.
Siap dengan Kemungkinan Terburuk
Sementara itu, Iran dan AS dijadwalkan melanjutkan negosiasi terkait program nuklir di Jenewa, Swiss, Kamis (26/2) lusa.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa para negosiator bakal berusaha agar bisa cepat mencapai kesepakatan.
“Beberapa elemen dari kesepakatan baru dapat menjadi perbaikan dari perjanjian sebelumnya, namun akan berkomitmen agar program nuklir Iran berlangsung damai selamanya,” kata Araghchi seperti dikutip dari The Guardian.
Iran optimistis negosiasi tersebut akan membuahkan hasil. Namun, seandainya tidak, Iran siap dengan kemungkinan terburuk: berperang dengan AS.
AS saat ini sudah memobilisasi 40 ribu personel militer ke Timur Tengah. Ada dua kapal induk bertenaga nuklir, USS Gerald R. Ford dan USS Abraham Lincoln, yang dilibatkan.
Juga tujuh skuadron udara dengan total 70 jet tempur yang telah bersiaga. Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan, tengah mempertimbangkan untuk melakukan serangan terbatas ke Iran.
Ketegangan Domestik
Iran tetap menegaskan haknya untuk memperkaya uranium demi tujuan damai dengan pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Sebagai imbalan, Teheran bersedia mengurangi persediaan uranium yang sangat diperkaya dan membuka akses penuh ke situs nuklir yang pernah dibom.
Ketegangan domestik juga membayangi Iran berupa demonstrasi mahasiswa di Teheran dan Mashhad yang berlanjut untuk hari kedua kemarin.
Para pejabat AS juga menilai, tokoh konservatif Iran seperti Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan Presiden Masoud Pezeshkian semakin terpinggirkan perannya. Araghchi dan Ketua Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Ali Larijani memimpin strategi diplomatik.
Kesepakatan baru dipandang sebagai kesempatan untuk membatasi program nuklir Iran lebih ketat daripada perjanjian 2015, namun tetap memungkinkan Iran mempertahankan hak nuklir untuk tujuan damai. (lyn/ttg/jpg)
Editor : Novitri Selvia