Presiden Donald Trump menyampaikan bahwa operasi tempur utama ini bertujuan melumpuhkan kekuatan militer Teheran dan mengeliminasi ancaman pengembangan senjata nuklir yang selama ini menjadi kekhawatiran global.
Serangan udara yang dimulai sejak Sabtu pagi tersebut dilaporkan menghantam berbagai titik strategis, termasuk instalasi militer, simbol pemerintahan, dan pusat intelijen.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan bahwa langkah ini diambil guna menyingkirkan ancaman permanen dari Iran.
Salah satu titik ledakan utama dilaporkan berada di dekat kantor Pemimpin Agung Ayatollah Ali Khamenei, yang keberadaannya hingga kini masih misterius.
Namun, operasi ini membawa dampak tragis bagi warga sipil.
Laporan dari kantor berita resmi Iran, IRNA, menyebutkan setidaknya 57 orang tewas dan 45 lainnya luka-luka akibat serangan yang mengenai sebuah sekolah anak perempuan di Iran Selatan.
Sementara itu, serpihan rudal di ibu kota Uni Emirat Arab juga dilaporkan merenggut satu nyawa.
Merespons agresi tersebut, Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan komitmennya untuk membela kedaulatan negara.
Garda Revolusi Iran langsung memobilisasi serangan balasan menggunakan drone dan rudal yang diarahkan ke wilayah Israel serta instalasi militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Laporan lapangan menunjukkan sirene bahaya berbunyi di Bahrain, Kuwait, dan Qatar. Markas besar Armada ke-5 Angkatan Laut AS di Bahrain serta Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar menjadi target utama rudal Iran.
Meski demikian, militer Israel melalui Letkol Nadav Shoshani menyatakan belum ada laporan mengenai kerusakan atau korban jiwa akibat rentetan rudal balasan tersebut.
Dalam sebuah pernyataan video berdurasi delapan menit, Presiden Donald Trump mengungkapkan bahwa keterlibatan militer AS didasari oleh akumulasi ketegangan yang terjadi sejak revolusi 1979. Trump menyuarakan rasa frustrasinya atas kegagalan negosiasi nuklir di Jenewa sebelumnya.
"Setelah kami selesai, ambil alih pemerintahan kalian," ujar Trump dalam pesan yang ditujukan kepada rakyat Iran, mendesak mereka untuk menggulingkan kepemimpinan Islam saat ini sebagai kesempatan langka bagi generasi mendatang.
Kekuatan militer yang dikerahkan AS mencakup armada tempur raksasa, termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R Ford yang kini bersiaga di Laut Mediterania.
Penambahan kekuatan ini melibatkan lebih dari 10.000 personel tambahan di kawasan tersebut.
Dampak langsung dari pertempuran ini dirasakan pada sektor transportasi udara. Ruang udara Israel, Uni Emirat Arab, Irak, dan Qatar resmi ditutup.
Maskapai besar seperti Emirates, Etihad, Qatar Airways, hingga Turkish Airlines terpaksa membatalkan atau mengalihkan penerbangan mereka, yang berdampak pada rute internasional menuju Dubai, Doha, hingga India. (cc1)
Editor : Hendra Efison