PADEK.JAWAPOS.COM-KETIKA Iran mengatakan telah mempelajari dengan detail selama bertahun-tahun kekuatan dan cara mereka melakukan penyerangan, Amerika Serikat (AS) rupanya menganggap enteng.
Negeri yang dulu bernama Persia itu dianggap seperti Venezuela yang bahkan tak ada perlawanan ketika presidennya diculik.
Tapi, kenyataan di lapangan menampar keras AS, juga Israel. Sejak pertama diserang pada 28 Februari lalu sampai dengan kemarin (11/3), Iran tak hanya bisa bertahan. Serangan baliknya membuat AS dan Israel kocar-kacir.
Pangkalan militer dan kedutaan besar AS di kawasan Teluk rutin jadi sasaran tembak drone Iran.
Misil dari Teheran juga membobol Iron Dome, sistem perlindungan udara Israel yang terkenal itu, dan membuat warga Negeri Yahudi tersebut belakangan harus kerap menjalani hari-hari di dalam bunker.
Ketangguhan itu bermula ketika AS menyerbu Irak pada 2003 dan menjatuhkan rezim Saddam Hussein yang tersentralisasi hanya dalam waktu tiga pekan.
Dari seberang perbatasan, Mayjen Mohammad Ali Jafari yang mengomandoi Pusat Studi Strategis IRGC (Garda Revolusi Iran) lalu menghabiskan empat tahun mendesain arsitektur kemiliteran dengan tujuan menghindarkan negaranya dari nasib serupa.
Jafari mungkin sudah merasa, Saddam yang merupakan sekutu AS saat Perang Iran–Irak saja diperlakukan seperti itu, apalagi Iran yang sejak Revolusi Islam 1979 selalu berseberangan dengan Negeri Paman Sam tersebut.
Karena itu, begitu ditunjuk sebagai komandan IRGC pada September 2007, Jafari langsung merestrukturisasi militer Iran.
“Dia membagi tongkat komando ke 31 provinsi, masing-masing satu komando di tiap provinsi,” tulis Shanaka Anslem Perera, seorang analis militer independen dan penulis buku “The Ascent Begins: The World Beyond Empire”, di akun X pribadinya.
Masing-masing rantai komando itu, lanjut Perera, dilengkapi markas, pusat kontrol dan komando, persenjataan misil serta drone, kapal cepat, milisi Basij yang terintegrasi, otoritas melepaskan tembakan misil atau drone, dan stok amunisi.
Distribusi komando itu dimatangkan dengan tujuan: jika sewaktu-waktu AS atau Israel membunuh Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, Iran tak langsung jatuh.
Sebab, ada banyak “pusat”, tak seperti Saddam yang memusatkan kekuasaan dan kekuatan dalam genggamannya.
Ketika kemudian AS-Israel benar-benar menewaskan Khamenei, sistem komando di 31 provinsi itu langsung bergerak.
Dan, tak ada yang bisa menghentikan. Karena itu, Iran secara konsisten bisa menyerang begitu banyak target di kawasan Teluk. “Penyebabnya adalah konstitusi,” tulis Perera.
Pasal 110 dalam Konstitusi 1979 Iran menyebutkan, panglima tertinggi semua angkatan berada di tangan Pemimpin Tertinggi.
Semua lembaga tinggi negara, mulai presiden, parlemen, Dewan Pengawal, sampai Mahkamah Agung, tak punya kekuatan konstitusional membatalkan apa yang sudah diputuskan sang Ayatollah.
Ketika Khamenei meninggal, wewenang itu turut pergi bersamanya. Ayatollah baru yang juga anaknya, Mojtaba, belum mengeluarkan perintah apa pun.
Jadi, komando di 31 provinsi tadi terus berjuang seperti perintah tertulis terakhir Khamenei: berjuanglah secara independen, dengan apa saja yang kamu punya, sepanjang waktu yang dibutuhkan, tanpa harus menunggu perintah yang mungkin tak akan datang.
“Komando di semua provinsi itu bukan tidak patuh, justru mereka patuh perintah,” kata Perera.
Sistem yang dirancang Jafari memang tidak dirancang untuk menang. Tapi, didesain untuk membuat kalah menjadi tidak mungkin. Dan, bukankah itu yang membuat AS dan Israel kelimpungan sekarang? (ttg/jpg)
Editor : Novitri Selvia