Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Iran Sebut Klaim Negosiasi Trump Hoax, Diduga untuk Manipulasi Pasar

Novitri Selvia • Rabu, 25 Maret 2026 | 11:31 WIB

TAK BERNEGOSIASI: Langit diterangi cahaya saat sebuah rudal Iran mendarat di Israel, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, seperti yang terlihat dari Tel Aviv, Israel, 12 Maret 2026.
TAK BERNEGOSIASI: Langit diterangi cahaya saat sebuah rudal Iran mendarat di Israel, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, seperti yang terlihat dari Tel Aviv, Israel, 12 Maret 2026.

PADEK.JAWAPOS.COM-Sudah berkali-kali klaim Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait perang melawan Iran dibantah kenyataan di lapangan dan argumen dari Teheran.

Termasuk pernyataan terbaru yang menyebut sudah ada pembicaraan produktif dengan negeri yang dulu bernama Persia tersebut.

Teheran menegaskan tidak pernah ada negosiasi dengan Washington DC, sekaligus menyiratkan posisi mereka yang tetap solid menghadapi tekanan militer AS-Israel.

Dalam unggahan di Truth Social, Trump sebelumnya mengklaim bahwa AS dan Iran telah melakukan percakapan yang sangat baik dan produktif selama dua hari terakhir untuk mengakhiri konflik militer.

Trump, seperti dikutip dari Axios, mengaku telah memerintahkan penundaan serangan militer terhadap infrastruktur energi sang lawan selama lima hari, dengan syarat pembicaraan berlanjut.

Namun, pernyataan itu segera dibantah keras Iran. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf. “Tidak ada negosiasi yang telah dilakukan dengan Amerika,” tulis Ghalibaf di media sosialnya seperti dikutip dari Al Jazeera.

Dia bahkan menyebut, klaim tersebut sebagai hoax atau kabar palsu yang diduga digunakan untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak.

Senada, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei juga menegaskan bahwa tidak pernah ada diskusi langsung dengan Washington.

Ia menyebut, justru ada pesan dari sejumlah negara sahabat terkait permintaan AS untuk membuka negosiasi.

Kenyataan di lapangan juga memperlihatkan, kedua pihak masih balas membalas serangan memasuki pekan keempat sejak AS-Israel menyerang Iran pada 28 Februari lalu.

Militer Israel dilaporkan kembali melancarkan serangan ke Teheran pada Senin (23/3) waktu setempat. Di sisi lain, Iran terus menunjukkan daya tahan militernya.

Serangan balasan berupa rudal dan drone terus dilancarkan ke berbagai titik di Timur Tengah.

Bahkan, Iran disebut-sebut telah menutup secara efektif Selat Hormuz yang merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.

Kepada Kantor Berita Tasnim, sebuah sumber di militer Iran juga menyebut kalau negeri tetangga Irak itu tengah menyiapkan kejutan.

“Iran telah merencanakan kejutan baru yang dapat menimbulkan dampak sangat besar dalam perang ini,” ujar sumber tersebut.

Sumber itu juga menilai, langkah Trump menunda serangan menunjukkan kebuntuan strategi militer AS. Bahkan, dia menyebut, seluruh opsi militer Washington sejauh ini gagal.

“Trump tahu, tidak ada harapan untuk meraih kemenangan militer, termasuk membuka Selat Hormuz dengan kekuatan militer,” katanya.

Menurutnya, kondisi amunisi AS sudah lemah. Akibatnya, Washington mulai mengandalkan narasi di ruang publik ketimbang kekuatan di lapangan. (lyn/ttg/jpg)

Editor : Novitri Selvia
#perang timur tengah #donald trump #Mohammad Bagher Ghalibaf #selat hormuz